
Foto: Mashable
Teknologi.id – Elon Musk, miliarder di balik raksasa teknologi xAI dan SpaceX, kembali memicu perdebatan panas di dunia pendidikan dan medis. Peter H. Diamandis dari X Prize Foundation, Musk mengeluarkan pernyataan yang sangat lugas: sekolah kedokteran saat ini dianggap "tidak ada gunanya" karena kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan segera mengungguli kemampuan kognitif dan teknis manusia dalam merawat pasien.
Pernyataan ini bukan sekadar kritik terhadap sistem pendidikan, melainkan sebuah visi radikal tentang bagaimana teknologi akan mendemokratisasi layanan kesehatan tingkat elit. Menurut Musk, di masa depan yang sangat dekat, setiap individu akan memiliki akses ke perawatan medis yang kualitasnya jauh lebih baik daripada perawatan yang diterima oleh presiden atau pemimpin dunia saat ini. Hal ini dimungkinkan karena AI dapat memproses miliaran data medis secara instan, melakukan diagnosis dengan akurasi hampir sempurna, dan menyarankan tindakan medis yang paling efektif tanpa kelelahan fisik atau bias manusiawi.
Masa Depan Pendidikan: Relevansi yang Dipertanyakan
Ketika Peter Diamandis bertanya secara eksplisit, "Jadi, jangan kuliah kedokteran?", Musk menjawab tanpa ragu, "Ya. Tidak ada gunanya." Musk berpendapat bahwa model pendidikan tradisional yang memakan waktu bertahun-tahun untuk menghafal prosedur dan teori akan menjadi usang di hadapan mesin yang memiliki basis data pengetahuan medis universal. Bahkan, ia menambahkan bahwa skeptisisme ini tidak hanya berlaku untuk kedokteran, tetapi hampir pada semua bentuk pendidikan formal yang tidak segera beradaptasi dengan kehadiran AI.
Musk menyoroti bahwa regenerasi profesi medis akan menghadapi tantangan besar karena generasi muda cenderung memiliki preferensi yang berbeda. Ia mengungkapkan fakta bahwa banyak anak muda di era digital mulai merasa lebih nyaman dan percaya untuk ditangani oleh robot daripada manusia, terutama dalam prosedur pembedahan yang presisi. Di mata mereka, mesin menawarkan konsistensi yang tidak bisa dijamin oleh tangan manusia yang bisa gemetar atau merasa lelah setelah berjam-jam bekerja.
Baca juga: OpenAI Akuisisi Startup Medis Torch, Siap Bawa AI Masuk ke Dunia Kesehatan!
Otomatisasi Medis: Belajar dari Teknologi LASIK
Untuk memperkuat argumennya, Musk memberikan contoh teknologi medis yang sudah mapan saat ini: operasi LASIK. Dalam prosedur perbaikan penglihatan tersebut, robot menggunakan laser untuk melakukan pembedahan pada bola mata dengan tingkat presisi mikroskopis yang mustahil dilakukan oleh tangan manusia. Musk mengajukan pertanyaan retoris kepada audiens, "Apakah Anda menginginkan dokter mata dengan laser tangan?"
Contoh ini digunakan untuk menggambarkan bahwa otomatisasi bukan lagi hal baru di dunia medis, melainkan standar masa depan. Jika robot sudah bisa menangani organ sensitif seperti mata dengan aman, maka prosedur bedah lainnya—yang dibantu oleh sistem AI seperti milik xAI atau teknologi serupa—hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi lebih unggul dan lebih murah daripada tenaga medis manusia. Musk percaya bahwa begitu teknologi ini mencapai skala global, biaya perawatan medis tingkat elit akan menurun drastis hingga hampir gratis dan tersedia untuk semua orang secara universal.

Foto: FemtoLasik
Pro dan Kontra: Visi Futuristik vs Realitas Empati
Pernyataan Musk ini tentu saja membelah pendapat publik di media sosial, terutama di platform X. Para pendukung visi Musk berpendapat bahwa kebenaran yang tidak populer adalah AI memang akan membuat sistem kesehatan saat ini tampak seperti "zaman kegelapan" dalam waktu singkat. Mereka memuji langkah Musk yang selalu berani menantang status quo demi efisiensi teknologi.
Di sisi lain, para pengkritik dan tenaga profesional medis menekankan bahwa AI bukanlah alternatif untuk segala hal. Kedokteran bukan hanya soal diagnosis data dan prosedur laser, melainkan juga soal empati, komunikasi antarmanusia, dan penilaian moral dalam situasi hidup dan mati yang kompleks—hal-hal yang hingga saat ini belum bisa direplikasi sepenuhnya oleh algoritma. Sekolah kedokteran tetap dipandang krusial untuk mencetak individu yang mampu mengawasi teknologi tersebut dan memberikan sentuhan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh pasien yang sedang sakit.
Baca juga: Menkes Budi Berencana Latih AI untuk Bantu Dokter Deteksi Stroke hingga Kanker
Menuju Era Kesehatan Berbasis Algoritma
Pernyataan Elon Musk di awal tahun 2026 ini memberikan sinyal bahwa pergeseran besar sedang terjadi. Apakah sekolah kedokteran benar-benar akan menjadi "tak guna" atau justru harus berevolusi menjadi sekolah "teknologi medis"? Satu hal yang pasti, dominasi AI di sektor kesehatan bukan lagi fiksi ilmiah. Dengan kekayaan Musk yang dikabarkan terus meroket hingga mencapai ribuan triliun rupiah di tahun ini, investasinya di bidang AI medis kemungkinan besar akan terus mendorong narasi ini menjadi kenyataan.
Dunia kini menanti apakah prediksi Musk akan terbukti, atau apakah peran manusia sebagai penyembuh tetap tak tergantikan oleh barisan kode pemrograman. Yang jelas, perdebatan ini telah membuka mata banyak pihak mengenai urgensi literasi teknologi bagi calon-calon tenaga profesional di masa depan.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)