
Foto: Whip Pink
Teknologi.id – Jagat maya Indonesia kembali digegerkan dengan tren baru yang meresahkan di kalangan remaja dan dewasa muda. Linimasa TikTok dan X (sebelumnya Twitter) belakangan ini dipenuhi diskusi mengenai produk bernama "Whip Pink". Dengan kemasan berwarna merah muda cerah yang terlihat tidak berbahaya—bahkan cenderung estetik—produk ini sejatinya adalah alat dapur biasa. Namun, di tangan yang salah, tabung kecil ini berubah menjadi zat inhalan yang mematikan.
Di balik popularitasnya yang meroket sebagai alat untuk mencapai sensasi euforia sesaat atau "nge-fly", para pakar kesehatan medis membunyikan alarm bahaya tanda merah. Penggunaan Whip Pink secara rekreasional bukan hanya sekadar membuat pusing, melainkan membawa risiko kerusakan saraf tulang belakang hingga kelumpuhan permanen yang sering kali tidak disadari penggunanya hingga terlambat.
Apa Sebenarnya Whip Pink?
Secara teknis dan legalitas, Whip Pink adalah produk yang sah beredar di pasaran. Produk ini adalah tabung gas kecil (charger) yang berisi Nitrous Oxide (). Dalam industri kuliner, tabung ini adalah komponen vital untuk alat whipped cream dispenser.
Fungsinya sangat sederhana: gas bertekanan tinggi ini disuntikkan ke dalam krim cair agar molekul-molekulnya mengembang, menciptakan tekstur busa whipped cream yang lembut untuk hiasan kue, kopi, atau minuman kekinian. Karena fungsi inilah, Whip Pink dan produk serupa (sering disebut nangs atau whippets di luar negeri) dapat dibeli dengan sangat mudah di toko bahan kue maupun marketplace tanpa perlu resep dokter atau pemeriksaan usia yang ketat.
Namun, yang terjadi di media sosial adalah penyimpangan fungsi yang fatal. Para penyalahguna tidak menggunakan gas tersebut untuk membuat kue. Mereka melepaskan gas ke dalam balon karet, lalu menghirup gas tersebut keluar-masuk melalui mulut untuk mendapatkan efek memabukkan.
Baca juga: Komdigi Blokir Aplikasi Zangi, Sempat Dipakai Ammar Zoni untuk Transaksi Narkoba
Mekanisme "Nge-fly": Otak yang Tercekik

Foto: Whip Pink
Banyak pengguna Whip Pink yang salah kaprah, mengira bahwa sensasi ringan, geli, tertawa tanpa sebab, dan rasa tenang yang muncul adalah efek narkotika yang "aman" karena gas ini juga dipakai oleh dokter gigi. Pemahaman ini adalah kesalahan fatal.
Dalam dunia medis, penggunaan Nitrous Oxide sebagai anestesi atau obat penenang selalu dicampur dengan oksigen murni dalam rasio yang sangat ketat dan diawasi oleh mesin ventilator. Tubuh pasien tetap mendapatkan suplai oksigen yang cukup.
Sebaliknya, saat seseorang menghirup Whip Pink secara rekreasional (murni dari tabung/balon), mereka menghirup 100% gas Nitrous Oxide tanpa oksigen. Gas ini dengan sangat cepat masuk ke paru-paru, menembus aliran darah, dan menuju otak.
Apa yang dirasakan sebagai sensasi "melayang" sebenarnya adalah gejala Hipoksia Serebral atau kondisi di mana otak kekurangan oksigen secara akut. Rasa pusing dan euforia singkat itu adalah mekanisme pertahanan otak yang sedang "tercekik". Durasi efek ini sangat singkat, hanya sekitar 30 detik hingga 1 menit, yang justru memicu pengguna untuk menghirupnya berulang-ulang (bingeing) dalam satu sesi, memperparah tingkat kekurangan oksigen dalam darah.
Ancaman Jangka Panjang: "Memakan" Saraf Sendiri
Jika risiko kematian akibat gagal napas atau serangan jantung dianggap sebagai risiko jangka pendek, maka ancaman jangka panjang dari Whip Pink jauh lebih mengerikan dan bersifat destruktif secara perlahan.
Nitrous Oxide memiliki efek samping kimiawi yang sangat spesifik: zat ini menginaktivasi Vitamin B12 dalam tubuh manusia. Gas ini mengoksidasi atom kobalt dalam Vitamin B12, membuatnya tidak berguna. Padahal, Vitamin B12 adalah komponen kunci dalam pembentukan dan pemeliharaan selubung mielin (myelin sheath).
Ketika tubuh kekurangan B12 aktif akibat paparan gas Whip Pink terus-menerus, selubung mielin akan terkikis dan rusak. Kondisi ini dikenal sebagai Subacute Combined Degeneration of the Spinal Cord.
Gejalanya tidak langsung muncul saat itu juga, melainkan bertahap dan sering kali diabaikan:
-
Tahap Awal: Kesemutan parah atau mati rasa (kebas) pada ujung jari tangan dan kaki.
-
Tahap Menengah: Kehilangan koordinasi tubuh, sering tersandung, dan tangan gemetar saat memegang benda.
-
Tahap Lanjut: Kelemahan otot ekstrem, inkontinensia (tidak bisa menahan buang air), hingga kelumpuhan kaki permanen yang membuat penderitanya harus menggunakan kursi roda seumur hidup.
Frostbite dan Kerusakan Paru-paru
Selain kerusakan saraf, cara penggunaan Whip Pink juga menyimpan bahaya fisik langsung. Gas di dalam tabung charger disimpan dalam tekanan yang sangat tinggi dan suhu yang sangat dingin.
Ketika gas dilepaskan langsung dari tabung ke mulut (tanpa perantara balon atau dispenser), suhu gas yang membeku dapat menyebabkan frostbite (luka bakar dingin) pada bibir, tenggorokan, dan pita suara. Lebih parah lagi, tekanan gas yang tinggi dapat menyebabkan barotrauma, yaitu pecahnya jaringan paru-paru (alveoli) yang bisa menyebabkan pendarahan internal atau paru-paru kolaps (pneumothorax).
Baca juga: Cuma Butuh 1 Volt! Teknologi AC Berbasis Garam Ini Janjikan Pendinginan Super Irit
Tantangan Regulasi dan Peran Orang Tua
Fenomena Whip Pink menempatkan regulator di posisi yang sulit. Melarang total penjualan tabung akan mematikan industri kuliner dan bisnis food & beverage yang bergantung pada alat ini. Di beberapa negara seperti Inggris dan sebagian negara bagian Amerika Serikat, aturan ketat sudah mulai diterapkan, di mana penjualan kepada individu di bawah umur atau untuk tujuan non-katering dianggap ilegal.
Di Indonesia, edukasi menjadi benteng pertahanan utama. Viralitas di media sosial sering kali mengaburkan fakta medis, membuat remaja berpikir bahwa "kalau dijual di toko kue, pasti aman."
Para orang tua dan tenaga pendidik diimbau untuk peka terhadap tanda-tanda penggunaan inhalan ini. Keberadaan tabung-tabung logam kecil berwarna perak atau pink yang berserakan, balon-balon kempis yang mencurigakan, atau perubahan perilaku anak yang tiba-tiba menjadi pelupa dan sering kesemutan, harus segera ditindaklanjuti.
Whip Pink adalah contoh nyata bagaimana benda sehari-hari dapat berubah menjadi senjata perusak masa depan jika disalahgunakan. Sensasi "nge-fly" selama satu menit tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar: kemampuan untuk berjalan dan bergerak seumur hidup.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar