Makin Canggih! AI ini Bisa Bantu Tim Medis untuk Deteksi Penyakit Kanker Kulit

Lutfiyah Fathiyani . January 31, 2024

Foto: Pacific Dermatology Specialist

Teknologi.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat telah memberikan persetujuan untuk perangkat genggam pertama yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI) guna membantu dokter dalam mengidentifikasi tiga jenis utama kanker kulit, yakni melanoma, karsinoma sel basal, dan karsinoma sel skuamosa.

Perangkat inovatif ini diproduksi oleh DermaSensor, perusahaan yang berbasis di Miami, dan saat ini sudah dapat digunakan oleh sekitar 300.000 dokter umum di Amerika Serikat. Namun, FDA menetapkan batasan usia penggunaan perangkat ini hanya untuk pasien yang berusia di atas 40 tahun.

Dokter disarankan menggunakan perangkat ini hanya untuk lesi yang sudah diidentifikasi sebagai mencurigakan dan menunjukkan tanda-tanda kanker kulit. Meskipun dapat menjadi alat bantu yang sangat membantu, perangkat ini tidak boleh diandalkan sepenuhnya untuk keperluan diagnosis, sesuai dengan regulasi FDA.

Baca juga Peduli Lansia, Jepang Kembangkan Teknologi AI untuk Memantau Pengemudi

Walaupun DermaSensor telah mendapatkan persetujuan untuk memasarkan perangkatnya, FDA menekankan perlunya perusahaan melakukan pengujian klinis pasca-pasar tambahan untuk memvalidasi kinerja perangkat ini pada kelompok demografis lainnya.

Umumnya, dokter mendiagnosis kanker kulit melalui dermatoskopi, sebuah prosedur di mana profesional medis memeriksa kulit pasien secara visual atau menggunakan kaca pembesar khusus untuk mengevaluasi tahi lalat atau lesi.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), kanker kulit merupakan jenis kanker paling umum di Amerika Serikat, dan umumnya terjadi pada mereka yang berusia 60 tahun ke atas.

Melanoma, sebagai bentuk kanker kulit yang paling umum, menjadi penyebab kematian sekitar 9.000 orang setiap tahunnya di Amerika Serikat.

kanker kulit

Persetujuan FDA terhadap perangkat DermaSensor didasarkan pada hasil studi yang menunjukkan tingkat sensitivitas perangkat mencapai 96 persen dalam mendeteksi 224 kasus kanker kulit. Hasil negatif dari perangkat ini juga memiliki peluang sebesar 97 persen untuk bersifat jinak, menurut klaim dari perusahaan.

Baca juga: Spine Clinic Family Holistic: Mitra Unggul dalam Teknologi Mengatasi Skoliosis

Dr. Maurice Ferre, salah satu pendiri dan ketua DermaSensor, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah bukti dari investasi besar perusahaan dalam penelitian dan pengembangan selama 12 tahun. Perangkat ini akan tersedia melalui layanan berbasis langganan, dengan biaya sebesar 199 dolar AS (sekitar Rp 3,1 juta) per bulan untuk lima pasien atau 399 dolar AS (sekitar Rp 6,3 juta) per bulan untuk penggunaan tanpa batas.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News

(LF)

Share :