Studi: Chatbot AI Bisa Salah Diagnosis Awal hingga 80%, Jangan Asal Percaya!

Wildan Nur Alif Kurniawan . April 17, 2026


Foto: SinarTeknologiIndonesia

Teknologi.id - Penggunaan chatbot kecerdasan buatan (AI) untuk mendiagnosis penyakit secara mandiri berisiko tinggi. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open mengungkap bahwa model AI saat ini memiliki tingkat kesalahan lebih dari 80 persen pada tahap diagnosis awal.

Peringatan Tren Swadiagnosis

Temuan ini menjadi peringatan terhadap tren swadiagnosis (self-diagnosis) menggunakan AI tanpa pengawasan tenaga medis profesional. Seiring meningkatnya penggunaan chatbot seperti ChatGPT untuk mencari informasi kesehatan, para peneliti menilai masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menafsirkan hasil yang diberikan sistem tersebut.

Baca juga: Mengenal Istilah Penting dalam Artificial Intelligence yang Wajib Diketahui

Perbedaan Performa Diagnosis


Foto: OpenXCell

Riset yang dipimpin oleh Arya Rao dari Universitas Harvard ini menguji 21 model AI dalam 29 skenario medis. Hasilnya menunjukkan perbedaan performa yang jelas antara tahap awal dan akhir proses diagnosis.

AI mencapai akurasi hingga 91 persen saat menentukan diagnosis akhir, dengan catatan seluruh data medis pasien tersedia secara lengkap. Namun, pada tahap awal diagnosis—ketika dokter biasanya menyusun berbagai kemungkinan penyakit (differential diagnosis)—sebagian besar model justru gagal memberikan analisis yang tepat.

“Setiap model yang kami uji gagal dalam sebagian besar kasus,” ungkap Rao, dikutip dari The Register, Kamis (16/4/2026).Kepercayaan Diri Tanpa Dasar Klinis

Ahli radiologi dari Massachusetts General Hospital, Marc Succi, menjelaskan bahwa model AI cenderung terlihat percaya diri saat memberikan jawaban, meskipun tidak didukung oleh penalaran medis yang kuat. Hal ini berpotensi memengaruhi keputusan pasien atau memicu kecemasan yang tidak perlu.

Peneliti juga mencatat bahwa AI tidak selalu keliru. Dalam sejumlah kasus, chatbot mampu memberikan jawaban yang sebagian benar dengan tingkat akurasi berkisar antara 63 hingga 78 persen. Meski demikian, angka tersebut dinilai belum cukup aman untuk dijadikan dasar diagnosis mandiri tanpa verifikasi tenaga medis.

Baca juga: Kawan atau Lawan? Dilema AI dalam Pertahanan Siber Indonesia Mulai Terlihat

Risiko Nyata bagi Pasien

Para peneliti menegaskan bahwa AI tidak seharusnya dijadikan rujukan pertama dalam menentukan penyakit. Penggunaan tanpa pengawasan profesional berisiko menimbulkan rasa percaya diri yang keliru terhadap hasil diagnosis yang diberikan mesin.

Kesalahan pada tahap awal diagnosis dapat berdampak serius, mulai dari keterlambatan penanganan penyakit, tindakan medis yang tidak diperlukan, hingga meningkatnya biaya pengobatan. Oleh karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung informasi, bukan sebagai pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News




(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar