
Foto: Shutterstock.com
Teknologi.id – Pemahaman medis konvensional yang meyakini bahwa kematian adalah sebuah proses instan kini mulai dipertanyakan. Ilmuwan kini mulai menguraikan secara lebih rinci tahapan yang terjadi pada tubuh manusia setelah meninggal dunia. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan temuan mengejutkan: kematian bukanlah kejadian seketika, dan kesadaran manusia dapat bertahan selama berjam-jam setelah fungsi jantung terhenti.
Temuan sains yang dipublikasikan baru-baru ini menyoroti bahwa berhentinya detak jantung untuk memompa darah, serta berhentinya otak dalam mengirimkan impuls listrik, tidak serta-merta menghapus kesadaran seseorang pada detik yang sama.
Penelitian ini dipimpin oleh Anna Fowler, seorang peneliti dari Arizona State University. Fowler melakukan penelusuran mendalam dengan menganalisis lebih dari 20 studi yang secara khusus meneliti pengalaman mendekati kematian atau Near Death Experience (NDE). Analisis yang dilakukan Fowler tidak hanya terbatas pada subjek manusia, tetapi juga mencakup observasi pada hewan, dengan tujuan utama untuk memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh otak sesaat setelah napas terakhir diembuskan.
Baca juga: NASA & Google Kembangkan Dokter AI untuk Astronot, Bisa Selamatkan Nyawa!
Memori Jelas Saat 'Penghentian Sirkulasi Total'

Foto: THE CONVERSATION
Berdasarkan analisis dari puluhan studi tersebut, Fowler mendapati bahwa seseorang masih sangat mungkin mempertahankan kesadarannya selama beberapa jam meski secara klinis fungsi jantung dan otaknya telah dinyatakan berhenti.
Klaim ini diperkuat oleh sejumlah temuan medis pada pasien yang mengalami kondisi 'penghentian sirkulasi total'. Menurut laporan studi tersebut, beberapa pasien dalam kondisi sirkulasi yang terhenti total itu ternyata masih mampu mengingat dengan sangat jelas rentetan peristiwa yang terjadi di sekeliling mereka setelah mereka dinyatakan meninggal dunia secara medis.
"Kematian yang dulunya diyakini sebagai batas akhir yang instan, justru menampakkan dirinya sebagai sebuah proses," jelas Anna Fowler sebagaimana dikutip dari publikasi Unilad. "Sebuah lanskap yang berubah-ubah di mana kesadaran dan biologi bertahan lebih lama dari yang pernah kita bayangkan."
Fowler menjabarkan lebih lanjut bahwa pada saat jantung berhenti berdetak, sel-sel di dalam tubuh memang akan mulai mati. Akan tetapi, matinya sel-sel fisik tersebut tidak membuat kesadaran individu lenyap seketika. Karena itu, ia mengusulkan pemahaman baru bahwa kematian tidak boleh lagi dilihat sebagai sebuah 'pemadaman kehidupan yang terjadi tiba-tiba', melainkan harus dipahami sebagai titik awal dari sebuah transformasi biologis yang bertahap.
Baca juga: Naegleria Fowleri, Amoeba Pemakan Otak yang Merenggut Nyawa Pria 50 Tahun di Korsel
Desakan Pembaruan Definisi dan Analogi Kanker
Berpijak pada temuan-temuan ini, Fowler menyerukan agar definisi ilmiah dan medis tentang kematian segera diperbarui. Ia secara spesifik menyoroti standar definisi kematian yang saat ini berlaku di Amerika Serikat. Menurutnya, pedoman yang berasal dari era 1980-an tersebut sudah berstatus usang dan tidak lagi mampu mengakomodasi temuan sains modern.
Kematian, menurut argumen Fowler, harus dipertimbangkan secara terstruktur dalam beberapa fase.
"Kematian harus dipertimbangkan dalam beberapa fase. Sama seperti kanker yang memiliki stadium satu hingga tiga, kematian pun memiliki tahapan-tahapannya sendiri," pungkasnya memberikan analogi.
Melalui rilis studi ini, Fowler menaruh harapan besar agar batas-batas keilmuan dapat saling bersinggungan. Ia berharap dunia kedokteran, filsafat, dan etika dapat duduk bersama untuk mendekati, mengkaji, dan mendefinisikan ulang misteri kematian manusia dengan pemahaman yang jauh lebih dalam dan jelas.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)