
Foto: OpenAI
Teknologi.id – Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sering kali diperdebatkan dampaknya terhadap lapangan kerja atau kreativitas manusia. Namun, di balik diskursus teknis tersebut, AI telah mulai menunjukkan sisi humanisnya yang nyata: menjadi jembatan informasi krusial di saat krisis, melampaui batas geografis dan zona waktu.
Sebuah kisah inspiratif baru-baru ini mencuat dari Surabaya, Jawa Timur. Seorang ibu bernama Fifi (bukan nama sebenarnya), yang mendadak mengalami krisis kesehatan serius, berhasil mendapatkan pengawasan medis yang lebih terstruktur berkat bantuan putrinya, Ayrin Santoso, yang berada ribuan kilometer jauhnya di San Francisco, Amerika Serikat.
Tanpa latar belakang medis yang mendalam, Ayrin memanfaatkan kecanggihan ChatGPT, chatbot AI yang kini telah berevolusi dengan fitur kesehatan khusus, untuk menjadi "asisten pribadi" dalam memantau kondisi ibunya secara real-time.
Krisis di Hari Ulang Tahun
Drama ini bermula tepat pada hari ulang tahun Fifi. Alih-alih merayakan dengan sukacita, keluarga dikejutkan oleh keluhan Fifi yang mendadak kehilangan penglihatan pada salah satu matanya. Kepanikan melanda keluarga di Surabaya yang segera melarikannya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Di belahan bumi lain, Ayrin menerima kabar tersebut dengan perasaan campur aduk. Jarak fisik yang memisahkan benua membuatnya tidak bisa hadir langsung untuk memegang tangan sang ibu atau berbicara tatap muka dengan dokter. Namun, ia menolak untuk pasrah hanya sebagai pendengar pasif dari sambungan telepon.
Ayrin memutuskan untuk mengambil peran aktif sebagai "manajer kasus" jarak jauh. Ia mengumpulkan setiap serpihan informasi yang didapat dari keluarganya di Surabaya—mulai dari gejala awal, kronologi kejadian, hingga resep obat tetes mata yang diberikan pada pemeriksaan pertama.
ChatGPT Sebagai Penerjemah Medis
Tantangan terbesar bagi keluarga pasien awam adalah memahami terminologi medis yang sering kali rumit. Di sinilah Ayrin memberdayakan teknologi. Ia memasukkan data kondisi ibunya ke dalam ChatGPT, termasuk riwayat hipertensi (darah tinggi) yang sudah lama diderita sang ibu.
Hasilnya mencengangkan. AI tersebut mampu "menerjemahkan" jargon medis menjadi bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh orang awam. Lebih dari itu, ChatGPT membantu Ayrin mengorelasikan gejala hilangnya penglihatan dengan lonjakan tekanan darah ekstrem—sebuah kondisi yang dikenal sebagai retinopati hipertensi atau stroke mata dalam istilah awam.
"Di situasi seperti ini, teknologi sangat membantu untuk memahami istilah medis dengan bahasa sederhana," ungkap Ayrin. Berbekal pemahaman baru ini, ia menyusun daftar pertanyaan terarah yang kemudian dikirimkan kepada keluarganya di Surabaya untuk ditanyakan kepada dokter yang merawat.
Baca juga: Resmi! OpenAI Uji Iklan di ChatGPT, Jamin Tak Bakal Ganggu Kualitas Jawaban AI
Deteksi Dini Bahaya Hipertensi
Berkat panduan pertanyaan yang disusun Ayrin via ChatGPT, keluarga di Surabaya menjadi lebih kritis dan proaktif. Pemeriksaan lanjutan pun dilakukan dengan lebih intensif. Benar saja, hasil pengukuran menunjukkan tekanan darah Fifi melonjak hingga di atas 200 mmHg—angka yang sangat berbahaya dan berpotensi memicu stroke fatal atau kerusakan organ permanen lainnya.
Dokter pun segera mengambil tindakan medis ketat. Fifi menjalani perawatan intensif selama lebih dari satu minggu hingga kondisi tekanan darahnya stabil dan penglihatannya berangsur pulih.
Ayrin menegaskan bahwa peran AI di sini bukanlah sebagai pengganti dokter. "Kami sekeluarga sepakat, diagnosis dan penanganan tetap harus dan hanya boleh dilakukan oleh dokter," ujarnya. Namun, AI berfungsi sebagai alat pemberdayaan (empowerment tool) yang membuat keluarga pasien lebih teredukasi, tenang, dan siap berdiskusi dengan tenaga medis.
ChatGPT Health

Foto: OpenAI
Fenomena penggunaan AI untuk konsultasi kesehatan informal ini rupanya telah diantisipasi oleh pengembangnya. OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, baru-baru ini meluncurkan fitur ChatGPT Health. Fitur ini dirancang khusus sebagai ruang privat bagi pengguna untuk mendiskusikan topik kesehatan dan kebugaran tanpa tercampur dengan percakapan umum.
CEO Aplikasi OpenAI, Fidji Simo, menyebut fitur ini sebagai respons terhadap tantangan sistem kesehatan global: biaya tinggi, antrean dokter yang panjang, dan kurangnya kesinambungan informasi. Dengan AI, pengguna dapat memantau pola kesehatan mereka dari waktu ke waktu, mempersiapkan diri sebelum kunjungan dokter, dan memahami hasil lab dengan lebih baik.
Baca juga: ChatGPT Go Resmi Rilis Global, AI Ringan OpenAI Kini Bisa Jalan di HP RAM 1 GB
Meskipun demikian, batasan etis tetap dijaga ketat. ChatGPT Health diprogram untuk tidak memberikan diagnosis medis final atau resep obat. Ia bertindak sebagai pendamping informatif, bukan dokter digital.
Kisah Ayrin dan Fifi adalah bukti nyata bagaimana teknologi, jika digunakan dengan bijak, dapat memperpendek jarak dan menyelamatkan nyawa. Di masa depan, kolaborasi antara kecerdasan buatan dan keahlian medis manusia diprediksi akan menjadi standar baru dalam perawatan kesehatan, memberikan ketenangan pikiran bagi keluarga pasien, di mana pun mereka berada.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)