Annisa Nurul Azhar, Mahasiswi Berprestasi Perwakilan Indonesia di Google I/O Conference 2018

Ranah teknologi informasi seringkali di dominasi oleh kaum laki-laki. Indonesia termasuk ke dalam negara yang masih minim sumber daya perempuan dalam pengembangan teknologi. Namun, kali ini Teknologi.id berhasil bertemu dengan sosok perempuan yang memiliki cita-cita untuk memberi manfaat terhadap lingkungan sekitar melalui pemanfaatan teknologi.

Dia adalah Annisa Nurul Azhar, #SosokTeknologi di segment #KamisInspirasi kali ini. Annisa adalah mahasiswi program studi Teknik Informatika ITB yang baru saja selesai menempuh perkuliahan semester 6 dan sedang bersiap untuk melaksanakan kegiatan Kerja Praktek. Selain kesibukannya berkuliah, Annisa juga beberapa kali mengikuti kompetisi terkait IT serta pernah menjadi perwakilan Indonesia untuk mengikuti Google I/O Conference 2018 di Mountain View, California.

Yuk, langsung saja kita simak hasıl wawancara Teknologi.id dengan Annisa selengkapnya khususnya bagi kamu para perempuan yang juga memiliki minat di bidang teknologi!

Halo Annisa! Boleh perkenalkan diri dan kegiatan apa yang sekarang sedang Annisa kerjakan?

Saya Annisa Nurul Azhar, biasanya dipanggil Icha. Lahir di Bandung, 9 Juni 1999. Memiliki ketertarikan yang cukup besar di teknologi, komunitas, pendidikan, dan pengembangan diri. Saat ini telah selesai menempuh perkuliahan di semester 6 Program Studi Teknik Informatika ITB. Kegiatan saat ini antara lain akan segera memulai Kerja Praktek di Bukalapak dan mempersiapkan komunitas Developer Student Clubs ITB untuk mencoba solving real local business problem di bulan Agustus nanti.

Annisa pernah mengikuti kompetisi hackathon dari Google Developers dan Mobile Apps yang diadakan Telkom University, bisa ceritakan pengalaman Annisa mengikuti dua kompetisi tersebut? Atau jika ada pengalaman kompetisi atau prestasi lainnya bisa di ceritakan juga.

– Kompetisi IAK Hackathon 2017 by Google Developers: pada kompetisi tersebut, saya bersama 2 rekan setim saya mencoba membuat sebuah prototype aplikasi berbasis Android dalam waktu 24 jam. Aplikasi yang kami buat adalah Verti-Go!. Verti-Go! adalah aplikasi berbasis Android yang bertujuan untuk membantu orang dengan penyakit vertigo. Aplikasi tersebut disertai dengan perangkat tambahan, Arduino UNO yang merupakan prototipe untuk tombol darurat. Fitur utama dari Verti-Go! adalah emergency alert yang akan dikirimkan ke keluarga/teman pengguna setelah aplikasi menerima sinyal bluetooth Arduino ketika pengguna menekan tombol darurat. Selain development aplikasi, saat event berlangsung kami juga mendapat kesempatan untuk dimentor dengan mentor-mentor yang sudah berpengalaman di bidangnya terkait dengan aplikasi yang kami buat. Pada kompetisi ini, kami berhasil meraih juara 2 dari 30 tim se-Indonesia yang berhasil lolos ke fase Hackathon di Jakarta.

– Kompetisi Mobile Apps Development dari Telkom University: pada kompetisi tersebut, tim kami yang beranggotakan 3 orang, mencoba memberikan ide atas permasalahan yang sedang terjadi di Indonesia. Saat itu, kasus bunuh diri di Indonesia sedang marak diberitakan, oleh karena itu kami membuat aplikasi Sobat Dalit. Aplikasi Sobat Dalit merupakan aplikasi yang menghubungkan orang-orang yang memiliki masalah atau keluhan terkait gangguan kesehatan mental (selanjutnya disebut pasien) dengan konsultan-konsultan sehingga pasien merasa lebih baik setelah sesi konsultasi. Aplikasi ini juga memberikan informasi terkait penanganan gangguan kesehatan mental yang bisa dilakukan oleh diri sendiri dan info lokasi dan kontak rumah sakit. Kami berhasil menjadi 8 tim terbaik se-Indonesia yang masuk fase pitching dan penjurian final di Bandung.

– Pemilihan Mahasiswa Berprestasi STEI ITB: pada pemilihan tersebut, ada 6 peserta sebagai perwakilan dari masing-masing program studi di STEI ITB. Saya mewakili Program Studi Teknik Informatika ITB karena sebelumnya telah terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi dari program studi tersebut. Masing-masing peserta diharuskan mempresentasikan karya tulis dengan tema Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah dibuat sebelumnya dan mengikuti sesi tanya jawab dengan juri. Saat itu, saya memilih salah satu goal dari SDGs sebagai fokus saya yaitu Quality Education terutama di Indonesia. Di dalam karya tulis saya, saya mencoba mengkaji bagaimana penerapan Personalized Learning System dapat meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Pada pemilihan ini, saya masuk dalam 3 besar Mahasiswa Berprestasi STEI ITB.

– Google I/O Conference: Google I/O adalah konferensi developer tahunan yang diselenggarakan oleh Google. I/O menampilkan tech-in-depth session yang difokuskan untuk membuat aplikasi web, seluler, dan enterprise dengan Google dan open source seperti Android, Chrome dan Chrome OS, API, Google  Web Toolkit, App Engine, dan banyak lagi. Saya merupakan salah satu dari 6 perwakilan Developer Student Clubs (DSC) Indonesia yang dipilih untuk menghadiri Google I/O 2018 di Mountain View, California tanggal 8-10 Mei lalu. Slogan dari I/O tahun ini adalah “Make good things together“. Inovasi terbaru di bidang teknologi dalam produk-produk Google seperti fitur terbaru Google Assistant, Android P,  Tensorflow, ML Kit Beta di Firebase, Android Things, Waymo, dan masih banyak lagi dipaparkan secara garis besarnya saat sesi Keynote. Kemudian setelah itu terdapat beberapa mata acara yaitu Sessions, Codelabs, Sandbox, dan App Reviews dan Office Hours. Sessions menawarkan semacam tech-talk dengan topik-topik tertentu seperti Getting Started with Tensorflow’s High Level APIs, Building the Future AI for Everyone, dan lain-lain. Attendee diharapkan dapat mengetahui teknologi-teknologi terbaru yang ada secara lebih detail dan memanfaatkannya dengan benar. Recording dari Keynote dan semua sessions tersedia di channel Youtube Google Developers. Codelabs adalah tempat untuk mencoba dan belajar secara langsung mengenai teknologi-teknologi terbaru Google melalui self-paced tutorial. Jika mengalami stuck, para googlers (google staff) akan berada di sana untuk memberikan bantuan dan saran. Yang tidak kalah menarik adalah Sandbox. Sandbox adalah tempat untuk eksplorasi, belajar, dan bermain dengan produk dan platform terbaru Google melalui demo interaktif, physical installations, dan lain-lain. Selanjutnya adalah App Reviews dan Office Hours. Di sana para attendee bisa meminta feedback langsung yang spesifik terkait aplikasi yang dikembangkannya, selain itu attendee juga dapat bertemu dengan para Google experts untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan teknikal kepada mereka. Tahun ini, Google I/O memberikan Android Things 1.0 Starter Kit dan Google Home Mini bagi seluruh attendee. Tentunya ini merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi kami karena mendapat kesempatan untuk melakukan eksplorasi lebih jauh terkait Android Things dan Google Home Mini.

Selain mengikuti kompetisi, apakah Annisa pernah mengerjakan projek IT lainnya?

Pernah.

Jika iya, bisa Annisa ceritakan tentang projectnya?

Proyek-proyek yang pernah dikerjakan antara lain adalah proyek-proyek saat kuliah contohnya proyek web dari Direktorat Sarana dan Prasarana ITB, aplikasi rekomendasi dan klasifikasi, dll dan juga proyek saat magang seperti web pasarlaut.com (marketplace untuk hasil-hasil laut) dan mobile app Imotax (aplikasi pendataan pajak untuk pemerintah daerah).

Apa rencana Annisa ke depannya?

Rencana kedepannya, ingin terus belajar dan berkecimpung di dunia teknologi dengan fokus di Mobile Application, Artificial Intelligence, dan Machine Learning dan juga aktif di berbagai komunitas teknologi agar dapat membuat inovasi yang bermanfaat bagi orang banyak dan saling berbagi ilmu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.


Sekian hasil wawancara Teknologi.id dengan Annisa Nurul Azhar, mahasiswi berprestasi yang aktif dalam komunitas teknologi dan bercita-cita menelurkan karya teknologi melalui Mobile Application, Artificial Intelligence, dan Machine Learning untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan manusia di sekitarnya. Bagaimana dengan kalian Sobat Teknologi? Apa minat teknologimu? (nks)

Baca juga: Januar Triandy Nur Elsan, Pengembang Sistem Berbasis Kinect untuk Terapi Obesitas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *