
Foto: Listrik Indonesia
Teknologi.id - Selama puluhan tahun, mobil berbahan bakar bensin menjadi tulang punggung transportasi global, mendominasi jalan raya dan membentuk pola konsumsi energi masyarakat. Keberadaan kendaraan listrik perlahan mulai menantang dominasi tersebut, meski masih menghadapi hambatan utama berupa keterbatasan jarak tempuh baterai.
Keraguan konsumen muncul karena daya baterai dianggap belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perjalanan jarak jauh. Pertanyaan besar pada hal ini adalah apakah mobil listrik benar-benar mampu menggantikan bensin sebagai pilihan utama. Inovasi baterai silikon yang dikembangkan di Korea Selatan mulai memberikan jawaban atas keraguan itu. Teknologi ini diklaim mampu membawa mobil listrik melaju hingga 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya, sebuah pencapaian yang berpotensi mengubah peta industri otomotif global.
Silikon sebagai Material Revolusioner
Silikon dikenal sebagai material yang melimpah di alam dan memiliki kapasitas penyimpanan energi jauh lebih besar dibandingkan grafit yang digunakan pada baterai lithium-ion konvensional. Keunggulan ini menjadikan silikon kandidat utama untuk baterai generasi berikutnya. Tantangannya adalah sifat silikon yang mengembang hingga tiga kali lipat saat proses pengisian daya, lalu menyusut kembali saat digunakan. Perubahan ekstrem ini membuat struktur baterai mudah rusak dan menurunkan performa.
Mikro-Silikon sebagai Solusi Ekonomis
Selama ini, solusi yang ditempuh adalah menggunakan silikon dalam bentuk partikel nano. Meski efektif, produksi partikel nano membutuhkan biaya besar dan teknologi rumit sehingga sulit diterapkan secara luas. Tim peneliti dari Pohang University of Science and Technology, memilih pendekatan berbeda dengan menggunakan silikon berukuran mikro yang 1.000 kali lebih besar. Ukuran ini lebih mudah diproduksi, lebih ekonomis, dan tetap memungkinkan kepadatan energi tinggi. Pendekatan ini membuka peluang produksi massal dengan biaya yang lebih terjangkau.
Baca Juga: Apa Jadinya Main Playstation di Mobil? Coba Simak Ini!
Gel Polimer Elektrolit sebagai Penyeimbang
Untuk mengatasi persoalan kembang-kempis silikon, para peneliti mengkombinasikannya dengan gel polimer elektrolit yang fleksibel. Gel ini dirancang agar ikut berubah bentuk mengikuti pergerakan silikon. Agar ikatannya tetap kuat, struktur tersebut distabilkan secara kimia menggunakan radiasi elektron. Hasilnya, baterai tetap stabil meski silikon mengalami perubahan volume berulang. Performa baterai ini diklaim setara dengan lithium-ion konvensional, tetapi dengan kepadatan energi sekitar 40 persen lebih besar.
Tokoh Utama di Balik Inovasi
Inovasi baterai silikon ini lahir dari riset intensif tim ilmuwan di Pohang University of Science and Technology (POSTECH), salah satu universitas riset terkemuka di Korea Selatan. Tokoh penting dalam penelitian ini adalah Park Soojin, peneliti yang menekankan bahwa penggunaan anoda mikro-silikon tetap mampu menghasilkan baterai yang stabil dengan densitas energi tinggi.
Park Soojin bersama timnya berhasil mengatasi masalah klasik silikon, yaitu perubahan volume ekstrem saat proses pengisian dan penggunaan. Dengan menggabungkan silikon berukuran mikro dan gel polimer elektrolit yang fleksibel, mereka menciptakan struktur baterai yang mampu bertahan dari siklus kembang-kempis tanpa kehilangan stabilitas. Kontribusi ini menjadi tonggak penting dalam riset baterai generasi baru yang berpotensi mengubah arah industri otomotif dunia.
Baca Juga: China Untung Besar Dengan menjadi Pemasok Kebutuhan Energi Bersih di Dunia!
Bagaimana Teknologi Ini Bisa Berkembang di Masa Depan?
Keberhasilan tim POSTECH bukan hanya sekadar pencapaian akademis, melainkan juga membuka jalan bagi perkembangan teknologi energi di masa depan. Ada beberapa kemungkinan arah perkembangan yang dapat terjadi:
- Produksi Massal yang Lebih Terjangkau - Pendekatan mikro-silikon yang lebih mudah diproduksi dibandingkan partikel nano membuka peluang besar untuk menekan biaya produksi. Hal ini memungkinkan teknologi diterapkan secara luas oleh industri otomotif global.
- Integrasi ke Infrastruktur Energi Terbarukan - Baterai silikon berkapasitas tinggi dapat digunakan tidak hanya untuk mobil listrik, tetapi juga untuk penyimpanan energi skala besar, seperti pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Dengan kepadatan energi lebih tinggi, baterai ini dapat menyimpan energi dalam jumlah besar dan mendukung transisi menuju energi bersih.
- Percepatan Adopsi Kendaraan Listrik - Jarak tempuh hingga 1.000 kilometer sekali pengisian akan menghapus salah satu hambatan terbesar bagi konsumen. Mobil listrik tidak lagi dipandang sebagai alternatif terbatas, melainkan pilihan utama yang praktis dan efisien.
- Kolaborasi Global - Untuk mewujudkan produksi massal, diperlukan kolaborasi antara universitas, perusahaan teknologi, dan produsen otomotif. Dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan investasi infrastruktur pengisian daya juga akan menjadi faktor penentu keberhasilan.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(dim/sa)