Peneliti Austria Ciptakan Kode QR Berukuran Mikrometer, Bisa Simpan Hingga 2 TB Data!

Yasmin Najla Alfarisi . February 24, 2026

Foto: TU Wien

Teknologi.id -  Dunia teknologi baru saja mencatat sejarah baru melalui sebuah gebrakan unik dari Austria. Tim peneliti dari Vienna University of Technology (TU Wien) bekerja sama dengan perusahaan startup penyimpanan data Cerabyte berhasil menciptakan kode QR terkecil di dunia. Saking kecilnya, kode ini memiliki ukuran hanya 1,98 mikrometer persegi, yang berarti jauh lebih kecil dibandingkan sebagian besar sel bakteri.

Pencapaian ini telah diverifikasi secara independen dan kini resmi tercatat dalam Guinness World Records. Kode QR mikro tersebut menggeser rekor dunia sebelumnya dengan ukuran hanya 37 persen dari pemegang rekor lama. Karena ukurannya yang tak kasat mata, kode ini mustahil dilihat dengan mata telanjang atau mikroskop optik biasa, melainkan harus menggunakan mikroskop elektron canggih agar dapat dibaca.

Baca juga: Indonesia Kembangkan Baterai Sodium, Solusi Murah untuk Kendaraan Listrik

Teknologi di Balik Struktur Berukuran Nanometer

Kode QR ini terdiri dari struktur modul 29 x 29 piksel. Profesor Paul Mayrhofer dari Institut Ilmu dan Teknologi Material TU Wien menjelaskan bahwa struktur yang mereka buat sangat halus sehingga tidak dapat ditangkap oleh panjang gelombang cahaya tampak. Setiap piksel individu pada kode ini hanya memiliki lebar 49 nanometer, ukuran yang kira-kira sepuluh kali lebih kecil dari panjang gelombang cahaya yang bisa dilihat manusia.

Untuk mengukir pola yang sangat presisi tersebut, para ilmuwan memanfaatkan teknologi focused ion beam. Teknologi ini bekerja dengan cara mengikis lapisan tipis film keramik bit demi bit hingga membentuk pola kode QR yang stabil. Penggunaan material keramik menjadi kunci utama karena sifatnya yang sangat stabil, tahan terhadap kondisi ekstrem, dan tidak mudah mengalami perubahan struktural seiring berjalannya waktu.

Belajar dari Peradaban Kuno 

Salah satu tantangan terbesar dalam penyimpanan data atomik adalah mobilitas atom itu sendiri yang dapat berpindah posisi dan menyebabkan hilangnya informasi. Namun, tim peneliti TU Wien berhasil menciptakan kode yang tetap stabil dan dapat dibaca berulang kali. Alexander Kirnbauer, salah satu peneliti utama dalam proyek ini, menyebutkan bahwa pendekatan mereka terinspirasi oleh cara peradaban kuno menyimpan informasi.

Jika manusia purba memahat pesan mereka di atas batu atau prasasti keramik yang tetap bisa dibaca hingga ribuan tahun kemudian, teknologi modern saat ini justru menyimpan pengetahuan pada media yang sangat berumur pendek. Hard disk magnetik atau media penyimpanan elektronik biasanya hanya bertahan beberapa tahun sebelum mengalami kerusakan. Dengan menggunakan media keramik, para peneliti mengejar ketahanan yang serupa dengan prasasti kuno, di mana informasi dapat bertahan selama berabad-abad atau bahkan milenia tanpa risiko kehilangan data.

Solusi Penyimpanan Data Ramah Lingkungan


Selain faktor ketahanan, teknologi penyimpanan berbasis keramik ini menawarkan kepadatan data yang luar biasa. Para ilmuwan memperkirakan bahwa jika teknologi ini diterapkan secara luas, area seluas satu lembar kertas A4 dapat menyimpan data hingga lebih dari 2 terabyte. Hal ini menjadi terobosan besar di tengah ledakan informasi digital yang membutuhkan ruang penyimpanan semakin besar.

Keunggulan lain yang tidak kalah penting adalah efisiensi energi. Berbeda dengan pusat data modern saat ini yang membutuhkan pasokan listrik raksasa untuk pendinginan aktif dan pemeliharaan server, media penyimpanan keramik ini bersifat pasif. Begitu data dituliskan, informasi tersebut akan tetap utuh tanpa memerlukan energi listrik sama sekali untuk menjaganya. Hal ini berpotensi mengurangi emisi karbon dioksida global secara signifikan yang dihasilkan oleh industri penyimpanan data dunia.

Baca juga: Karya Mahasiswa UI: Kacamata AI untuk Pelari Difabel, Raih Global Ambassador!

Menuju Produksi Massal dan Implementasi Industri

Meski saat ini masih dalam tahap laboratorium, tim developer tidak berniat berhenti pada pemecahan rekor semata. Kirnbauer menyatakan bahwa langkah selanjutnya adalah menguji material lain, meningkatkan kecepatan penulisan data, serta mengembangkan proses manufaktur yang dapat diskalakan (scalable). Tujuannya adalah agar penyimpanan data berbasis keramik ini dapat digunakan dalam skala industri, bukan hanya sebagai eksperimen ilmiah.

Teknologi ini diproyeksikan dapat mengubah cara lembaga arsip digital, dokumen pemerintahan, hingga data rekam medis disimpan secara permanen dan aman. Riset ini membuka jalan menuju masa depan data yang lebih hijau, di mana informasi berharga umat manusia dapat disimpan secara abadi dengan konsumsi energi yang minimal.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

Share :