Nama CEO Telegram Masuk Ke Dalam Daftar Spyware Pegasus

Muhammad Iqbal Mawardi . July 23, 2021

Foto :Financial Times

Teknologi.id – Nama Pavel Durov selaku CEO dan co-founder Telegram ikut menjadi incaran spyware Pegasus. Namanya masuk daftar panjang tokoh ternama yang diduga menjadi target sasaran spyware besutan NSO Group tersebut.

Pegasus sendiri merupakan spyware yang cukup mengerikan. Spyware ini dapat mencuri berbagai data dari ponsel yang diinfeksinya. Data-data tersebut seperti pesan, foto, email, catatan telepon, dan juga mengaktifkan mikrofon.

Melansir dari The Guardian, nomor telepon milik Durov masuk ke dalam bocoran daftar yang di dalamnya terdaftar 50.000 nomor telepon yang diduga sebagai target pengawasan potensial. Ini membuat adanya kemungkinan NSO Group telah memata-matai Durov belakangan ini.

Daftar nomor itu dibeberkan oleh Amnesty International dan kelompok non profit asal Prancis bernama Forbidden Stories. Di daftar itu ditemukan nomor telepon milik presiden, perdana menteri, raja, jurnalis, pengacara, dan aktivis.

Ketika ditanyai apakah Durov adalah salah satu target Pegasus atau aktivitas lainnya terkait spyware, juru bicara NSO tak menjawab dengan eksplisit.

Baca juga: Waspada, Ini Tandanya Jika Laptop Terinfeksi Spyware

"Klaim bahwa sebuah nama ada di dalam daftar pasti terkait dengan target Pegasus atau target potensial adalah keliru dan salah," ucap juru bicara NSO Group.

Rupanya, nomor telepon Durov telah masuk dalam daftar tersebut sejak tahun 2018. Itu merupakan nomor telepon Inggris yang terhubung dengan akun Telegram pribadinya selama bertahun-tahun.

Dengan hadirnya Durov sebagai salah satu target mata-mata mungkin ada kaitannya dengan sepak terjangnya sebagai pendiri Telegram.

Telegram sendiri memang menawarkan layanan messaging dengan enkripsi end-to-end yang populer di kalangan kelompok yang ingin menghindari perhatian pemerintah seperti teroris, penjahat dan aktivis yang memerangi rezim otoriter.

Daftar anggota pemerintahan dan badan intelijen yang berpotensi mengincar Durov juga cukup panjang. Durov meninggalkan tanah kelahirannya Rusia di tahun 2013 silam. Selain itu, ia juga telah beberapa kali berselisih dengan intelijen Rusia.

Namun, analisis aka bocoran daftar itu menandakan bahwa Durov kemungkinan diincar oleh Uni Emirat Arab yang pernah menjadi klien NSO Group. Di tahun 2018, Durov memang mengganti alamat resminya dan pindah dari Finlandia ke UEA.

Mengingat nomor teleponnya masuk ke dalam daftar tersebut pada tahun 2018, timing-nya tepat dengan kepindahan Durov dan mungkin intelijen UEA ingin mengecek latar belakang pendatang baru yang kontroversial tersebut.

Pakar keamanan siber rupanya sudah memeriksa cara kerja Pegasus. Spyware ini dapat menyerang aplikasi messaging terenkripsi dan bisa mengakses semua bagian ponsel yang sudah terinfeksi.

Mereka menjelaskan aplikasi messaging terenkripsi seperti Telegram, WhatsApp dan Signal tak akan dapat melindungi percakapan di dalamnya kalau ponsel sudah terinfeksi spyware seganas Pegasus.

(MIM)

Share :