Upscrolled Tembus 25 Juta Pengguna, Aplikasi "Anti-TikTok" yang Guncang Dunia Maya

Wildan Nur Alif Kurniawan . February 08, 2026


Foto: Images.dawn

Teknologi.id – Di dunia teknologi, tidak ada raja yang berkuasa selamanya. Friendster digantikan Facebook, Facebook ditinggalkan demi Instagram, dan Instagram sempat terancam oleh TikTok. Kini, di awal tahun 2026, siklus sejarah itu tampaknya berulang kembali. Dominasi TikTok, yang selama lima tahun terakhir tak tergoyahkan sebagai "raja video pendek", kini menghadapi ancaman eksistensial terbesarnya.

Bukan dari raksasa Silicon Valley seperti Meta atau Google, ancaman itu datang dari sebuah aplikasi pendatang baru bernama Upscrolled.

Dalam laporan mengejutkan yang dirilis pagi ini, pengembang Upscrolled mengonfirmasi pencapaian yang membuat para eksekutif di Beijing dan California tidak bisa tidur nyenyak: aplikasi ini telah menembus angka 25 juta pengguna aktif bulanan (Monthly Active Users/MAU). Yang lebih mencengangkan, angka fantastis ini diraih hanya dalam kurun waktu kurang dari enam minggu sejak peluncuran globalnya di Januari 2026.

Kejenuhan Massal: Awal Mula "Kiamat" TikTok

Untuk memahami mengapa Upscrolled meledak begitu cepat, kita harus melihat kondisi psikologis pengguna internet saat ini. Tahun 2026 menandai titik jenuh tertinggi terhadap apa yang disebut oleh kritikus teknologi Cory Doctorow sebagai "Enshittification" platform.

TikTok, yang dulunya adalah tempat bersenang-senang dan menari, kini telah bermutasi menjadi marketplace raksasa yang agresif. Pengguna mengeluh bahwa feed "For You Page" (FYP) mereka kini terdiri dari 40% konten jualan (TikTok Shop), 30% live streaming pedagang yang berteriak-teriak, dan 20% iklan bersponsor. Hanya 10% sisanya yang merupakan konten organik dari teman atau kreator yang benar-benar mereka ikuti.

"Membuka TikTok di tahun 2026 rasanya seperti masuk ke pasar malam yang penuh sesak di mana semua orang mencoba memaksa Anda membeli obat pelangsing atau skincare," tulis seorang analis media sosial terkemuka di blog-nya.

Di tengah kekacauan komersial inilah Upscrolled hadir menawarkan "oase".

Baca juga: Aplikasi Tokopedia Dikabarkan Akan Tutup, ByteDance Siapkan TikTok Shop Standalone

Filosofi Upscrolled: Kembali ke Esensi Konten


Foto: UpScrolled

Upscrolled tidak mencoba meniru fitur TikTok; mereka justru membuang sebagian besar fitur tersebut. Aplikasi ini dibangun di atas filosofi "Digital Minimalism" (Minimalisme Digital).

Fitur unggulan mereka, yang disebut "Pure Stream", adalah algoritma kurasi konten yang radikal. Berbeda dengan algoritma TikTok yang dirancang untuk memicu dopamin instan dan perilaku belanja impulsif, Pure Stream dirancang untuk menyajikan konten yang memicu rasa ingin tahu, estetika, dan koneksi manusia yang tulus.

  1. Zona Bebas Dagang: Di Upscrolled, Anda tidak akan menemukan "Keranjang Kuning" atau fitur belanja terintegrasi. Tautan eksternal dibatasi dengan ketat. Ini adalah langkah berani yang mematikan potensi pendapatan e-commerce, namun justru menjadi daya tarik utama bagi pengguna yang lelah dijadikan target pasar.

  2. Antarmuka yang Tenang: Desain antarmuka (UI) Upscrolled sangat bersih, didominasi warna monokromatik yang menenangkan mata, kontras dengan warna-warni neon yang mencolok di aplikasi kompetitor.

  3. Algoritma Anti-Adiksi: Ini adalah fitur paling kontroversial namun dicintai. Upscrolled memiliki mekanisme "rem otomatis". Jika pengguna melakukan scrolling terlalu cepat atau terlalu lama (lebih dari 1 jam non-stop), algoritma akan secara halus memperlambat pemuatan konten dan menyisipkan kartu "Pause & Breathe", mengingatkan pengguna untuk kembali ke dunia nyata.

Migrasi Besar-Besaran Gen Z dan Gen Alpha

Data demografi pengguna awal Upscrolled menunjukkan tren yang menarik. Sebanyak 75% dari 25 juta pengguna pertamanya berasal dari kelompok usia 15 hingga 24 tahun (Gen Z akhir dan Gen Alpha).

Generasi ini, yang tumbuh besar dengan gawai di tangan, ternyata mulai menyadari dampak buruk media sosial terhadap kesehatan mental mereka. Mereka tidak ingin berhenti menggunakan media sosial, tetapi mereka menginginkan media sosial yang lebih "sehat" dan tidak manipulatif.

"Di TikTok, saya merasa cemas jika tidak mengikuti tren belanja terbaru. Di Upscrolled, saya merasa seperti sedang melihat pameran seni digital. Tidak ada tekanan untuk membeli, tidak ada suara text-to-speech yang bising," ujar Sarah (19), seorang mahasiswa desain di Jakarta yang telah menghapus akun TikTok-nya bulan lalu.

Tantangan Monetisasi: Bisakah Bertahan?

Pertanyaan skeptis dari para investor Wall Street adalah: "Bagaimana aplikasi ini menghasilkan uang jika mereka menolak iklan dan e-commerce?"

CEO Upscrolled, dalam sebuah wawancara, menjelaskan bahwa mereka mengadopsi model bisnis Freemium Subscription. Aplikasi ini gratis digunakan, tetapi pengguna bisa membayar biaya langganan bulanan yang terjangkau (sekitar Rp29.000) untuk fitur tambahan seperti kualitas video 8K, kustomisasi tema, dan lencana pendukung kreator.

Selain itu, Upscrolled menerapkan sistem "Creator Grant" di mana pendapatan langganan dibagikan langsung kepada kreator konten berdasarkan kualitas interaksi, bukan jumlah views semata. Ini menciptakan ekosistem di mana kreator berlomba-lomba membuat konten berkualitas tinggi, bukan konten sensasional atau clickbait.

Baca juga: TikTok Buka Suara! Rumor Tokopedia Ditutup Resmi Dinyatakan Hoaks

Respons Panik Raksasa Teknologi

Kesuksesan kilat Upscrolled tentu tidak luput dari pantauan radar kompetitor. Meta (induk Instagram/Facebook) dikabarkan sedang menggelar rapat darurat untuk membahas fitur tiruan. Sementara itu, ByteDance (induk TikTok) dirumorkan akan segera meluncurkan mode "Lite" atau "Pure" yang mematikan fitur belanja bagi pengguna berbayar.

Namun, sejarah teknologi mencatat bahwa meniru fitur saja tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan pengguna yang sudah hilang. Ketika sebuah platform kehilangan "jiwa"-nya dan ditinggalkan oleh anak muda—pencipta tren—biasanya itu adalah awal dari akhir.

Apakah Upscrolled akan menjadi "The Next Big Thing" yang bertahan lama, atau hanya tren sesaat seperti Clubhouse di tahun 2021? Masih terlalu dini untuk memastikan. Namun, angka 25 juta pengguna dalam sebulan adalah bukti nyata bahwa dunia sedang dahaga akan alternatif. Pengguna internet tahun 2026 telah bersuara: mereka ingin menjadi manusia lagi, bukan sekadar data untuk algoritma iklan.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(WN/ZA)

Share :