Canggih! Bird of Prey Milik Airbus Bisa Tembak Jatuh 8 Drone Musuh Sekaligus

Yasmin Najla Alfarisi . April 01, 2026

Foto: Airbus

Teknologi.id -  Lanskap peperangan modern kembali mencatat sejarah baru dalam teknologi pertahanan asimetris. Airbus Defence and Space secara resmi mengumumkan keberhasilan uji coba perdana drone interceptor bernama “Bird of Prey”. Dalam demonstrasi yang dilakukan di area latihan militer Jerman Utara, drone ini membuktikan kemampuannya untuk mencari, melacak, dan menghancurkan drone kamikaze secara otonom tanpa kendali langsung dari manusia.

Keberhasilan ini menandai langkah krusial dalam menghadapi ancaman One-Way Attack (OWA) atau drone serangan satu arah yang kian masif dalam konflik global saat ini. Bird of Prey dirancang bukan sekadar sebagai pemantau, melainkan sebagai eksekutor udara yang mampu mengklasifikasikan target secara mandiri sebelum melancarkan serangan presisi.

Mekanisme Kerja: Deteksi Mandiri dan Rudal Mark I

Dalam simulasi misi yang realistis, Bird of Prey menunjukkan kecerdasan buatan (AI) tingkat tinggi dengan mendeteksi target berupa drone kamikaze berukuran sedang. Setelah sasaran teridentifikasi dan diklasifikasikan sebagai ancaman, Bird of Prey langsung meluncurkan rudal udara-ke-udara Mark I.

Rudal Mark I merupakan hasil kolaborasi dengan mitra strategis, Frankenburg Technologies. Rudal ini dirancang khusus sebagai solusi intersepsi jarak pendek dengan biaya produksi yang rendah. Dengan panjang hanya 65 sentimeter dan bobot di bawah 2 kilogram, rudal ini memiliki jangkauan hingga 1,5 kilometer. Penggunaan hulu ledak fragmentasi memungkinkan rudal menghancurkan target kecil di udara meskipun tidak mengenai sasaran secara langsung (direct hit).

CEO Frankenburg Technologies, Kusti Salm, menyatakan bahwa integrasi rudal murah ini ke dalam platform drone menciptakan kurva biaya baru dalam pertahanan udara.

"Ini memungkinkan pertahanan melawan ancaman udara massal pada skala yang fundamental berbeda," ujar Salm.

Spesifikasi Teknis: Satu Drone, Delapan Target

Foto: Airbus

Bird of Prey dikembangkan dari basis drone target Airbus Do-DT25 yang telah dimodifikasi secara ekstensif. Memiliki bentang sayap 2,5 meter dan bobot lepas landas maksimum sekitar 160 kilogram, drone ini menawarkan efisiensi tinggi dibandingkan sistem pertahanan udara konvensional yang mahal.

Pada tahap prototipe, drone ini mampu membawa empat rudal Mark I. Namun, Airbus mengonfirmasi bahwa versi operasional nantinya akan ditingkatkan hingga mampu membawa delapan rudal. Hal ini berarti satu unit Bird of Prey dapat melumpuhkan hingga delapan target dalam satu kali misi penerbangan.

Salah satu fitur paling inovatif adalah aspek keberlanjutannya (reusability). Tidak seperti drone kamikaze yang hancur saat menabrak target, Bird of Prey tetap utuh setelah meluncurkan misilnya. Drone ini dirancang untuk mendarat kembali menggunakan parasut yang tersimpan di ekor, sehingga dapat digunakan kembali untuk misi berikutnya, menghemat biaya operasional hingga jutaan dolar.

Baca juga: Amerika Serikat 'Lumpuh' Hadapi Drone Misterius, Teknologi China Jadi Ancaman Serius

Integrasi ke Sistem Pertahanan NATO

CEO Airbus Defence and Space, Mike Schoellhorn, menekankan bahwa ancaman drone kini telah menjadi prioritas utama. Melalui Bird of Prey, Airbus berusaha menutup celah kemampuan militer dalam menghadapi konflik asimetris.

Sistem ini tidak bekerja sendirian, melainkan terintegrasi penuh ke dalam Integrated Battle Management System (IBMS) milik Airbus. Integrasi ini memungkinkan Bird of Prey beroperasi dalam jaringan pertahanan udara NATO yang sudah ada, berfungsi sebagai lapisan pertahanan tambahan dalam struktur pertahanan berlapis (layered defense).

“Integrasi ini berfungsi sebagai pengganda kekuatan (force multiplier),” tutur Schoellhorn. Dengan sistem komando dan kendali yang terhubung, Bird of Prey dapat menerima data dari jaringan radar yang lebih luas untuk melakukan intersepsi secara efisien.

Baca juga: Penyebab Kebakaran Gedung Terra Drone: Mengenal Risiko Baterai Lithium pada Drone

Rencana Pengujian Sepanjang 2026

Proyek ambisius ini menunjukkan progres yang sangat cepat, bergerak dari tahap awal hingga uji terbang hanya dalam waktu sembilan bulan. Airbus dan Frankenburg Technologies berencana untuk melanjutkan rangkaian uji coba sepanjang tahun 2026.

Tahapan pengujian selanjutnya akan mencakup penggunaan hulu ledak aktif (live warheads) untuk menyempurnakan kemampuan operasional sebelum masuk ke tahap produksi massal. Langkah ini diharapkan dapat segera menarik minat calon pengguna dari kalangan militer internasional yang tengah mencari solusi efektif untuk menangkal ancaman serangan drone massal.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.


(yna/sa)

Share :