Mengenal Tagatose, "Gula Masa Depan" yang Aman untuk Gigi dan Penderita Diabetes

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 22, 2026


Foto: MediaIndonesia.com

Teknologi.id – Di tengah meningkatnya kesadaran global akan bahaya konsumsi gula berlebih dan kekhawatiran terhadap efek samping pemanis buatan, sebuah kabar gembira datang dari dunia sains. Tim peneliti internasional dilaporkan berhasil menemukan metode revolusioner untuk memproduksi Tagatosesejenis gula alami langka—dalam skala besar dengan biaya yang jauh lebih efisien.

Penemuan ini digadang-gadang akan menjadi game-changer dalam industri makanan dan minuman sehat. Pasalnya, Tagatose menawarkan profil rasa yang hampir identik dengan gula biasa (sukrosa) namun dengan dampak kesehatan yang jauh lebih minim, menjadikannya kandidat kuat sebagai "Pemanis Masa Depan".

Apa Itu Tagatose?

Tagatose sebenarnya bukanlah zat baru. Ia adalah pemanis alami yang ditemukan dalam jumlah sangat kecil pada beberapa produk susu dan buah-buahan tertentu. Keistimewaan utama Tagatose terletak pada karakteristiknya:

  1. Rasa Alami: Memiliki tingkat kemanisan sekitar 92% dari gula pasir biasa, sehingga tidak meninggalkan rasa pahit (aftertaste) seperti yang sering ditemukan pada pemanis buatan (misalnya stevia atau aspartam).

  2. Rendah Kalori: Hanya mengandung sepertiga kalori dari gula biasa.

  3. Indeks Glikemik Rendah: Tidak memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis, karena tubuh manusia tidak menyerapnya secara penuh.

  4. Aman untuk Gigi: Berbeda dengan sukrosa yang memicu bakteri penyebab gigi berlubang, Tagatose justru diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri jahat di mulut.

Meski memiliki segudang manfaat, selama ini Tagatose gagal mendominasi pasar karena satu kendala besar: harga produksinya yang selangit. Proses ekstraksi konvensional sangat tidak efisien dan boros biaya, membuatnya sulit bersaing dengan pemanis murah lainnya.

Terobosan Teknologi Bio-Rekayasa Bakteri

Kendala produksi tersebut kini mulai menemukan titik terang. Sebuah kolaborasi riset yang melibatkan peneliti dari Tufts University (Amerika Serikat) bersama perusahaan bioteknologi Manus Bio dan Kcat Enzymatic (India) berhasil mengembangkan teknik produksi baru yang jauh lebih efisien.

Kunci dari inovasi ini terletak pada penggunaan bioteknologi enzim. Tim peneliti merekayasa bakteri Escherichia coli (E. coli) agar mampu berfungsi sebagai "pabrik mini" yang mengubah glukosa menjadi Tagatose. Proses ini dimungkinkan berkat penemuan enzim baru bernama Galactose-1-Phosphate-Selective Phosphatase (Gal1P) yang diambil dari jamur lendir (slime mold).

Nik Nair, insinyur biologi dari Tufts University, menjelaskan bahwa inovasi ini memungkinkan mereka untuk "membalik" jalur biologis alami. Biasanya, organisme mengubah galaktosa menjadi glukosa untuk energi. Namun dengan enzim Gal1P, peneliti bisa membalik proses tersebut: mengubah bahan baku glukosa (yang murah dan melimpah) menjadi galaktosa, yang kemudian diproses lebih lanjut menjadi Tagatose.

Baca juga: OpenAI Akuisisi Startup Medis Torch, Siap Bawa AI Masuk ke Dunia Kesehatan!

Efisiensi Produksi Melonjak Drastis

Dampak dari penemuan metode baru ini sangat signifikan. Jika metode konvensional hanya memiliki tingkat efisiensi (yield) sekitar 40-77%, metode bio-rekayasa enzim ini mampu meningkatkan efisiensi produksi hingga 95%.

Angka ini merupakan lompatan raksasa dalam dunia manufaktur biokimia. Dengan efisiensi setinggi itu, biaya produksi Tagatose dapat ditekan secara drastis, memungkinkannya untuk dijual dengan harga yang kompetitif di pasaran. Hal ini membuka jalan bagi industri makanan dan minuman untuk mulai beralih menggunakan Tagatose sebagai pengganti gula utama dalam produk-produk mereka, mulai dari minuman kemasan, kue, hingga es krim.

Keunggulan untuk Kesehatan Metabolik dan Gigi


Foto: Freepik

Selain aspek ekonomi, Tagatose juga membawa kabar baik bagi kesehatan masyarakat. Karena sebagian besar Tagatose tidak diserap di usus halus melainkan difermentasi di usus besar, ia tidak menyebabkan lonjakan insulin. Ini menjadikannya opsi pemanis yang sangat aman bagi penderita diabetes tipe 2 atau mereka yang sedang menjalani diet rendah karbohidrat (seperti diet Keto).

Menariknya, fermentasi Tagatose di usus besar juga berpotensi memberikan efek prebiotik, yang berarti ia dapat menjadi "makanan" bagi bakteri baik di dalam pencernaan kita, mirip dengan serat.

Dari sisi kesehatan mulut, Tagatose memiliki sifat non-kariogenik. Gula biasa adalah makanan favorit bagi bakteri mulut yang memproduksi asam perusak enamel gigi. Tagatose, sebaliknya, tidak bisa dimetabolisme oleh bakteri tersebut, bahkan beberapa studi awal menunjukkan ia bisa membantu mencegah pembentukan plak.

Baca juga: Siapa Sangka? Diabetes Bisa 'Dipantau' Lewat Smartphone!

Masa Depan Industri Pemanis

Meskipun teknologi ini masih perlu penyempurnaan sebelum bisa diterapkan di pabrik skala raksasa, proyeksi pasarnya sangat menjanjikan. Para analis memperkirakan pasar Tagatose global bisa mencapai nilai ratusan juta dolar pada awal dekade 2030-an.

Selain itu, keunikan lain dari Tagatose adalah kemampuannya untuk mengalami proses karamelisasi (kecokelatan) saat dipanaskan—suatu sifat yang tidak dimiliki oleh banyak pemanis rendah kalori lainnya seperti Erythritol atau Sucralose. Ini membuatnya sangat ideal untuk digunakan dalam industri kue (baking) yang membutuhkan tekstur dan warna panggangan yang sempurna.

Dengan restu dari badan pengawas seperti FDA (Amerika Serikat) dan WHO yang telah menyatakan Tagatose aman dikonsumsi, kita mungkin akan segera melihat revolusi "manis" di rak-rak supermarket dalam waktu dekat. Penemuan ini membuktikan bahwa dengan bantuan bioteknologi canggih, kita tidak perlu mengorbankan rasa manis untuk mendapatkan tubuh yang sehat.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.




(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar