Fakta Air Sinkhole Sumbar 2026: Wagub Vasco Larang Warga Minum Akibat Bakteri E. Coli

Wildan Nur Alif Kurniawan . January 13, 2026


Foto: Universitas Gajah Mada

Teknologi.id – Sebuah fenomena geologi yang tidak biasa di awal tahun 2026 telah memicu gelombang spekulasi dan antusiasme warga di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Laporan terbaru yang dihimpun oleh CNBC Indonesia menyoroti kemunculan sebuah lubang amblas atau sinkhole raksasa di tengah lahan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua. Yang membuat fenomena ini menjadi viral di media sosial bukan hanya ukurannya yang menganga, melainkan air jernih berwarna kebiruan yang memenuhi lubang tersebut, yang oleh sebagian warga diyakini memiliki khasiat penyembuhan dan keberkahan mistis.

Namun, di balik keindahan visual air yang tampak seperti kolam alami tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang nyata. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama para ahli geologi segera melakukan langkah mitigasi dan pengujian laboratorium guna meredam simpang siur informasi yang berpotensi membahayakan keselamatan publik.

Kronologi Kemunculan dan Reaksi Massa

Kejadian ini bermula di awal Januari 2026, ketika warga setempat dikejutkan oleh suara dentuman keras yang menyerupai ledakan dari arah persawahan. Tak lama berselang, tanah di area tersebut amblas membentuk lubang besar dengan diameter mencapai 10 meter dan kedalaman sekitar 8 meter. Dalam waktu singkat, lubang tersebut terisi oleh air yang sangat jernih dan jernih, menciptakan kontras yang tajam dengan tanah kecokelatan di sekitarnya.

Rumor mengenai "air berkhasiat" menyebar secepat kilat melalui grup WhatsApp dan unggahan TikTok. Beberapa narasi bahkan mengaitkan kemunculan air ini dengan sumber air suci atau mukjizat alam yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit hingga penyakit dalam. Hal ini memicu eksodus warga dari berbagai daerah yang datang membawa botol dan jeriken untuk mengambil air tersebut. Kondisi ini membuat lokasi sinkhole mendadak menjadi pusat kerumunan, yang dikhawatirkan dapat memicu kecelakaan akibat struktur tanah di bibir lubang yang masih tidak stabil.

Baca juga: Misteri Sungai Hilang di Tanah Datar: Ahli Ungkap Peran Sinkhole dan Karst

Fakta Laboratorium: Ancaman E. Coli di Balik Kejernihan

Merespons situasi yang semakin tidak terkendali, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, turun langsung ke lokasi pada Minggu (11/1/2026). Dalam pernyataan resminya yang dikutip Senin (12/1/2026), Vasco memperingatkan masyarakat agar segera menghentikan aktivitas mengonsumsi air dari sinkhole tersebut. Berdasarkan hasil uji laboratorium awal yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Badan Geologi ESDM, air tersebut dinyatakan tidak layak konsumsi secara langsung.

Data menunjukkan bahwa meskipun nilai Total Dissolved Solids (TDS) atau padatan terlarut dalam air tersebut cukup bagus dan kandungan besi (Fe) masih dalam batas aman, terdapat satu indikator yang sangat merah: kandungan bakteri E. Coli yang sangat tinggi. Tingginya kadar bakteri ini kemungkinan besar berasal dari sisa-sisa material organik yang ikut terseret saat tanah amblas atau rembesan dari sistem drainase sekitar yang masuk ke dalam kantong air bawah tanah tersebut.

Vasco juga menegaskan bahwa tingkat keasaman (pH) air berada di angka 6,5, yang merupakan batas bawah standar keamanan air minum. "Air ini tidak ada hubungannya dengan penyembuhan kesehatan. Kami mohon masyarakat jangan sampai terjebak dalam praktik sirik atau percaya pada mitos yang tidak berdasar. Secara medis, air ini berbahaya jika diminum tanpa diolah karena bakterinya tinggi," tegas Wagub Sumbar tersebut.


Foto: Reddit.com

Penjelasan Geologi: Jejak Karst dan Dampak Siklon

Dari perspektif sains, para pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Badan Geologi memberikan penjelasan yang lebih rasional. Wilayah Nagari Situjuah Batua memang dikenal sebagai kawasan batuan kapur atau karst yang tertutup oleh material erupsi Gunung Sago. Batuan kapur memiliki sifat mudah larut oleh air hujan yang bersifat asam, yang kemudian menciptakan rongga-rongga besar di bawah permukaan tanah.

Fenomena ini oleh masyarakat lokal secara turun-temurun dikenal dengan istilah "Sawah Luluih". Pakar geologi menyebutkan bahwa pemicu utama ambruknya atap rongga bawah tanah kali ini adalah akumulasi curah hujan yang sangat ekstrem akibat Siklon Senyar yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2025. Aliran air yang deras mengerosi dinding-dinding gua bawah tanah hingga akhirnya tanah di atasnya tidak mampu lagi menahan beban dan runtuh. Air yang muncul bukanlah air "ajaib", melainkan air tanah (akifer) yang terungkap ke permukaan karena ambruknya lapisan penutupnya.

Langkah Mitigasi dan Keamanan Wilayah

Pemerintah daerah kini telah memasang garis pengaman dan menetapkan zona larangan beraktivitas dalam radius 50 meter dari bibir sinkhole. BPBD Sumatera Barat melaporkan bahwa pergerakan tanah di sekitar lokasi masih terus terpantau, yang berarti lubang tersebut masih berpotensi meluas. Penggunaan alat berat atau aktivitas manusia yang terlalu dekat dikhawatirkan dapat memicu longsor susulan yang membahayakan nyawa.

Selain pengamanan fisik, edukasi publik menjadi prioritas utama untuk meluruskan persepsi masyarakat. Pemerintah berharap warga lebih mengedepankan logika ilmiah daripada narasi pseudosains yang beredar. Jika air tersebut tetap ingin digunakan untuk kebutuhan non-konsumsi (seperti menyiram tanaman), hal itu masih dimungkinkan, namun untuk keperluan mandi atau minum, air tersebut wajib melewati proses filtrasi dan pemanasan hingga mendidih guna membunuh kuman penyakit.

Baca juga: Ekspedisi OceanX–BRIN Ungkap Misteri Gunung Laut Sulawesi yang Jarang Diteliti

Sains sebagai Kompas di Tengah Fenomena Alam

Kejadian sinkhole di Sumatera Barat pada Januari 2026 menjadi pengingat penting bagi kita semua tentang pentingnya literasi sains di tengah masyarakat. Keindahan alam seringkali menyimpan rahasia biologis yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Melalui hasil lab yang transparan, pemerintah telah menunjukkan bahwa kesehatan publik jauh lebih berharga daripada mengikuti tren viral yang belum teruji kebenarannya.

Fenomena "Sawah Luluih" adalah kekayaan geologi Indonesia yang harus dipelajari untuk mitigasi bencana di masa depan, bukan justru dijadikan objek mistifikasi yang berisiko. Bagi warga Sumatera Barat, kewaspadaan terhadap struktur tanah di kawasan karst harus ditingkatkan, terutama saat musim penghujan ekstrem melanda, guna menghindari kejadian serupa di pemukiman padat penduduk.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar