Smartphone Kini Bisa Prediksi Kematian Seseorang, Begini Caranya

Muhammad Akhtar Jabbaran . October 24, 2022

Sumber Foto: filadendron/iStock


Teknologi.id - Menurut penelitian terbaru, smartphone dapat mendeteksi seberapa cepat seseorang akan meninggal dengan menganalisis cara mereka berjalan, demikian hal ini disampaikan oleh para peneliti.


Dalam sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan oleh PLOS Digital Health, lebih dari 100.000 peserta memakai monitor aktivitas selama satu minggu, namun para peneliti hanya butuh enam menit data berjalan per hari bagi para peneliti untuk memprediksi risiko kematian seseorang dalam lima tahun ke depan.


Dikombinasikan dengan informasi demografis pemakainya, kecepatan berjalan mereka dapat dikumpulkan melalui telepon dan digunakan dalam algoritma untuk memprediksi tingkat kematian berdasarkan kategori usia dari orang dewasa paruh baya dan senior. Akurasi dari penelitian ini diklaim cukup tinggi dengan adanya dua kasus penelitian yang terbukti, dimana dua responden meninggal di waktu yang sesuai dengan output penelitian.


Mengukur kesehatan dengan smartphone. Foto: Qian Cheng


“Hasil kami menunjukkan tindakan pasif dengan diamati oleh sensor gerak dapat mencapai akurasi yang sama dengan ukuran sensor aktif dalam mengamati kecepatan berjalan seseorang,” ucap para peneliti. 


Sementara para peserta dalam penelitian ini menggunakan sensor gerak di pergelangan tangan mereka, para peneliti mengatakan bahwa data yang sama dapat dikumpulkan menggunakan ponsel karena akselerometer mereka cukup baik untuk mengumpulkan data dan bahkan ponsel flip era 2000 an termurah yang dilengkapi sensor gerak juga dapat melakukannya.

Baca juga: Investasi Pusat Data di RI Bisa Tingkatkan Pendapatan Negara hingga USD 6,3 Miliar

Para peneliti juga mengatakan bahwa hasil dari penelitian ini dapat berguna di negara-negara miskin, karena bahkan di Afrika Sub-Sahara sekitar hanya 48 persen orang yang memiliki smartphone. Di Inggris, kepemilikan smartphone mencapai angka 92 persen.


Secara umum, ada dua cara utama untuk mengukur aktivitas fisik, yakni pelaporan diri melalui kuesioner atau pengamatan terhadap berjalan jarak tetap, dan pengumpulan data secara pasif melalui sensor. Masalah dengan cara yang pertama dituturkan oleh kata para peneliti, “Terdapat permasalahan untuk skala penilaian tingkat populasi besar, karena kesulitan logistik untuk mendapatkan sejumlah besar orang dalam melakukan tugas yang diperlukan secara rutin.”


Namun, penelitian berbasis sensor memiliki keuntungan besar karena tidak mengharuskan orang untuk mengubah aktivitas sehari-hari mereka.


(MAJ)

Share :