
Foto: GRU
Teknologi.id – Impian manusia untuk berwisata ke luar angkasa dan menginap di permukaan Bulan kini bukan lagi sekadar naskah film fiksi ilmiah. Di pertengahan Januari 2026, batas antara angan-angan dan realitas komersial semakin menipis dengan pengumuman mengejutkan dari sebuah perusahaan rintisan (startup) teknologi antariksa, GRU Space.
Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat tersebut secara resmi telah membuka keran pemesanan (pre-booking) untuk kamar hotel di Bulan. Langkah berani ini menandai babak baru dalam perlombaan pariwisata luar angkasa (space tourism), di mana Bulan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai objek penelitian ilmiah, melainkan destinasi liburan ultra-mewah bagi kaum elit dunia.
Tiket Masuk untuk Kaum 'Ultra-High-Net-Worth'
Pengumuman ini segera menarik perhatian dunia, terutama karena label harganya yang fantastis. Untuk sekadar mengamankan tempat dalam daftar tunggu (waitlist), calon wisatawan harus merogoh kocek sangat dalam. GRU Space menetapkan biaya deposit awal mulai dari 250.000 dolar AS (sekitar Rp4,2 miliar) hingga 1 juta dollar AS (sekitar Rp16,8 miliar), tergantung pada jenis paket dan prioritas keberangkatan yang diinginkan.
Penting untuk dicatat bahwa angka miliaran rupiah tersebut hanyalah uang muka atau tanda jadi. Biaya total untuk perjalanan pulang-pergi Bumi-Bulan, akomodasi, serta pelatihan pra-keberangkatan dipastikan akan memakan biaya yang jauh lebih besar, kemungkinan mencapai puluhan juta dollar AS per orang. Hal ini menegaskan bahwa pada tahap awal, wisata Bulan adalah privilese eksklusif bagi segelintir orang terkaya di planet ini.
Visi Arsitektur: Menggabungkan Seni dan Teknologi
Salah satu aspek yang paling menarik dari proposal GRU Space adalah konsep hunian yang mereka tawarkan. Alih-alih mendesain modul stasiun luar angkasa yang kaku, sempit, dan utilitarian seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), GRU Space menjanjikan pengalaman estetika yang megah.
Sang pendiri, Skyler Chan, mengungkapkan bahwa desain hotel Bulan ini terinspirasi dari Palace of Fine Arts di San Francisco. Konsep ini bertujuan membawa elemen keagungan arsitektur klasik ke lingkungan gravitasi rendah. Render desain yang beredar memperlihatkan struktur yang elegan dengan jendela pandang luas, memungkinkan para tamu untuk menikmati pemandangan Bumi yang terbit (Earthrise) dari kenyamanan kamar mereka.
Pendekatan desain ini bertujuan untuk mengatasi aspek psikologis dari perjalanan luar angkasa. Dengan menciptakan lingkungan yang terasa "berbudaya" dan nyaman, GRU Space berharap dapat mengurangi stres isolasi yang mungkin dirasakan wisatawan saat berada ratusan ribu kilometer dari rumah.
Ambisi 'One-Man Show' dan Tantangan Realisasi
Di balik proposal ambisius ini, terdapat fakta menarik mengenai struktur perusahaan GRU Space. Hingga akhir tahun 2025, perusahaan ini dilaporkan sebagian besar dijalankan secara tunggal oleh Skyler Chan. Fenomena "one-man show" dalam industri sekompleks penerbangan antariksa tentu memicu skeptisisme sekaligus kekaguman.
Chan percaya bahwa model bisnis yang ramping adalah kunci untuk bergerak cepat di industri yang biasanya didominasi oleh birokrasi badan antariksa negara. Namun, para analis industri mengingatkan bahwa membangun habitat yang layak huni di lingkungan Bulan yang ekstrem dengan paparan radiasi tinggi, debu regolith yang tajam, dan fluktuasi suhu drastis membutuhkan tim insinyur kelas dunia dan modal triliunan rupiah.
Target peluncuran komersial yang dipatok pada tahun 2032 (enam tahun dari sekarang) dinilai cukup agresif. Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada kemajuan infrastruktur transportasi luar angkasa global, seperti kesiapan roket Starship milik SpaceX atau peluncur berat lainnya yang mampu mengangkut modul hotel tersebut ke permukaan Bulan.
Baca juga: Bulan Terancam Jadi Kuburan Satelit Rusak, Peneliti Ingatkan Bahaya Sampah Antariksa
Pariwisata sebagai Mesin Penggerak Eksplorasi

Foto: SPL
Filosofi di balik proyek ini melampaui sekadar mencari keuntungan. GRU Space mengusung visi bahwa pariwisata adalah pilar ekonomi yang diperlukan untuk mendanai eksplorasi tata surya lebih lanjut. Chan menganalogikan hal ini dengan era penjelajahan samudra atau awal mula industri penerbangan, di mana perjalanan kaum kaya mendanai pengembangan infrastruktur yang akhirnya bisa dinikmati publik luas.
"Kami melihat Bulan sebagai batu loncatan," ujar narasi perusahaan tersebut. Keuntungan dari hotel di Bulan direncanakan akan diputar kembali untuk riset dan pengembangan teknologi yang memungkinkan kolonisasi Mars di masa depan. Dengan kata lain, para miliarder yang membayar deposit hari ini secara tidak langsung sedang menjadi investor bagi masa depan peradaban manusia multi-planet.
Baca juga: Ikuti Amerika? Rusia Targetkan Bangun Reaktor Nuklir di Bulan Sebelum Tahun 2036!
Menanti Fajar Baru di 2032
Meskipun masih ada keraguan mengenai kelayakan teknis dan keselamatan, pembukaan reservasi ini menunjukkan bahwa pasar wisata luar angkasa sedang matang. Minat publik terhadap antariksa, yang dipicu oleh keberhasilan misi Artemis dan komersialisasi orbit rendah Bumi, kini berada di titik tertinggi.
Bagi mereka yang memiliki dana berlebih, deposit Rp4 miliar mungkin harga yang pantas untuk sebuah tempat dalam sejarah. Jika GRU Space berhasil merealisasikan visinya, para tamu hotel ini tidak hanya akan mendapatkan liburan paling eksotis yang pernah ada, tetapi juga pengalaman spiritual melihat "Kelereng Biru" (Bumi) yang rapuh dari kejauhan—sebuah fenomena yang dikenal sebagai Overview Effect, yang sering kali mengubah pandangan hidup para astronaut selamanya.
Untuk saat ini, dunia hanya bisa menunggu sambil melihat apakah Skyler Chan dan GRU Space mampu mengubah render arsitektur cantik tersebut menjadi hunian nyata di Kawah Shackleton atau Mare Tranquillitatis enam tahun mendatang.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News

Tinggalkan Komentar