TikTok Buka Suara! Rumor Tokopedia Ditutup Resmi Dinyatakan Hoaks

Wildan Nur Alif Kurniawan . February 05, 2026


Foto: POINTSTAR

Teknologi.id – Di tengah gelombang spekulasi yang memanas di kalangan pelaku industri e-commerce dan jutaan pelaku UMKM tanah air, TikTok akhirnya buka suara untuk meredam rumor liar yang beredar. Kabar yang menyebutkan bahwa aplikasi Tokopedia akan segera ditutup total dan seluruh layanannya dipindahkan ke TikTok Shop dipastikan adalah hoaks.

Pernyataan tegas ini dikeluarkan langsung oleh manajemen TikTok Indonesia pada Rabu (4/2/2026), merespons keresahan pasar yang muncul pasca-serangkaian perubahan strategis di tubuh perusahaan gabungan tersebut.

Klarifikasi Resmi: Komitmen Investasi Berkelanjutan


Foto: Cubic.id

Juru Bicara TikTok menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk "mematikan" identitas Tokopedia sebagai marketplace mandiri.

"Kami mendengar rumor mengenai masa depan Tokopedia. Rumor tersebut tidak benar," ujar perwakilan manajemen tersebut.

Lebih lanjut, pihak manajemen menekankan bahwa Tokopedia akan terus beroperasi secara penuh seperti biasa. Fokus utama perusahaan saat ini justru adalah meningkatkan pengalaman pengguna (user experience) dan memperkuat ekosistem bagi para penjual. TikTok menyatakan komitmennya untuk terus menyuntikkan investasi ke dalam Tokopedia dan pasar Indonesia secara keseluruhan, bukan malah menarik diri.

"Tokopedia akan terus beroperasi penuh dan fokus pada pengalaman pengguna dan pembeli untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang," tambah pernyataan tersebut.

Akar Masalah: Mengapa Rumor Ini Muncul?

Analisis redaksi kami menemukan bahwa kepanikan pasar ini tidak muncul dari ruang hampa. Ada beberapa faktor pemicu yang membuat spekulasi penutupan Tokopedia terdengar masuk akal bagi sebagian pihak, meskipun kini telah dibantah.

  1. Pergeseran Pucuk Pimpinan: Spekulasi memuncak tepat sepekan setelah perombakan besar di jajaran eksekutif. Melissa Siska Juminto, sosok veteran yang telah memimpin Tokopedia sejak era GoTo, digeser posisinya dari CEO menjadi Komisaris. Kekosongan atau transisi kepemimpinan sering kali ditafsirkan pasar sebagai sinyal ketidakstabilan atau perubahan arah bisnis yang radikal.

  2. Efisiensi Karyawan (PHK): Sejak ByteDance (induk TikTok) mengakuisisi 75% saham Tokopedia pada Januari 2024, langkah efisiensi terus dilakukan. Data yang kami himpun menunjukkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 420 karyawan sepanjang pertengahan 2025. Gelombang pertama terjadi pada Juli (180 karyawan) dan disusul Agustus (240 karyawan). Divisi yang terdampak mencakup Teknologi Informasi (IT), Customer Care, hingga tim gudang (fulfillment). Pengurangan tim operasional inti inilah yang memicu dugaan bahwa operasional aplikasi akan dihentikan.

  3. Dominasi Transaksi TikTok: Meskipun Tokopedia masih menduduki peringkat ketiga sebagai aplikasi ritel yang paling banyak diunduh menurut data Sensor Tower, TikTok (yang dikategorikan sebagai media sosial) mencatatkan nilai transaksi (GMV) yang jauh lebih masif di Indonesia. Hal ini memunculkan teori bahwa mempertahankan dua aplikasi terpisah tidak lagi efisien bagi induk perusahaan.

Baca juga: Segera Ganti Password! 149 Juta Akun Gmail hingga TikTok Bocor di Internet

Isu 'Anak Tiri' Pedagang Lokal

Selain rumor penutupan, manajemen TikTok-Tokopedia juga sedang disorot terkait isu keberpihakan. Beredar kabar bahwa pedagang asal China mendapatkan insentif khusus berupa subsidi iklan hingga 30% untuk berdagang di TikTok Shop, sebuah privilese yang tidak dinikmati oleh pedagang lokal Indonesia.

Kondisi ini menambah sensitivitas isu. Jika Tokopedia—yang selama ini dicitrakan sebagai pahlawan UMKM lokal—ditutup, dikhawatirkan dominasi produk impor akan semakin tak terbendung di platform TikTok Shop yang terintegrasi. Namun, dengan adanya bantahan resmi ini, TikTok tampaknya ingin menegaskan kembali posisinya sebagai mitra strategis bagi ekonomi digital Indonesia, bukan ancaman.

Baca juga: Tokopedia & TikTok Shop Kenakan Biaya Rp1.250/Pesanan Mulai 11 Agustus 2025!

Peta Persaingan E-Commerce 2026

Tahun 2026 menjadi tahun pembuktian bagi model bisnis "Social Commerce". TikTok, dengan pendapatan yang kini melampaui raksasa teknologi lain seperti Google One dan Vidio di pasar Indonesia, memegang kendali penuh atas arah pasar.

Mempertahankan Tokopedia sebagai entitas terpisah namun terintegrasi (backend integration) tampaknya menjadi strategi jalan tengah yang dipilih ByteDance. Ini memungkinkan mereka untuk tetap melayani segmen pembeli konvensional yang lebih nyaman belanja di aplikasi marketplace tradisional, sembari terus menggenjot transaksi impulsif lewat live shopping di aplikasi TikTok.

Bagi jutaan seller dan konsumen setia "Si Hijau", klarifikasi ini adalah angin segar. Tokopedia masih ada, masih beroperasi, dan menurut janji pemilik barunya: masih akan terus bertumbuh.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News

(WN/ZA)

Share :