
Foto: Listrikindonesia.com
Teknologi.id – Perusahaan rintisan (startup) di bidang energi yang didirikan oleh miliarder Bill Gates, TerraPower, secara resmi telah mengantongi izin untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersial di Amerika Serikat. Fasilitas energi mutakhir yang berlokasi di negara bagian Wyoming tersebut dikabarkan akan menggunakan teknologi pendingin berbahan dasar garam. Persetujuan pembangunan reaktor nuklir ini dikeluarkan langsung oleh Komisi Regulasi Nuklir Amerika Serikat (Nuclear Regulatory Commission/NRC), menjadikannya sebagai izin pertama yang diterbitkan oleh komisi tersebut dalam kurun waktu delapan tahun terakhir.
TerraPower merupakan sebuah perusahaan teknologi nuklir yang didirikan oleh Bill Gates pada tahun 2008. Perusahaan ini sebelumnya telah mengajukan permohonan izin pembangunan reaktor pada tahun 2024. Untuk merealisasikan proyek infrastruktur energi skala besar ini, TerraPower diperkirakan harus menggelontorkan dana investasi yang mencapai angka 4 miliar dolar Amerika Serikat (US$). Jika proses pembangunan berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, fasilitas PLTN komersial ini ditargetkan sudah dapat beroperasi secara penuh pada tahun 2030 mendatang.
Baca juga: Bisa Selamat! Ilmuwan Temukan Cara Manusia Bertahan dari Kelaparan Perang Nuklir
Proyek reaktor nuklir generasi baru ini diberi nama Natrium. Berdasarkan spesifikasi teknisnya, reaktor Natrium dirancang untuk mampu menghasilkan kapasitas daya listrik sebesar 345 megawatt. Untuk menghasilkan tenaga tersebut, reaktor ini memanfaatkan bahan bakar berupa low-enriched uranium atau uranium dengan tingkat pengayaan rendah, yang mana kandungan uranium murninya hanya berkisar antara 5 hingga 20 persen. Sistem operasional reaktor Natrium tersebut akan terhubung langsung dengan fasilitas sistem penyimpanan garam yang memiliki kapasitas tampung masif sebesar 1 gigawatt jam.

Foto: unsplash.com
Kehadiran reaktor Natrium menghadirkan perbedaan teknis yang sangat fundamental jika dibandingkan dengan mayoritas PLTN yang saat ini beroperasi di wilayah Amerika Serikat. Perbedaan paling mencolok terletak pada mekanisme sistem pendinginnya. Pada umumnya, PLTN konvensional masih bergantung pada penggunaan reaktor air bertekanan tinggi. Dalam sistem konvensional, air memiliki fungsi ganda yang krusial, yakni sebagai cairan pendingin reaktor sekaligus sebagai moderator neutron selama proses reaksi fisi nuklir berlangsung.
Dalam operasional PLTN berbasis air, air yang telah diberi tekanan tinggi bertugas menyerap energi panas dari proses reaksi nuklir. Air tersebut mampu menyerap panas ekstrem hingga suhu mencapai 300 derajat Celcius. Setelah menyerap panas, air berubah bentuk menjadi uap bertekanan tinggi yang kemudian digunakan untuk memutar turbin penghasil listrik. Namun, air yang telah digunakan dalam proses ini akan bercampur dengan material nuklir, sehingga harus dipompa keluar secara hati-hati dan disimpan di dalam fasilitas penyimpanan limbah yang dikelola secara khusus.
Sistem pendingin berbasis air konvensional ini memiliki sejumlah risiko operasional. Selain memunculkan potensi bahaya kebocoran limbah nuklir ke lingkungan, penggunaan cairan bertekanan tinggi di dalam reaktor berisiko mempercepat proses korosi atau perkaratan pada komponen logam. Jika logam reaktor sudah mengalami korosi, perbaikannya akan menjadi sangat sulit untuk dilakukan mengingat lingkungan di dalam reaktor memiliki tingkat tekanan yang berbahaya.
Baca juga: Baterai Nuklir dari China Ini Bisa Bertahan 50 Tahun Tanpa Dicas
Untuk mengatasi berbagai kelemahan sistem konvensional tersebut, reaktor Natrium besutan TerraPower beralih menggunakan material logam cair sebagai medium penyerap panas reaksi nuklir. Penggunaan logam cair dinilai jauh lebih efisien karena material tersebut memiliki titik didih delapan kali lebih tinggi dibandingkan air. Berkat tingginya titik didih tersebut, logam cair di dalam reaktor mampu menyerap volume energi panas yang jauh lebih banyak tanpa menimbulkan tekanan uap yang berlebihan.
Setelah logam cair menyerap energi panas dari reaktor, material garam mengambil perannya. Sistem penyimpanan garam yang terintegrasi dengan reaktor berfungsi untuk mendinginkan kembali temperatur logam cair tersebut. Melalui siklus pendinginan ini, logam cair dapat digunakan secara terus-menerus tanpa batas waktu. Berbeda dengan sistem air yang harus selalu dipompa keluar sebagai limbah radioaktif, sirkulasi logam cair dan garam pada reaktor Natrium menjanjikan siklus operasional yang tidak menghasilkan limbah cair berbahaya secara terus-menerus.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar