Ilmuwan Israel Ciptakan Testis Buatan, Solusi Atasi Kemandulan Pria!

Algis Akbar . February 03, 2026

Foto: tangkapanlayar/pmc.ncbi.nlm.nih.gov

Teknologi.id – Sebuah terobosan muncul dari dunia sains reproduksi setelah tim peneliti di Universitas Bar-Ilan, Israel, melaporkan keberhasilan mereka dalam menciptakan organ testis buatan (artificial testicles) di laboratorium. Penemuan ini membuka harapan baru bagi penanganan infertilitas pria, sebuah masalah kesehatan global yang menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dialami oleh 1 dari 6 orang dewasa di dunia. Melalui pengembangan organoid atau organ mini artifisial, para ilmuwan kini memiliki model baru untuk mempelajari fungsi reproduksi pria dengan tingkat presisi yang belum pernah ada sebelumnya.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Nitzan Gonen ini berfokus pada pengembangan organoid testis yang mampu meniru struktur jaringan organ aslinya. Meskipun saat ini penelitian yang dilakukan masih menggunakan sel tikus, hasil yang dicapai menunjukkan potensi besar untuk direplikasi menggunakan sel manusia di masa depan. Fokus utama dari riset ini bukan sekadar menciptakan tiruan organ, melainkan menyediakan solusi medis bagi gangguan perkembangan seksual dan kemandulan yang selama ini sulit diidentifikasi akar masalahnya oleh klinik kesuburan konvensional.

Proses Kultur Sel Selama Sembilan Minggu


Foto: tangkapanlayar/pmc.ncbi.nlm.nih.gov

Dalam proses pengembangannya, tim ilmuwan mengekstraksi sel testis dari tikus neonatal (baru lahir) dan membiakkannya di laboratorium dalam kondisi lingkungan yang terkontrol. Uniknya, organoid ini mampu bertahan dan berfungsi selama sembilan minggu. 

Durasi ini dianggap sebagai pencapaian besar yang berdampak signifikan karena secara biologis merupakan waktu yang cukup untuk menyelesaikan siklus produksi sperma dan sekresi hormon seksual secara lengkap. Sebagai perbandingan, proses produksi sperma alami pada tikus hanya memerlukan waktu sekitar 34,5 hari.

Baca juga: Spermbot, Robot Mikro yang Bantu Sperma Lemah Capai Sel Telur Tanpa IVF

Secara struktural, testis buatan ini memiliki kemiripan signifikan dengan testis asli, terutama pada keberadaan struktur tubulus (tabung) tempat sperma diproduksi. Dr. Gonen mencatat bahwa organoid tersebut menunjukkan tanda-tanda memasuki proses meiosis, yaitu tahap pembelahan sel yang mengurangi jumlah kromosom hingga setengah untuk membentuk sel sperma yang fungsional. Tingkat kematangan ini merupakan kemajuan pesat dalam teknologi organoid, yang biasanya hanya mampu mencapai tahap perkembangan embrionik atau janin saja.

Harapan Baru untuk Memiliki Buah Hati 

Foto: theguardian.com

Salah satu visi jangka panjang yang paling menyentuh dari penelitian ini adalah tujuannya untuk menyelamatkan kesuburan anak laki-laki penderita kanker. Selama ini, perawatan agresif seperti kemoterapi dan radiasi pada anak-anak sering kali merusak sel induk testis. 

Tindakan medis tersebut menyebabkan 1 dari 3 pasien berisiko mengalami kemandulan permanen saat dewasa. Mengingat saat ini tingkat kelangsungan hidup pasien kanker muda mencapai 85 persen, masalah fertilitas pasca-perawatan menjadi perhatian medis yang mendesak.

Baca juga: Pacu Jantung Tanpa Baterai, Temuan Baru Ilmuwan China Bisa Bertahan Seumur Hidup

Dengan teknologi testis buatan ini, dokter di masa depan mungkin dapat mengambil biopsi atau sampel kecil jaringan testis anak sebelum pengobatan dimulai. Sel-sel sehat tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi organoid yang subur di laboratorium untuk menghasilkan sperma ketika pasien telah dewasa dan ingin memiliki keturunan. 

Metode ini menjadi satu-satunya solusi potensial karena anak-anak yang belum memasuki masa pubertas belum mampu menghasilkan sperma yang bisa dibekukan dengan cara konvensional.

Model Penelitian Toksisitas

Selain untuk tujuan reproduksi langsung, testis buatan ini berfungsi sebagai model uji coba yang sangat vital bagi penelitian lingkungan. Para ilmuwan dapat mengamati dampak paparan berbagai zat berbahaya, seperti polusi plastik, racun kimia, hingga obat-obatan golongan opioid terhadap kualitas reproduksi pria tanpa harus melakukan tes pada manusia hidup. Riset ini sekaligus menjawab kekhawatiran global mengenai penurunan kualitas sperma yang diduga kuat berkaitan dengan faktor lingkungan dan gaya hidup modern.

Meskipun saat ini tim peneliti masih menunggu hasil akhir apakah organoid ini benar-benar mampu menghasilkan sperma fungsional dan hormon testosteron secara stabil, langkah ini telah diakui sebagai babak baru dalam sejarah internet dan bioteknologi. Dr. Gonen dan timnya kini tengah bersiap untuk melakukan eksperimen serupa menggunakan sel induk manusia (stem cell). Jika berhasil, teknologi ini tidak hanya akan menjawab tantangan kemandulan, tetapi juga akan memberikan pemahaman mendalam mengenai mutasi genom yang selama ini menghambat sistem transportasi sperma pada pria.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(AA/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar