
Transformasi digital di sektor keuangan bukan sekadar menghadirkan aplikasi baru atau mempercepat transaksi. Perubahan yang lebih mendasar justru terjadi di balik layar, ketika sistem inti, data keuangan, dan manajemen risiko mulai terhubung untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan terukur.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari transformasi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank. Pada 2025, lembaga pembiayaan ekspor milik negara ini menyelesaikan pembaruan core banking system beserta aplikasi pendukungnya.
Perkembangan itu diungkapkan Anwar Harsono, yang dikenal sebagai Chief Financial Officer (CFO) LPEI dan pernah menjabat sebagai Plt. Direktur Pelaksana Keuangan, Operasional, dan Teknologi Informasi, dalam wawancara bersama SWA yang diterbitkan pada 27 Maret 2026.
Di tengah ketidakpastian perdagangan global, modernisasi tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi dapat membantu institusi keuangan bergerak melampaui pencatatan transaksi, menuju pengelolaan informasi yang lebih terintegrasi.
Modernisasi Core Banking: Membangun Fondasi Sebelum Berinovasi
Dalam operasional lembaga keuangan, core banking system merupakan salah satu komponen penting untuk mendukung pencatatan dan pengelolaan aktivitas keuangan.
Namun, pembaruan sistem inti tidak otomatis menghasilkan transformasi apabila informasi yang dihasilkan masih sulit diakses atau belum terhubung dengan kebutuhan manajemen.
LPEI mengambil langkah modernisasi dengan menyelesaikan pembaruan sistem inti dan aplikasi pendukungnya pada 2025. Menurut Anwar, perubahan tersebut memungkinkan informasi tersedia secara real-time, sementara dashboard interaktif membantu manajemen memantau profitabilitas, likuiditas, dan risiko setiap hari.
Perkembangan ini penting karena keputusan keuangan tidak cukup hanya mengandalkan laporan yang menggambarkan kondisi pada periode sebelumnya.
Dalam praktiknya, manajemen juga membutuhkan informasi terkini untuk memahami perubahan kondisi portofolio, mengevaluasi posisi likuiditas, dan mengidentifikasi potensi risiko.
Dari perspektif teknologi, nilai modernisasi core banking tidak hanya terletak pada penggunaan sistem yang lebih baru, tetapi juga pada kemampuannya menyediakan data yang relevan, konsisten, dan dapat digunakan oleh berbagai fungsi organisasi.
Enterprise Data Platform: Ketika Data Menjadi Dasar Keputusan
Salah satu aspek menarik dari transformasi LPEI adalah pendekatan terhadap pengelolaan data.
Dalam wawancaranya dengan SWA, Anwar menjelaskan penggunaan pendekatan enterprise data platform yang mengintegrasikan informasi keuangan, risiko, dan operasional.
Melalui pendekatan tersebut, data tidak lagi diposisikan semata-mata sebagai bahan penyusunan laporan historis. Informasi yang tersedia juga dapat digunakan untuk melakukan analisis dan mempertimbangkan berbagai skenario bisnis.
Anwar memberikan contoh ketika muncul usulan kebijakan harga khusus atau special pricing. Dengan dukungan data, manajemen dapat menyimulasikan potensi dampaknya terhadap portofolio pembiayaan dan profitabilitas lembaga.
Contoh tersebut memperlihatkan perbedaan penting antara sistem yang hanya menyimpan informasi dan sistem yang membantu proses pengambilan keputusan.
Dalam konteks lembaga pembiayaan, penetapan harga tidak dapat dipisahkan dari pertimbangan risiko, biaya pendanaan, serta potensi keuntungan. Karena itu, kemampuan mengevaluasi beberapa skenario menjadi relevan sebelum suatu kebijakan diterapkan.
Meski demikian, integrasi data bukan hanya persoalan menghubungkan aplikasi. Kualitas data, konsistensi definisi indikator, pengaturan hak akses, dan tata kelola informasi juga menentukan apakah hasil analisis dapat digunakan secara bertanggung jawab.
Dengan kata lain, teknologi menyediakan fondasinya, sementara kualitas keputusan tetap bergantung pada bagaimana informasi tersebut diinterpretasikan.
National Export Dashboard: Teknologi untuk Mendukung Eksportir
Transformasi digital LPEI juga dapat dilihat dari pemanfaatan teknologi untuk menyediakan informasi bagi pelaku ekspor.
Salah satu inisiatif yang telah diperkenalkan kepada publik adalah National Export Dashboard (NED), platform informasi ekspor berbasis web yang diberitakan Medcom.id pada 17 Juni 2022.
Platform tersebut menyediakan berbagai informasi, mulai dari data dan analisis perdagangan, perkembangan industri, kondisi pasar, informasi negara tujuan, hingga risiko negara dan komoditas ekspor.
Melalui informasi tersebut, pelaku usaha dapat memperoleh gambaran mengenai tren perdagangan dan mempertimbangkan peluang pasar berdasarkan produk yang dimiliki.
Kehadiran NED menunjukkan bahwa kebutuhan teknologi di sektor pembiayaan ekspor tidak terbatas pada pengelolaan transaksi internal.
Akses terhadap informasi perdagangan juga memiliki peran dalam membantu eksportir memahami pasar yang ingin dituju.
Namun, NED dan modernisasi core banking yang diselesaikan pada 2025 merupakan inisiatif dengan periode dan konteks berbeda. Informasi publik yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pengembangan awal NED dipimpin langsung oleh Anwar Harsono atau merupakan bagian dari proyek modernisasi sistem inti tersebut.
Keduanya lebih tepat dipahami sebagai contoh bagaimana pemanfaatan teknologi dapat mendukung kebutuhan internal lembaga sekaligus kebutuhan informasi pelaku ekspor.
Teknologi, Manajemen Risiko, dan Kualitas Pengambilan Keputusan
Modernisasi sistem keuangan memiliki hubungan erat dengan pengelolaan risiko.
Dalam wawancara SWA, Anwar menjelaskan bahwa LPEI menggunakan pendekatan Enterprise Risk Management (ERM), pengujian ketahanan melalui berbagai skenario, serta penguatan mekanisme pengendalian internal.
Pendekatan tersebut menjadi relevan ketika lembaga pembiayaan harus menghadapi perubahan kondisi ekonomi, perdagangan internasional, dan risiko portofolio.
Dari sisi teknologi, ketersediaan informasi yang terintegrasi dapat membantu manajemen melihat hubungan antara keputusan bisnis dan konsekuensi keuangannya.
Sebagai contoh, perubahan kebijakan pembiayaan dapat dievaluasi bukan hanya berdasarkan potensi pendapatan, tetapi juga dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan risiko yang menyertainya.
Meski begitu, dashboard dan analisis berbasis data tidak dapat menggantikan proses penilaian manusia. Informasi digital berfungsi sebagai pendukung keputusan, bukan jaminan bahwa setiap keputusan akan menghasilkan hasil yang tepat.
Karena itu, efektivitas transformasi juga bergantung pada kualitas pengawasan, ketepatan interpretasi data, dan kemampuan organisasi merespons informasi yang tersedia.
Tantangan Terbesar Justru Ada pada Budaya Kerja
Pembaruan infrastruktur teknologi sering kali menjadi bagian transformasi yang paling terlihat. Namun, keberhasilannya juga ditentukan oleh kesiapan orang-orang yang menggunakannya.
Anwar menempatkan pembentukan digital culture sebagai salah satu tantangan penting dalam proses perubahan organisasi.
Menurut penjelasannya kepada SWA, LPEI turut mengembangkan kompetensi karyawan melalui peningkatan keterampilan di bidang digital finance, data analytics, dan strategic thinking.
Pengembangan tersebut dilengkapi dengan rotasi lintas fungsi dan program mentoring untuk memperkuat kemampuan organisasi.
Langkah ini memperlihatkan bahwa transformasi digital membutuhkan perubahan cara kerja, bukan sekadar perpindahan dari proses manual menuju aplikasi digital.
Karyawan perlu memahami bagaimana informasi digunakan, mengapa kualitas data penting, dan bagaimana teknologi dapat membantu menyelesaikan persoalan operasional.
Tanpa kesiapan tersebut, sistem yang telah dimodernisasi berisiko hanya menjadi perangkat baru yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Kinerja LPEI pada 2025 dan Batas Pengaruh Digitalisasi
Dalam wawancara yang dipublikasikan SWA, Anwar menyampaikan bahwa LPEI mencatat pertumbuhan bisnis sebesar 16,4% sepanjang 2025, dengan laba Rp252 miliar dan rasio kredit bermasalah bersih atau net non-performing loan sebesar 2,4%.
Angka tersebut merupakan capaian yang disampaikan Anwar dalam wawancara, bukan hasil pengukuran independen terhadap dampak modernisasi teknologi.
Penting untuk membedakan keduanya.
Pembaruan sistem informasi dapat membantu meningkatkan ketersediaan data, efisiensi proses, dan kemampuan pemantauan. Namun, pertumbuhan bisnis dan profitabilitas lembaga keuangan juga dipengaruhi strategi pembiayaan, pengelolaan aset, kondisi pasar, serta berbagai keputusan manajemen lainnya.
Karena itu, modernisasi core banking tidak dapat langsung dinyatakan sebagai penyebab peningkatan kinerja keuangan LPEI tanpa evaluasi yang lebih mendalam.
Meski demikian, perkembangan teknologi tersebut tetap menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kemampuan organisasi dalam mengelola informasi dan mendukung pengambilan keputusan.
Dari Sistem yang Modern Menuju Organisasi yang Lebih Adaptif
Perjalanan transformasi digital LPEI menunjukkan bahwa perubahan teknologi di sektor keuangan tidak selalu harus dimulai dari inovasi yang langsung terlihat oleh masyarakat.
Pembaruan sistem inti, integrasi data, serta peningkatan kemampuan analisis justru menjadi fondasi yang memungkinkan organisasi bekerja dengan informasi yang lebih baik.
Melalui perspektif Anwar Harsono, teknologi juga memperlihatkan perubahan peran fungsi keuangan: dari penyusun laporan historis menjadi mitra strategis yang membantu organisasi mengevaluasi risiko, merencanakan langkah bisnis, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan masa depan.
Namun, keberhasilan transformasi tidak cukup diukur dari selesainya implementasi sistem. Konsistensi tata kelola, kualitas data, keamanan informasi, dan kesiapan sumber daya manusia tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, nilai sebuah transformasi digital bukan hanya terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan pada seberapa jauh teknologi tersebut membantu organisasi menghasilkan keputusan yang lebih tepat, terukur, dan bertanggung jawab

Tinggalkan Komentar