Akankah Bitcoin Picu Krisis Keuangan?

Cahya Febriansyah . March 19, 2021


Foto : Tempo

Teknologi.id - Selalu ramai diperbincangkan, harga bitcoin menyentuh Rp. 832.564.971,00 per tanggal 19 Maret 2021. Mata uang kripto satu ini mendapat angin segar yang membuatnya kini diterima semakin luas. Salah satu bank raksasa Amerika Serikat, Morgan Stanley, menawarkan akses ke bitcoin kepada para nasabahnya yang kaya.

Naiknya harga bitcoin menarik perhatian bank-bank besar di Amerika Serikat terutama setelah investor institusional hingga perusahaan-perusahaan besar mulai masuk pasar bitcoin, salah satunya Tesla.

Baca Juga : Belajar Trading Selama di Rumah untuk Tambah Produktivitas

Akan tetapi, Morgan Stanley sebagai bank besar pertama di Amerika Serikat pun tidak memberikan akses ini kepada semua nasabah, untuk saat ini Morgan Stanley hanya memperbolehkan klien yang memiliki tingkat toleransi risiko yang agresif, yang setidaknya memiliki dana yang dikelola perusahaan sebesar $ 2.000.000.

Selain itu, Morgan Stanley hanya membatasi investasi bitcoin sebanyak 2,5% dari total kekayaan bersih mereka. Jika langkah Morgan Stanley tersebut diaplikasikan oleh bank - bank besar lainnya, tidak menutup kemungkinan bagi bitcoin untuk terus naik memecahkan rekor tertingginya.

Dengan harga yang terus meroket dan menimbulkan euforia di pasar finansial, bitcoin juga menuai kontra. Banyak tokoh finansial yang beranggapan bahwa bitcoin adalah suatu aset yang tidak aman, sebut saja Janet Yellen, Menteri Keuangan Amerika Serikat.

Baca Juga : Flutter Development Jadi Opsi Terbaik untuk Startup, Kenapa?

Bitcoin sendiri dicap "Mother of all bubbles" oleh Michael Hartnett, kepada strategi investasi Bank of America.

Foto : CNBC International

Hartnett melihat bitcoin melesat jauh dari kenaikan aset - aset yang mengalami bubble, sebagai contoh harga emas naik 400% di akhir tahun 1970. Aset - aset tersebut melesat 3 digit persentase sebelum akhirnya crash dan menghasilkan kerugian yang signifikan. Meski demikian Hartnett tidak memberikan prediksi bahwa bitcoin akan merugi, ia hanya menunjukan bitcoin sebagai contoh meningkatnya aksi spekulasi.

Kapitalisasi pasar bitcoin dan seluruh mata uang kripto sudah meningkat berkali lipat berdasarkan Coin market Cap, kapitasisasi pasar bitcoin saat ini nyaris $ 1,1 triliun. Kapitalisasi tersebut setara nilai produk domestik bruto Indonesia. Menurut Mobius, kenaikan mata uang kripto menjadi salah satu alasan pasar saham menguat karena banyak pemain bitcoin yang berani ambil risiko di aset lainnya.

dilansir CNBC International, Mobius juga mengatakan :

"Ini merupakan salah satu alasan kenapa kinerja pasar saham menjadi bagus, orang-orang yang membeli bitcoin, katakanlah diharga US$ 1 atau US$ 10, saat ini menjadi kaya"

"Orang-orang itu bersedia 'membuang' uangnya di pasar saham bahkan berjudi. Saya berharap dan berdoa harga bitcoin tidak akan crash, sebab jika itu terjadi saya pikir akan ada kemerosotan di pasar saham", tambahnya.

(cf)

teknologi id bookmark icon
Berita Terpopuler