Spotify Terancam Ditinggal! Fenomena 'Algo Fatigue' Bikin Pendengar Mulai Jenuh

Yasmin Najla Alfarisi . January 20, 2026

Foto: Teknologi.id/ Yasmin Najla Alfarisi

Teknologi.id -  Platform musik streaming terbesar di dunia memasuki transisi yang berisiko tinggi. Setelah hampir dua dekade, co-founder Daniel Ek berganti jabatan menjadi Executive Chairman, mengoper kendali ke Co-CEO Alex Norström dan Gustav Söderström. Meskipun Spotify berhasil merayakan laba tahunan pertamanya di tahun 2024, platform ini dihadapkan dua masalah: banyaknya pengguna yang merasa bosan dan banyaknya pemberontakan dari musisi terkait bayaran royalti.

Munculnya Algorithm Fatigue

Ancaman terbesar bagi 281 juta pelanggan Spotify adalah suatu fenomena psikologi yang disebut "Algorithm Fatigue". Menurut sebuah penelitian dalam jurnal Technology in Society, fenomena ini merupakan kondisi kelelahan mental yang disebabkan interaksi berulang dengan AI yang bersifat kaku. Pengguna merasa rekomendasi dari Spotify menjadi terlalu mudah ditebak dan "aman", yang membuat pengguna tidak bisa bereksplorasi.

Penelitian Hui Yan menyorot tiga penyebab algorithm fatigue: kurangnya transparansi dalam sistem AI, sebuah perasaan terjebak dalam "kepompong informasi", dan konten yang berulang. Bagi banyak orang, "Discover Weekly" kini tidak lagi terasa personal, melainkan seperti mesin yang gagal memberikan rekomendasi lagu sesuai perasaan kita. Perasaan "algo-boredom (bosan dengan algoritma)" ini mendorong Gen Z untuk pindah ke TikTok dan YouTube untuk pengalaman bermusik yang lebih otentik.

Dari Playlist ke "Percakapan"

Untuk mengatasi ini, para CEO baru Spotify mulai mengadopsi AI Generatif. Solusi utama mereka adalah "Prompted Playlist", fitur ini mengizinkan pengguna untuk membuat daftar musik melalui percakapan biasa. Dibandingkan memilih kategori umum, pengguna dapat meminta AI untuk: "Buatkan playlist dari lagu 90an yang memiliki tempo cepat dan tidak terlalu mainstream".

Tujuannya adalah untuk memberikan kembali kendali pada pengguna. Söderström berharap Spotify dapat menjadi "teman" sungguhan, sebuah pendamping digital yang memahami konteks lebih baik dibandingkan manusia. Dengan mengintegrasikan tool seperti ChatGPT, Spotify ingin mengubah platform ini dari perangkat sederhana, kembali menjadi pusat culture.

Baca juga: Spotify Rilis Listening Activity & Request to Jam, Bisa Intip Musik Teman di HP!

Kontroversi Royalti MIliaran Dolar

Di saat pengguna khawatir merasa jenuh, para artis mengkhawatirkan pemasukan mereka. Data dari CNBC dan Duetti mengungkapkan bahwa tarif royalti Spotify secara signifikan lebih rendah daripada pesaing-pesaingnya:

  • Spotify: Memberi harga sekitar $3 (sekitar Rp50 ribu) per 1000 kali streaming.
  • YouTube: Memberi harga $4,8 (sekitar Rp81 ribu).
  • Apple Music: Memberi harga $6,2 (sekitar Rp100 ribu).
  • Amazon Music: Harga per 1000 streaming di $8,8 (sekitar Rp149 ribu).

Selisih ini menyebabkan adanya kritik intens. Spotify baru-baru ini mengklasifikasi ulang layanannya menjadi sebuah "paket" dengan menambahkan audiobooks, sebagai langkah yang mengizinkan mereka untuk membayar lebih murah pada penulis lagu tertentu. Hal ini menyebabkan kehebohan pada Grammy Awards 2025, saat penulis lagu terkenal memboikot acara Spotify sebagai bentuk protes.

Baca juga: Nggak Ribet! Ini Cara Pindahkan Lagu dan Playlist Apple Music ke Spotify

Memahami Sistem "Streamshare"

Foto: Spotify

Spotify memperjuangkan tarifnya dengan mengacu pada model "Streamshare"-nya. Dalam sistem ini, semua pendapatan dari langganan dan iklan di suatu wilayah digabungkan. Setiap artis menerima satu bagian dari gabungan ini berdasarkan total jumlah streaming di bulan itu.

Jika seorang artis memiliki 1 dari 1000 lagu yang diputar di suatu wilayah, artis ini menerima $1 untuk setiap $1000 dolar dari total royalti. Spotify berargumen bahwa karena platform mereka  jauh lebih banyak pengguna aktif daripada Apple atau Amazon, banyaknya tarif yang mereka bayar jauh lebih tinggi. Di tahun 2024, mereka membayar sebanyak $10 miliar pada pemegang hak milik, mereka mengatakan bahwa mereka adalah "departemen penelitian dan pengembangan (R&D)" untuk industri musik.

Masa Depannya: Budaya Video dan AI

Untuk tetap menghasilkan pemasukan dan relevan, Spotify mengubah identitasnya. Platform ini bukan lagi hanya sekedar aplikasi musik, melainkan sumber "video dan audio". Mereka gencar merekrut YouTuber untuk mengunggah video podcast, menawarkan gabungan kompensasi khusus untuk bersaing dengan dominasi Google.

Mereka juga menavigasi munculnya musik yang dibuat dengan AI. Tidak seperti beberapa platform lain, Spotify menolak melarang lagu yang diciptakan AI selama lagu itu tidak menyerupai artis sungguhan. Selagi Daniel Ek mundur, Söderström dan Norström harus membuktikan kalau Spotify masih layak menjadi jantung culture global, daripada menjadi platform besar yang perlahan menghilang seiring berjalannya waktu.


Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.


(yna/sa)



Share :