
Foto: Adi FR/ DetikINET
Teknologi.id – Stereotip yang menganggap bahwa pendidikan teknologi dan pengembangan perangkat lunak hanya diperuntukkan bagi generasi muda kini dipatahkan secara nyata. Apple Developer Academy bersama dengan Apple Developer Institute di Indonesia secara resmi menegaskan bahwa institusi pendidikan mereka membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin belajar, tanpa menetapkan batas usia maksimal bagi para peserta.
Gordon Shukwit, selaku Senior Director Apple Developer Academy and Institute, mengonfirmasi langsung kebijakan inklusif tersebut. Ia menyatakan bahwa program pendidikan teknologi yang dijalankan oleh Apple di Indonesia sama sekali tidak mematok batasan usia, memberikan kesempatan merata bagi usia belasan tahun hingga warga lanjut usia.
"Kami tidak memiliki batas usia. Secara umum peserta mulai dari usia 18 tahun, tapi kami pernah memiliki peserta berusia 82 tahun," ungkap Gordon, menjelaskan betapa luasnya jangkauan demografi peserta didik yang pernah tergabung di dalam akademi tersebut.
Pola Pikir Sebagai Kunci dan Kekuatan Keberagaman

Foto: Adi FR/ DetikINET
Kehadiran peserta yang mencapai usia 82 tahun menjadi bukti konkret bahwa semangat untuk memahami teknologi tidak pernah dibatasi oleh waktu. Menurut pandangan Gordon, faktor penentu keberhasilan seseorang dalam mengikuti program ini bukanlah angka usia, melainkan pola pikir (mindset) serta tingginya semangat untuk terus belajar.
"Kami percaya pola pikir adalah kunci. Tidak ada batas untuk kreativitas dan inovasi," tegas Gordon.
Secara statistik demografi, mayoritas peserta yang tergabung di dalam program ini memang didominasi oleh rentang usia 24 hingga 25 tahun. Meski demikian, Gordon menyoroti fakta bahwa program ini juga diikuti oleh banyak kalangan profesional senior yang telah menginjak usia 40 hingga 50 tahun ke atas. Keberagaman latar belakang dan lintas generasi dalam satu ruang belajar ini tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan justru menjadi nilai tambah yang sangat krusial dalam memperkaya proses belajar dan pertukaran sudut pandang antar-peserta.
Baca juga: Tim Cook Mundur dari CEO Apple, John Ternus Siap Pimpin Mulai September 2026
Kurikulum Komprehensif: Lebih dari Sekadar Coding
Lebih lanjut, metode pembelajaran yang diimplementasikan di Apple Developer Academy dirancang secara komprehensif. Program ini tidak membatasi fokusnya pada pembelajaran teknis penulisan kode pemrograman (coding) semata. Kurikulum tersebut diperluas untuk mencakup keterampilan kolaborasi, pemahaman desain, hingga proses pengembangan ide awal.
Peserta didorong secara aktif untuk bekerja di dalam format tim. Mereka diberikan ruang untuk mengembangkan proyek rancangan mereka sendiri dengan target yang ambisius, yakni mengubah ide tersebut menjadi produk digital yang nyata atau bahkan menjadi cikal bakal perusahaan rintisan (startup). Upaya ini juga sejalan dengan inisiatif pemerintah, di mana sebelumnya Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang meresmikan Apple Developer Institute dengan fokus pada kecerdasan buatan (AI) hingga pengembangan startup.
Untuk melatih kemampuan penyelesaian masalah (problem solving) dan inovasi, setiap peserta diwajibkan untuk melalui beberapa kali iterasi (pengulangan dan penyempurnaan) proyek dalam rentang waktu satu tahun.
Baca juga: Selamat Tinggal Mac Intel! macOS 27 Akhiri Dukungan bagi Perangkat Lama
Intensitas Belajar dan Fleksibilitas Program Institute
Dalam mengukur tingkat kesuksesan program, Gordon memiliki metrik tersendiri. Baginya, keberhasilan tidak sekadar diukur dari deretan angka atau nilai akademis, melainkan dari tingkat antusiasme para peserta dalam menyerap ilmu.
"Ukuran terbaik dari program pendidikan adalah ketika siswa tidak sabar untuk kembali keesokan harinya," jelas Gordon. Hal ini terbukti dari suasana belajar yang sangat intens di akademi, di mana peserta bisa menghabiskan waktu sekitar 20 jam per minggu dengan tingkat keterlibatan yang amat tinggi. Bahkan, Gordon menyebutkan bahwa tantangan terbesar bagi pihak penyelenggara sering kali adalah meyakinkan para peserta untuk menyudahi pekerjaan dan pulang untuk beristirahat.
Sebagai pelengkap dari program Academy yang intensif, Apple juga menghadirkan Apple Developer Institute yang didesain secara khusus agar lebih fleksibel, terutama bagi kalangan profesional. Program Institute ini memungkinkan peserta untuk mengikuti berbagai modul pelatihan secara terpisah, tanpa harus terikat komitmen waktu yang panjang layaknya program penuh waktu.
"Kami ingin memastikan siapa pun punya kesempatan untuk belajar dan berkembang, di tahap mana pun dalam karier mereka," pungkas Gordon. Melalui pendekatan ganda ini, Apple berupaya memastikan bahwa akses terhadap pendidikan teknologi tingkat tinggi dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tanpa terhalang oleh faktor usia maupun jenjang karier.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)