
Teknologi.id – Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat di sejumlah wilayah perlu lebih waspada terhadap kondisi udara. Abu vulkanik dilaporkan telah mencapai sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/2026) mendeteksi sebaran abu vulkanik yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pemantauan terhadap pergerakan abu terus dilakukan karena arah sebarannya dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dapat memantau kualitas udara secara digital melalui Google Maps. Fitur tersebut menampilkan informasi indeks kualitas udara (AQI) berdasarkan lokasi yang dipilih pengguna.
Baca juga: Cara Cek Kualitas Udara di HP, Waspadai Abu Anak Krakatau dan Karhutla
Cara cek kualitas udara di Google Maps
Fitur kualitas udara di Google Maps tersedia melalui aplikasi maupun versi web. Berikut langkah-langkah yang bisa dicoba:
Lewat aplikasi Google Maps
- Buka aplikasi Google Maps di HP.
- Pastikan lokasi atau wilayah yang ingin diperiksa sudah terlihat di peta.
- Ketuk ikon Lapisan peta berbentuk kotak di bagian kanan atas.
- Pilih opsi Kualitas Udara.
- Google Maps akan menampilkan kondisi kualitas udara di area yang tersedia.
- Ketuk wilayah tertentu pada peta untuk melihat informasi kualitas udara secara lebih spesifik.
Peta akan menampilkan kondisi udara menggunakan indikator warna. Pengguna kemudian dapat melihat nilai indeks kualitas udara pada lokasi yang dipilih.
Perlu diperhatikan bahwa angka kualitas udara dapat berbeda antara satu lokasi dan lokasi lainnya. Karena itu, jika ingin mengetahui kondisi di sekitar rumah atau tempat tertentu, sebaiknya pilih titik lokasi secara langsung di peta.
Cara cek kualitas udara Google Maps lewat web
Pengecekan juga dapat dilakukan melalui Google Maps versi web.
Caranya:
- Buka Google Maps melalui browser.
- Cari wilayah yang ingin dipantau.
- Klik ikon Lapisan (Layers) di bagian bawah atau sisi peta.
- Pilih Kualitas Udara.
- Peta kemudian akan menampilkan informasi kualitas udara pada wilayah yang didukung.
Google menjelaskan bahwa informasi kualitas udara dapat menggunakan model yang menggabungkan berbagai sumber, termasuk stasiun pemantauan pemerintah, jaringan sensor, model penyebaran polutan, data satelit, serta informasi meteorologi.
Apa arti warna pada kualitas udara Google Maps?
Informasi kualitas udara pada peta ditampilkan dalam bentuk indikator warna yang membantu pengguna mengetahui kondisi udara secara cepat.
Semakin buruk kualitas udara, semakin tinggi pula nilai indeks kualitas udara yang ditampilkan. Pengguna dapat mengetuk area tertentu untuk melihat angka AQI sekaligus keterangan mengenai kondisi udara di lokasi tersebut.
Namun, angka yang muncul di Google Maps sebaiknya digunakan sebagai informasi pemantauan, bukan satu-satunya acuan ketika terjadi kondisi darurat seperti sebaran abu vulkanik.
Google sendiri menyebut model kualitas udaranya dapat mengalami keterlambatan dalam kondisi tertentu dan tidak semua kejadian lokal dapat langsung terdeteksi.
Google Maps bisa jadi alat pemantauan tambahan
Google Maps dapat membantu masyarakat mendapatkan gambaran mengenai kondisi kualitas udara di suatu wilayah tanpa harus membuka aplikasi khusus.
Untuk kondisi seperti sebaran abu Gunung Anak Krakatau, informasi tersebut bisa digunakan sebagai salah satu pertimbangan sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Meski begitu, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait, terutama BMKG, PVMBG, pemerintah daerah, dan instansi kesehatan.
DLH DKI Jakarta, misalnya, mengimbau masyarakat mengurangi paparan abu vulkanik dan memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Jangan hanya mengandalkan angka AQI
Penting untuk dipahami bahwa AQI di Google Maps tidak secara otomatis berarti seluruh angka tersebut berasal dari pengukuran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau secara langsung.
Google menggunakan pendekatan pemodelan yang menggabungkan sejumlah sumber data untuk menghasilkan informasi kualitas udara. Dalam dokumentasinya, Google juga mencantumkan Indonesia sebagai wilayah yang didukung layanan Air Quality dengan indeks lokal idn_menlhk.
Karena itu, ketika terjadi erupsi dan sebaran abu vulkanik seperti sekarang, masyarakat sebaiknya membandingkan informasi kualitas udara dengan laporan resmi mengenai arah dan sebaran abu.
BMKG sendiri terus memantau perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik di atmosfer. Pada 6 September 2026, BMKG menyebut pemantauan dilakukan secara intensif terhadap dampak erupsi terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Dengan begitu, Google Maps bisa digunakan untuk mengecek kondisi kualitas udara di lokasi tertentu, sementara informasi BMKG dan PVMBG tetap menjadi rujukan penting untuk mengetahui perkembangan erupsi dan sebaran abu Gunung Anak Krakatau.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(dwk)