IHSG Anjlok, Investor Pergi: Ada Faktor Ekonomi dan Politik di Baliknya?

Bagas Daru Baruna . March 24, 2025

Foto: Pantau

Teknologi.id - Indonesia tengah menghadapi gejolak di pasar modal yang cukup signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok dan mengalami penurunan drastis, mencapai 14,55 persen dalam tiga bulan terakhir.

Bahkan, pada 18 Maret 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat memberlakukan trading halt karena IHSG anjlok hingga 5,02 persen. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang menyebabkan investor menarik modalnya dari Indonesia?

Faktor Politik yang Menyebabkan Modal Asing Hengkang

Salah satu penyebab utama merosotnya IHSG adalah ketidakstabilan politik. Menurut ekonom senior Indef, Didik J. Rachbini, kebijakan ekonomi dan politik pemerintahan baru tidak mendapat respons positif dari pasar. Hal ini menyebabkan ketidakpastian di kalangan investor, yang akhirnya memilih menarik dananya dari Indonesia.

Investor global biasanya menyambut baik pemerintahan baru dengan harapan adanya perbaikan ekonomi. Namun, saat ini, pasar justru skeptis karena menilai pemerintah gagal mengembalikan ekosistem demokrasi yang sebelumnya mengalami degradasi. Faktor ketidakpastian politik ini menjadi pemicu utama keluarnya modal asing dari pasar Indonesia.

Selain itu, pasar juga khawatir terhadap potensi kembalinya etatisme dan dwi fungsi militer dalam kebijakan pemerintahan saat ini. Demokrasi yang telah dibangun sejak reformasi dinilai berada di ambang kemunduran, yang berdampak pada iklim investasi di Indonesia.

Kebijakan Ekonomi yang Tidak Matang

Selain faktor politik, kebijakan ekonomi yang dianggap mendadak dan kurang matang juga menjadi penyebab investor meninggalkan Indonesia. Salah satu contoh adalah pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang dinilai dilakukan tanpa perencanaan matang. Meskipun tujuan pembentukan badan ini positif, pelaksanaannya yang tergesa-gesa justru berdampak negatif pada pasar.

Reaksi pasar terhadap pembentukan BPI Danantara cukup signifikan. Sehari setelah diresmikan pada 24 Februari 2025, investor asing menarik dana sebesar Rp 3,47 triliun. Hingga saat ini, total modal asing yang keluar mencapai Rp 24 triliun, menunjukkan betapa besar dampak kebijakan tersebut terhadap kepercayaan pasar.

Baca Juga : Donald Trump Tutup Departemen Pendidikan AS! Apa Alasannya?

Defisit APBN dan Ketidakpastian Fiskal

Ketidakstabilan fiskal Indonesia di awal tahun 2025 juga turut berkontribusi terhadap penurunan IHSG. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang semakin melebar dan penerimaan pajak yang menurun menjadi indikator negatif bagi pelaku pasar.

Pasar melihat kebijakan fiskal yang tidak stabil sebagai ancaman terhadap makroekonomi Indonesia. Faktor-faktor seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat, inflasi yang meningkat, serta nilai tukar rupiah yang melemah semakin memperburuk situasi. Akibatnya, investor memilih menarik dananya lebih cepat untuk menghindari risiko yang lebih besar.

Dampak Jangka Panjang bagi Indonesia

Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, dampaknya bisa sangat merugikan perekonomian nasional. Modal asing yang terus keluar dapat menyebabkan depresiasi rupiah yang lebih dalam, meningkatkan biaya impor, serta menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Kepercayaan investor yang terus menurun juga berpotensi menurunkan peringkat kredit Indonesia di mata global, yang akan semakin memperburuk situasi.

Selain itu, industri yang bergantung pada investasi asing, seperti manufaktur dan infrastruktur, bisa mengalami perlambatan. Hal ini akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan daya beli masyarakat, yang akhirnya berimbas pada perlambatan ekonomi nasional.

Baca Juga : OpenAI Rilis o1-Pro, Model AI Tercanggih dengan Harga Paling Mahal

Solusi untuk Mengembalikan Kepercayaan Investor

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah strategis guna mengembalikan kepercayaan pasar. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Meningkatkan Stabilitas Politik

    • Pemerintah harus menunjukkan komitmennya dalam menjaga demokrasi dan stabilitas politik.
    • Kebijakan yang dibuat harus transparan dan melibatkan berbagai pihak agar tidak menimbulkan ketidakpastian di pasar.
  2. Membuat Kebijakan Ekonomi yang Lebih Terukur

    • Kebijakan ekonomi harus dibuat dengan perencanaan yang matang dan mempertimbangkan dampaknya terhadap pasar.
    • Pemerintah harus melibatkan para ahli ekonomi dan pelaku pasar sebelum membuat keputusan penting.
  3. Menjaga Stabilitas Fiskal

    • Pemerintah perlu menyeimbangkan defisit APBN dan meningkatkan penerimaan pajak dengan cara yang lebih efektif.
    • Transparansi dalam pengelolaan keuangan negara juga diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan investor.
  4. Meningkatkan Iklim Investasi

    • Regulasi investasi perlu dipermudah agar lebih menarik bagi investor asing maupun domestik.
    • Pemerintah harus berupaya menciptakan kebijakan yang pro-pasar untuk menarik kembali modal yang telah keluar.

Anjloknya IHSG dan keluarnya investor dari Indonesia bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga ketidakstabilan politik dan kebijakan yang kurang matang. Pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan pasar agar modal asing kembali masuk dan stabilitas ekonomi dapat terjaga.

Dengan kebijakan yang lebih pro-pasar, transparan, dan stabil, Indonesia dapat kembali menarik minat investor dan menghindari krisis yang lebih dalam di masa depan.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar