Survei BPS: 37,65% E-Commerce Mengalami Kekurangan Permintaan Barang dan Jasa

Adnan Algifari . May 16, 2023

Foto: Pixabay/www_slon_pics

Teknologi.id - Dalam membangun usaha bisnis lewat e-commerce memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni agar bisa berkembang dan lebih maju, tetapi hal ini jangan menjadi patokan untuk menghambat kamu memulai bisnis online.

Siapapun bisa mempunyai bisnis online asal ada kemauan. Pembelajaran digital marketing bisa dipelajari sambil menjalani bisnis yang sedang kamu rintis.

Meskipun banyak masalah dan kendala ketika menjalani bisnis e-commerce, kamu hanya harus menganalisis dan coba untuk memecahkan masalah tersebut dan menemukan solusinya, karena menjadi pebisnis diperlukan otak yang kreatif dan inovatif agar usaha tetap berjalan dan bisa menjadi pesaing dengan perusahaan yang sudah besar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kendala usaha adalah faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi, atau mencegah pencapaian sasaran suatu usaha.

Menurut publikasi dari Badan Pusat Statistik yang berjudul Survei eCommerce 2022 inilah beberapa kendala ketika menjalankan usaha e-commerce, rinciannya sebagai berikut :

  • Sebanyak 37,65% usaha mengaku mengalami kekurangan permintaan barang dan jasa
  • Sebanyak 33,80% usaha menyatakan kurangnya permodalan
  • Sebanyak 9,96% usaha menyatakan kurangnya tenaga kerja yang terampil
  • Sebanyak 9,66% usaha mengalami kendala lainnya
  • Sebanyak 3,65% usaha menyatakan keterbatasan akses internet
  • Sebanyak 2,98% usaha menyatakan keterbatasan jasa pengiriman (lokasi dan jummlah)
  • Sebanyak 2,30% usaha menyatakan kecurangan dalam proses jual-beli

Dengan berbagai kendala-kendala yang disebutkan di atas, hal tersebut haruslah menjadi faktor pertimbangan untuk menyiasati bisnismu agar tidak terkena hal demikian atau dampak dari kendala-kendala tersebut.

Kendala-kendala di atas juga merupakan permasalahan bisnis organik yang hampir bisa dirasakan oleh para pebisnis pemula hingga pebisnis yang sudah besar. Ada juga faktor bencana yang bisa menjadi penghambat pergerakan bisnis ke arah yang lebih baik, seperti terjadi pada tahun 2019, yaitu COVID.

Baca juga: Survei BPS: 90,40 Persen Usaha E-Commerce Menggunakan Paket Data Prabayar Bukan Wi-Fi

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun telah berdampak pada kehidupan sosial dan mengganggu aktivitas
ekonomi global, termasuk Indonesia. Namun, dengan menerapkan kebijakan new-normal, perekonomian Indonesia secara bertahap dapat pulih kembali.

Upaya menghidupkan perekonomian Indonesia secara fundamental dilakukan melalui transformasi, penerapan strategi yang tepat, serta melibatkan seluruh dunia usaha, masyarakat, dan pemerintah, menjadi kunci pemulihan ekonomi nasional.

Dilansir Teknologi.id dari publikasi Survei eCommerce 2022 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) berikut ini presentase pelaku usaha dilihat dari penghasilan bisnis e-commercenya, rinciannya sebagai berikut:

Foto: Pixabay/stevepb

  • Sebanyak 31,40% pelaku usaha mengalami penurunan pendapatan usaha
  • Sebanyak 27,65% pelaku usaha mengalami peningkatan pendapatan usaha
  • Sebanyak 40,95% pelaku usaha mengaku tidak terpengaruh pandemi COVID-19 atau pendapatannya sama dengan sebelum pandemi

Jika dilihat dari komposisi usaha e-commerce berdasrkan pendapatan atau untung yang didapat, rinciannya sebagai berikut:

Foto: Pixabay/nattanan23

  • Sebanyak 40,74% pendapatan meningkat kurang dari 25%
  • Sebanyak 30,37% pendapatan meningkat antara 25% hingga <50%
  • Sebanyak 22,87% pendapatan meningkat antara 50% hingga 75%
  • Sebanyak 6,02% pendapatan meningkat lebih dari 75%

Jika dilihat dari komposisi usaha e-commerce yang pendapatannya menurun, rinciannya sebagai berikut:

Foto: Pixabay/Anemone123

  • Sebanyak 17,94% pendapatannya menurun kurang dari 25%
  • Sebanyak 28,71% pendapatannya menurun antara 25% hingga <50%
  • Sebanyak 46,16% pendapatannya menurun antara 50% hingga 75%
  • Sebanyak 7,19% pendapatannya menurun lebih dari 75%

Selama masa pandemi, usaha e-commerce juga mengalami penurunan volume transaksi, rinciannya sebagai berikut:

  • Sebesar 31,02% mengalami penurunan volume transaksi
  • Sebesar 41,58% yang volume transaksinya sama dengan saat sebelum adanya pandemi COVID-19.
  • Sebesar 27,40% mengalami peningkatan volume transaksi

Baca juga: Data Statistik Pengguna eCommerce Indonesia Masih Rendah! Ini Dia 5 Keuntungannya

Selain penurunan pendapatan usaha dan volume transaksi, terlihat bahwa pandemi COVID-19 juga mempengaruhi kelancaran pendistribusian barang dari usaha e-commerce, rinciannya sebagai berikut:

Foto: Pixabay/echosystem

  • Sebesar 24,08% usaha mengalami penurunan dalam hal kelancaran pendistribusian barang
  • Sebesar 52,65% usaha tidak terpengaruh sama sekali dengan pandemi, atau sama dengan masa sebelum ada pandemi.
  • Sebesar 23,27% usaha mengalami peningkatan dalam hal kelancaran pendistribusian barang

Berdasarkan data-data yang telah dipaparkan di atas, kamu sebagai pemilik penanggung jawab usaha e-commerce haruslah cerdas menghadapi masalah atau kendala yang datang ketika terjadi ke toko online kamu. Dengan data-data di atas semoga bisa jadi pertimbangan untuk meningkatkan bisnis online kamu ke arah yang lebih baik.

Berita dan artikel yang lain di Google News

(aa)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar