Tumor Ginjal Lenyap dengan Sayatan Minim! Intip Kehebatan Robot Bedah Da Vinci XI

Irmanon Riandina . January 15, 2026


Foto : Instagram/rs.emc

Teknologi.id - 
Perkembangan teknologi di dunia medis terus menghadirkan solusi baru yang semakin presisi dan minim risiko. Salah satu inovasi yang kini mulai dimanfaatkan secara luas adalah sistem bedah robotik Da Vinci XI, teknologi mutakhir yang memungkinkan dokter melakukan operasi kompleks, termasuk penanganan tumor ginjal hingga kanker prostat, dengan metode minimal invasif.

Meski kerap disebut sebagai “robot bedah”, Da Vinci XI bukanlah alat yang bekerja secara mandiri. Seluruh prosedur tetap dikendalikan langsung oleh dokter spesialis. Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, Prof. Dr. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, Sp.U (K) Onk, FICRS, menegaskan bahwa peran manusia tetap menjadi pusat dari tindakan medis ini.

“Meski sering disebut sebagai robot, Da Vinci XI tetap dioperasikan oleh seorang dokter spesialis,” ujarnya. Teknologi ini dirancang untuk membantu dokter menjangkau area operasi yang sulit dicapai dengan metode konvensional, tanpa harus membuat banyak sayatan. Dengan pendekatan tersebut, trauma pada jaringan tubuh dapat ditekan seminimal mungkin, sekaligus meningkatkan akurasi tindakan bedah.

Komponen Utama pada Da Vinci XI


Foto : dok. RS Eka Hospital

Secara sistem, Da Vinci XI terdiri dari tiga komponen utama yaitu :

  • Pertama, sistem audiovisual yang berfungsi sebagai pusat kontrol kamera. Melalui sistem ini, dokter dapat melihat area operasi dengan tampilan yang sangat detail dan tajam.
  • Kedua, patient cart, yakni unit dengan empat lengan robot yang ditempatkan di atas pasien untuk melakukan tindakan bedah.
  • Ketiga, surgical console, tempat dokter duduk dan mengendalikan seluruh pergerakan lengan robot secara lebih nyaman dan sesuai.

Kelebihan dari Komponen yang Ada pada Da Vinci XI

Melalui konsol tersebut, dokter memperoleh visualisasi tiga dimensi dari bagian dalam tubuh pasien. Teknologi ini juga membantu menghilangkan tremor tangan, sehingga pergerakan alat bedah menjadi jauh lebih stabil dan terkendali. Menurut Prof. Agus Rizal, inilah salah satu pembeda utama antara operasi robotik dan laparoskopi konvensional.

Baca juga: ROSA Hadir di Indonesia, Teknologi Robotik yang Bikin Operasi Lutut Lebih Presisi

"Lengan robot Da Vinci XI yang stabil dan ujung alatnya bisa berputar serta meliuk seperti tangan manusia memungkinkan sayatan yang lebih akurat tanpa ada kesalahan akibat tremor maupun tangan yang lelah," ujarnya. Hal ini menunjukkan adanya fleksibilitas yang mempermudah tindakan karena ujung alat bedah dapat berputar dan meliuk menyerupai pergerakan tangan manusia.

Selain itu,  robot ini memiliki komponen patient cart atau empat lengan robot yang tersedia, satu dokter bahkan bisa melakukan tindakan yang biasanya membutuhkan bantuan lebih dari satu orang.

Tingkat Komplikasi Pascaoperasi Rendah

Berdasarkan pengalaman klinis, tingkat komplikasi pascaoperasi relatif rendah sehingga banyak pasien dapat keluar dari rumah sakit dalam waktu singkat dibandingkan operasi terbuka. Hal ini terjadi karena faktor tindakan yang dilakukan secara presisi dan minim sayatan, proses pemulihan pasien pun akhirnya bisa cenderung lebih cepat.

Teknologi ini sangat direkomendasikan untuk beberapa jenis tindakan, seperti radikal prostatektomi, yaitu tindakan untuk pengangkatan kanker prostat. Dengan operasi robotik, risiko efek samping pascaoperasi dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, partial nephrectomy atau pengangkatan tumor ginjal tanpa mengangkat seluruh organ juga menjadi lebih aman karena proses penjahitan dapat dilakukan dengan cepat dan presisi. Bahkan teknologi ini juga dapat menangani tindakan yang cukup terkenal sulit dilakukan seperti operasi rekonstruksi.

Sejak tahun 2021, Prof. Agus Rizal bersama timnya telah berhasil menangani lebih dari 50 kasus operasi menggunakan teknologi robotik. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan ini memberikan efek yang jauh lebih baik dibandingkan metode lain seperti  bedah terbuka, terutama dalam menjaga jaringan sehat di sekitar area yang dioperasi. Menurutnya, teknologi ini dapat memperhatikan detail seperti jaringan kecil milimeter agar tetap terjaga.

Baca juga: Wow! AI Baru Ini Prediksi Risiko Kanker Payudara Hingga 5 Tahun Lebih Awal

Menurut Prof. Agus Rizal, kehadiran teknologi robotik merupakan bagian penting dari masa depan dunia kedokteran. Ia menilai upaya dalam bidang kedokteran dengan mengadopsi teknologi canggih ini diharapkan dapat memperluas akses pasien di Indonesia terhadap layanan medis berstandar tinggi yang lebih presisi dan minim resiko. 

"Kini pasien tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan prostat dengan teknologi modern. Kehadiran robot ini bukan menggantikan dokter, tapi memperluas kemampuan penglihatan dan tangan dari dokter yang menangani," ujar Prof Agus. Ke depan, pemanfaatan teknologi seperti Da Vinci XI diyakini akan semakin meluas seiring meningkatnya kebutuhan akan tindakan medis yang lebih canggih dan efektif.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(IR/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar