
Infrastruktur subdomain gratisan ternyata menyimpan risiko besar yang dapat melumpuhkan potensi SEO (Search Engine Optimization) sebuah brand, bahkan sebelum bisnis tersebut berkembang.
Dalam diskusi yang diangkat di Search Engine Journal, John Mueller (Search Advocate Google), menanggapi keluhan di forum Reddit dari seorang pemilik situs yang kontennya tidak kunjung muncul di hasil pencarian. Ternyata, akar masalahnya adalah penggunaan subdomain gratis.
Mueller menjelaskan bahwa menggunakan subdomain gratis berarti berbagi "alamat" dengan ribuan situs lain. Jika mayoritas pengguna di penyedia layanan tersebut adalah situs spam atau berkualitas rendah, sistem Google dapat mengasosiasikan situs yang “baik” sekalipun ke dalam kelompok yang sama.
"Menggunakan subdomain gratisan berarti berbagi 'tempat tinggal' dengan situs lain yang mungkin red flag. Google mungkin akan menganggap situs bersih Anda memiliki reputasi yang sama buruknya dengan tetangga Anda," ungkap Mueller.
Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Gary Illyes, Analis Tim Google Search. Ia memperingatkan bahwa penggunaan Top Level Domains (TLD) yang terlalu murah atau gratis sering kali membuat mesin pencari enggan melacak sitemap secara mendalam, yang mengakibatkan website sulit muncul di hasil pencarian.
"Bad Neighborhood" dan Pentingnya Domain yang Kredibel
SEO Specialist Qwords, Eriga Syifaudin, mempertegas bahwa risiko teknis utama terletak pada Shared IP Reputation. Ia mengibaratkan infrastruktur ini seperti sebuah bangunan fisik.
"Bayangkan IP Address server hosting itu seperti alamat apartemen. Saat kamu menggunakan layanan subdomain gratis, kamu sebenarnya sedang menyewa satu kamar kecil di gedung raksasa yang dihuni oleh ribuan penyewa lain. Masalahnya, karena gratis dan tanpa seleksi, siapa pun bisa tinggal di sana termasuk situs judi, penyebar malware, atau peternak link spam." tulis Eriga.
Pemilik website yang ingin mengembangkan websitenya dalam jangka panjang, Eriga menambahkan, perlu meninggalkan infrastruktur “gratisan” dan mempertimbangkan untuk menggunakan TLDs berbayar seperti .com, .id, atau .net agar terlindung dari “bad neighborhood”. “Secara teknis, ini memisahkan reputasi situsmu dari ribuan situs lain,” jelasnya.
Menariknya, kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya domain yang kredibel terus meningkat. Data menunjukkan bahwa domain .id (ccTLD Indonesia) telah menjadi pemimpin pasar di Asia Tenggara.
Per 31 Desember 2025, jumlah pengguna domain .id mencapai 1.432.940 domain, melonjak signifikan dari tahun 2024 yang berada di angka 1,2 juta. Angka ini membuktikan bahwa para pelaku digital di Indonesia mulai memprioritaskan keamanan dan profesionalisme identitas digital mereka.
Sumber:
- Google’s Mueller: Free Subdomain Hosting Makes SEO Harder - Search Engine Journal
- Warning dari Google: Kenapa Subdomain Gratis Bisa “Membunuh” Potensi SEO Website Kamu - Qwords
- Jumlah Domain .id Tertinggi di Asia Tenggara 2025, Tembus 1,43 Juta Pengguna - Teknologi Bisnis

Tinggalkan Komentar