Cara Gila YouTuber Nyalakan PC Pakai 64 Baterai AA, Kuat Main Minecraft 33 Menit!

Yasmin Najla Alfarisi . April 10, 2026

Foto: Tangkapan Layar YouTube ScuffedBits

Teknologi.id -  Pernahkah Anda membayangkan sebuah komputer desktop (PC) yang biasanya haus daya listrik rumah, justru dinyalakan menggunakan baterai AA yang biasa kita temukan pada jam dinding atau remote TV? Ide "nyeleneh" inilah yang diwujudkan oleh seorang kreator konten teknologi melalui kanal YouTube ScuffedBits. Dalam eksperimennya yang bertajuk “How Long Can 64 AA Batteries Run PC Games?”, ia mencoba menantang hukum fisika dan batasan perangkat keras komputer.

Eksperimen ini bukan sekadar iseng, melainkan sebuah demonstrasi teknis tentang bagaimana pasokan daya bekerja. ScuffedBits harus merangkai puluhan baterai rumahan untuk menggantikan peran Power Supply Unit (PSU) konvensional yang biasanya menyuplai daya ratusan watt.

Baca juga: Peneliti Jepang Ciptakan Teknologi Ubah Keringat Jadi Listrik untuk Sensor Wearable

Rangkaian di Balik Pasokan Daya Baterai

Secara teknis, menyalakan PC dengan baterai AA adalah tantangan besar karena adanya perbedaan profil energi. Baterai alkalin dirancang untuk melepaskan energi secara lambat, sementara PC membutuhkan lonjakan arus yang besar dan instan, terutama saat proses booting atau menjalankan aplikasi berat.

Untuk mengatasi hal ini, ScuffedBits membangun paket daya khusus yang terdiri dari 64 baterai AA. Rangkaian ini merupakan campuran dari baterai karbon-seng, alkalin, hingga baterai isi ulang jenis nickel-metal hydride (NiMH). Seluruh baterai tersebut disambungkan menggunakan kabel khusus dan soket baterai hingga menghasilkan tegangan sekitar 25 volt.

Agar sistem lebih stabil, ia melakukan modifikasi signifikan pada rancangan sirkuitnya. Belajar dari kegagalan eksperimen sebelumnya yang hanya menggunakan 56 baterai, kali ini ia menyolder ulang seluruh rangkaian dengan kabel yang lebih tebal dan menambahkan dua kapasitor besar. Komponen kapasitor ini berfungsi krusial sebagai penyangga (buffer) untuk menstabilkan tegangan yang cenderung naik-turun serta membantu menangani lonjakan beban daya saat perangkat keras mulai bekerja maksimal.

Spesifikasi PC dan Performa Saat Uji Coba

Foto: Tangkapan Layar YouTube ScuffedBits

Perangkat yang digunakan dalam pengujian ini tergolong PC desktop kelas pemula (entry-level). Spesifikasinya meliputi prosesor Intel Core i3-530 dengan kecepatan 2,93 GHz, RAM sebesar 8 GB, serta media penyimpanan berupa SSD SATA 2,5 inci yang menjalankan sistem operasi Windows 10.

Hasilnya cukup mengejutkan. Berbeda dengan percobaan awal yang hanya bertahan 4 menit, konfigurasi 64 baterai kali ini mampu membuat PC menyala normal selama kurang lebih 33 menit. Selama durasi tersebut, ScuffedBits melakukan serangkaian pengujian ekstrem:

  • Bermain Game Kasual: PC berhasil menjalankan judul indie seperti A Short Hike dan game populer Minecraft dengan relatif lancar.

  • Uji Benchmark: ScuffedBits nekat menjalankan Cinebench, sebuah perangkat lunak uji performa yang biasanya memaksa prosesor bekerja pada kapasitas 100%. Luar biasanya, PC tetap mampu bertahan meski beban daya meningkat tajam.

  • Eksperimen Lanjutan: Ia sempat mencoba memainkan Portal 2, namun sesaat sebelum permainan dimulai, sistem langsung mati total karena kehabisan daya.

ScuffedBits bahkan melangkah lebih jauh dengan mengonversi input daya monitor agar berjalan di atas 8 baterai AA isi ulang, serta menggunakan keyboard dan mouse nirkabel yang juga bertenaga baterai. Seluruh sistem "serba AA" ini sempat berfungsi selama 2 menit 14 detik sebelum akhirnya menyerah.

Baca juga: Cuma Butuh 1 Volt! Teknologi AC Berbasis Garam Ini Janjikan Pendinginan Super Irit

Mengapa Baterai AA Bukan Solusi Realistis?

Eksperimen ini membuktikan bahwa secara teoretis, baterai AA memang bisa menyalakan PC, namun secara praktis hal ini sangat tidak efisien. Masalah utamanya bukan terletak pada voltase, melainkan pada ketidakmampuan baterai AA dalam mempertahankan aliran arus (current) yang besar dalam jangka waktu lama.

Desktop modern membutuhkan arus yang stabil dalam hitungan Ampere, sementara baterai AA standar lebih optimal untuk penggunaan skala miliAmpere. Selain itu, penggunaan kabel yang tipis pada rangkaian awal sempat menjadi hambatan karena tidak mampu menahan beban panas dari arus yang dipaksa keluar.

Meskipun berakhir dengan PC yang mati kehabisan daya, video ini memberikan edukasi menarik mengenai manajemen daya. Bagi para pengguna harian, eksperimen ini menegaskan mengapa komputer kita tetap membutuhkan PSU yang andal dan mengapa perangkat portabel masa kini lebih memilih sel lithium-ion yang memang dirancang untuk tingkat pelepasan daya (discharge rate) yang tinggi.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

Share :