
Foto: Gemini
Teknologi.id – Di era teknologi kesehatan yang sudah sangat maju saat ini, kita seringkali melupakan bahwa fondasi pengobatan modern di Indonesia banyak berutang pada pengamatan mendalam terhadap tradisi lokal. Laporan terbaru CNBC Indonesia membawa kita kembali ke abad ke-19, menceritakan sosok fenomenal bernama Friedrich August Carl Waltz (FAC Waltz), seorang dokter asal Jerman yang bertugas di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Kisahnya kembali menjadi sorotan di tahun 2026 karena memberikan perspektif baru tentang bagaimana sains seharusnya merangkul kearifan lokal.
FAC Waltz tiba di Semarang pada tahun 1823 dengan bekal pendidikan medis Eropa yang kaku. Namun, setibanya di tanah Jawa, ia dihadapkan pada sebuah realitas yang mengguncang egonya: rumah sakit yang ia kelola sepi, sementara para dukun di kampung-kampung justru kebanjiran pasien. Menariknya, pasien tersebut bukan hanya penduduk pribumi, melainkan juga orang-orang Eropa kelas atas yang merasa pengobatan Barat saat itu gagal menyembuhkan mereka.
Fenomena Budaya: Ketika Eropa Percaya Dukun
Carl Waltz mengamati sebuah kejanggalan sosiologis. Pada masa itu, kedokteran Eropa masih berada pada tahap transisi dan seringkali menggunakan metode ekstrem seperti bloodletting (pengeluaran darah). Sebaliknya, pengobatan oleh dukun di Nusantara terlihat lebih lembut dan seringkali berhasil secara ajaib. Rasa penasaran intelektual inilah yang mendorong Waltz untuk "turun ke jalan" dan melakukan riset lapangan yang tidak biasa bagi seorang dokter kolonial.
Ia mulai mengunjungi tempat praktik para dukun, memperhatikan ritual mereka, dan yang paling penting, mencatat setiap jenis tanaman yang diberikan kepada pasien. Waltz menyadari bahwa masyarakat saat itu memandang penyakit bukan sekadar masalah fisik, melainkan gangguan keseimbangan antara manusia dan alam. Namun, sebagai ilmuwan, Waltz mencoba mencari penjelasan rasional di balik setiap ritual mistis tersebut.
Baca juga: Menkes Budi Berencana Latih AI untuk Bantu Dokter Deteksi Stroke hingga Kanker
Memilah Sains dari Mistis: Rahasia di Balik Mantra
Salah satu temuan paling brilian dari riset Carl Waltz adalah kesimpulannya mengenai peran "mantra" dan "ramuan". Dalam catatan penelitiannya, ia menjelaskan bahwa mantra yang dibacakan oleh para dukun sebenarnya berfungsi sebagai terapi psikologis atau sugesti yang sangat kuat (efek plasebo yang terarah). Mantra menciptakan ketenangan dan kepercayaan diri pada pasien bahwa mereka akan sembuh.
Namun, Waltz menegaskan bahwa penyembuh fisik yang sebenarnya terletak pada ramuan herbal yang diberikan. Ia mulai membedah kandungan tanaman seperti kunyit, temulawak, jahe, hingga berbagai jenis dedaunan hutan. Waltz menemukan bahwa para dukun memiliki pengetahuan botani yang luar biasa presisi, meskipun tidak tertulis dalam jurnal ilmiah. Mereka tahu kapan waktu terbaik memetik tanaman dan bagaimana cara mengolahnya agar zat aktifnya tidak hilang—pengetahuan yang didapat dari observasi ribuan tahun.

Foto: Gemini
Eksperimen Mandiri dan Pengakuan Medis
Carl Waltz dikenal sangat totalitas. Tak jarang ia mencoba sendiri ramuan-ramuan tersebut untuk memastikan dosis dan efek sampingnya sebelum diberikan kepada pasien di rumah sakit militer. Keberaniannya ini berbuah manis; ia berhasil mengintegrasikan penggunaan jamu atau herbal lokal ke dalam protokol pengobatan rumah sakit resmi. Langkah ini sangat revolusioner karena pada saat itu banyak dokter Eropa yang memandang rendah praktik lokal sebagai takhayul belaka.
Berkat dedikasinya, Waltz menyusun dokumentasi sistematis tentang flora medis di Nusantara. Namanya menjadi terkenal di Eropa setelah laporan-laporannya diterbitkan dan menunjukkan bahwa tanah Indonesia adalah "apotek raksasa" dunia. Risetnya membuktikan bahwa dukun sebenarnya adalah praktisi botani handal yang menyembunyikan sains mereka di balik selubung budaya dan ritual.
Baca juga: Krisis Dokter Spesialis: AI Beri Harapan Baru Bantu Rumah Sakit Layani Pasien
Relevansi di Tahun 2026: Kebangkitan Bio-Teknologi Lokal
Munculnya kembali artikel mengenai FAC Waltz di tahun 2026 berkaitan erat dengan tren global Bio-Prospecting. Industri farmasi modern kini kembali melirik hutan tropis Indonesia untuk mencari obat penyakit-penyakit kronis yang belum ditemukan penawarnya. Kisah Waltz menjadi pengingat bagi para ilmuwan masa kini bahwa untuk maju ke masa depan, kita terkadang harus menoleh ke belakang dan menghormati apa yang sudah dipraktikkan oleh para leluhur.
Indonesia di tahun 2026 tengah berupaya mematenkan ribuan senyawa herbal asli Nusantara. Semangat Carl Waltz yang tidak menghakimi, melainkan meneliti dengan penuh rasa hormat, menjadi standar etika baru dalam riset kesehatan transnasional. Waltz menunjukkan bahwa sains yang sesungguhnya tidaklah sombong; ia selalu bersedia belajar dari alam dan tradisi sesederhana apapun bentuknya.
Jembatan Antara Dua Dunia
Friedrich August Carl Waltz bukan sekadar seorang dokter Jerman yang bertugas di Semarang. Ia adalah jembatan budaya yang berhasil menyatukan logika medis Barat dengan empirisitas tradisional Timur. Warisannya adalah jamu yang kini sudah naik kelas menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Dari tangannya, dunia tahu bahwa di balik rapalan mantra dukun RI, tersimpan rahasia botani yang mampu menyelamatkan nyawa manusia.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)