
Foto: CNN
Teknologi.id – Eksplorasi gunung berapi aktif adalah salah satu pekerjaan paling berbahaya di muka bumi. Namun, di Gunung Etna, Italia—salah satu gunung berapi paling aktif dan gejolaknya paling sulit ditebak di dunia—tugas mematikan yang biasanya diemban oleh manusia ini kini mulai diambil alih oleh mesin cerdas.
Sebuah tim peneliti internasional dari Jerman, Inggris, dan Italia baru saja mengumumkan keberhasilan uji coba lapangan terhadap unit robot berkaki empat (quadruped) yang dimodifikasi khusus. Robot yang dijuluki sebagai "Anjing Vulkanolog" ini sukses mendaki hingga ke bibir kawah aktif Etna di ketinggian 3.300 meter, sebuah zona merah yang sangat berisiko bagi nyawa manusia.
Mengapa Harus Robot Anjing?

Foto: Facebook/Jelajah Bumi
Selama ini, pemantauan gunung berapi mengandalkan drone (terbang) atau rover (beroda). Namun, keduanya punya kelemahan. Drone sulit terbang stabil di tengah turbulensi udara panas kawah, sementara rover beroda sering tersangkut di medan bebatuan vulkanik yang tajam dan tidak rata.
Di sinilah keunggulan robot berkaki empat. Dengan meniru biomekanik hewan, robot ini memiliki kelincahan luar biasa.
Keseimbangan Adaptif: Kaki-kaki mekanisnya dikendalikan oleh AI yang mampu menyeimbangkan diri secara real-time saat memanjat tumpukan batu lahar yang gembur atau licin.
Ketahanan Ekstrem: Tubuh robot ini telah dilapisi material pelindung panas khusus untuk menahan suhu tanah di sekitar kawah yang bisa melelehkan sol sepatu bot pendaki biasa.
Baca juga: DELL-E: Robot Pengantar Paket BRIN yang Bisa Masuk Area Terlarang!
Misi Utama: "Mencium" Gas Beracun
Misi robot ini bukan sekadar jalan-jalan, melainkan membawa muatan ilmiah yang krusial. Punggung robot ini dipasangi serangkaian sensor canggih, termasuk spektrometer massa dan "Hidung Elektronik".
Tujuannya adalah untuk menganalisis gas vulkanik secara close-up. Sebelum gunung meletus, komposisi gas yang keluar dari perut bumi (seperti perbandingan Sulfur Dioksida dan Karbon Dioksida) biasanya berubah drastis.
Data Real-Time: Robot ini mampu menghirup sampel udara tepat di sumber keluarnya gas (fumarol) dan mengirimkan data analisis ke tim ilmuwan di jarak aman dalam hitungan detik.
Presisi Tinggi: Data yang diambil dari jarak dekat ini jauh lebih akurat dibandingkan data satelit, memungkinkan algoritma prediksi letusan bekerja lebih presisi.
Baca juga: Robot GrowHR: Humanoid Lunak yang Bisa Menyusut, Berenang, dan Jalan di Atas Air
Harapan Baru Mitigasi Bencana
Keberhasilan uji coba di Etna pada Februari 2026 ini menjadi tonggak sejarah baru. Para ahli vulkanologi kini memiliki "mata dan hidung" baru yang bisa dikirim ke tempat yang mustahil dijangkau manusia.
Profesor yang memimpin proyek ini menyatakan bahwa tujuan akhirnya adalah menyelamatkan nyawa. Dengan prediksi yang lebih cepat dan akurat, peringatan dini evakuasi bagi penduduk di kaki gunung bisa dikeluarkan lebih awal. Ke depan, teknologi ini diharapkan bisa diadopsi untuk memantau gunung-gunung api berbahaya di Cincin Api Pasifik, termasuk di Indonesia seperti Gunung Merapi atau Semeru.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar