
Foto: ET
Teknologi.id – Dalam satu dekade terakhir, industri elektronik konsumen selalu memiliki pola yang dapat diprediksi: resolusi layar akan terus bertambah, piksel akan semakin padat, dan gambar akan semakin tajam. Dari SD ke HD, lalu ke Full HD, hingga akhirnya 4K menjadi standar emas di ruang keluarga kita. Namun, ketika industri mencoba mendorong batas berikutnya menuju resolusi 8K, narasi kemajuan teknologi ini mendadak terhenti.
Teknologi resolusi 8K, yang sempat digadang-gadang sebagai "The Next Big Thing" atau masa depan industri televisi, kini justru menunjukkan tanda-tanda kematian dini. Alih-alih menggantikan 4K sebagai standar baru, tren TV 8K justru layu sebelum benar-benar berkembang. Fenomena ini bukan sekadar spekulasi, melainkan didukung oleh langkah strategis sejumlah produsen elektronik raksasa dunia yang mulai realistis dan perlahan "balik kanan" meninggalkan segmen ultra-premium ini.
Eksodus Para Raksasa Teknologi
Tanda-tanda keruntuhan ambisi 8K mulai terlihat jelas ketika pemain utama industri layar kaca mulai mengubah haluan. TCL dan Sony, dua nama besar dalam inovasi visual, belakangan ini telah mengurangi fokus mereka secara signifikan pada lini produk 8K. Mereka tidak lagi membanjiri pasar dengan model-model 8K baru, melainkan kembali menyempurnakan teknologi 4K dengan fitur panel yang lebih canggih seperti Mini-LED atau QD-OLED.
Pukulan terbaru datang dari LG Electronics. Salah satu pemimpin pasar panel layar dunia ini telah mengonfirmasi langkah strategisnya untuk tidak lagi menjadikan TV 8K sebagai prioritas dalam jajaran produk terbarunya di tahun 2026. Keputusan LG ini seolah menjadi "paku terakhir" pada peti mati tren 8K, menegaskan bahwa pasar untuk televisi dengan resolusi super tinggi ini memang sedang tidak baik-baik saja.
Padahal, jika kita menengok sejarah singkatnya, ambisi industri ini sangatlah besar. Sharp pernah menjadi pionir yang memamerkan prototipe TV 8K di panggung dunia pada 2012, bahkan mulai menjualnya secara komersial di Jepang pada 2015 dengan harga yang fantastis—mencapai miliaran rupiah. Samsung kemudian mencoba membawa teknologi ini ke pasar mainstream Amerika Serikat pada 2018, diikuti oleh LG pada 2019. Saat itu, semua orang yakin bahwa 8K adalah evolusi alami berikutnya. Namun, realitas pasar di tahun 2026 berkata lain.
Baca juga: Tips Merawat Smart TV Agar Awet Bertahun-tahun dan Tidak Cepat Rusak
Tiga Alasan Utama Mengapa 8K Gagal Bersinar

Foto: Gadgetren
Mengapa teknologi yang secara teknis superior ini justru gagal memikat hati konsumen dan produsen? Para analis industri dan pakar teknologi merangkum kegagalan ini ke dalam tiga faktor fundamental yang sulit dibantah.
1. Masalah "Ayam dan Telur" pada Konten Hambatan terbesar bagi adopsi TV 8K adalah ketiadaan konten. Hingga hari ini, konten dengan resolusi 8K asli (native) masih sangat langka. Layanan streaming raksasa seperti Netflix, Disney+, atau Amazon Prime Video masih memfokuskan infrastruktur mereka pada 4K HDR. Mengirimkan sinyal 8K membutuhkan bandwidth internet yang sangat besar dan biaya penyimpanan server yang masif, yang saat ini belum dianggap efisien secara bisnis. Membeli TV 8K hari ini ibarat membeli mobil balap Formula 1 tetapi hanya bisa mengendarainya di jalanan macet ibu kota; potensi mesinnya tidak akan pernah terpakai.
2. Keterbatasan Biologis Mata Manusia Ini adalah argumen sains yang paling telak. Mata manusia memiliki batas resolusi sudut pandang. Pada jarak pandang normal di ruang keluarga (sekitar 2-3 meter), mata manusia rata-rata sudah tidak bisa lagi membedakan peningkatan ketajaman antara layar 4K dan 8K. Kecuali Anda menonton dengan menempelkan hidung ke layar atau menggunakan layar bioskop berukuran raksasa di ruangan kecil, piksel tambahan pada 8K menjadi mubazir. Lompatan visual dari 1080p ke 4K sangat terasa, tetapi lompatan dari 4K ke 8K memberikan diminishing returns atau hasil yang makin mengecil yang tidak sebanding dengan lonjakan harganya.
3. Regulasi Energi yang Mencekik Faktor ketiga adalah regulasi lingkungan, khususnya di pasar kunci seperti Uni Eropa. TV 8K membutuhkan kepadatan piksel yang luar biasa tinggi. Semakin padat pikselnya, semakin sulit bagi cahaya latar (backlight) untuk menembusnya. Akibatnya, TV 8K membutuhkan daya listrik yang jauh lebih besar untuk menghasilkan tingkat kecerahan yang setara dengan TV 4K. Regulasi ketat Uni Eropa mengenai batas konsumsi energi perangkat elektronik pada dasarnya "mencekik" pengembangan TV 8K. Produsen kesulitan menyeimbangkan performa visual 8K dengan syarat efisiensi energi yang diwajibkan hukum, membuat produksi dan penjualan perangkat ini menjadi semakin rumit dan mahal.
Baca juga: SmartTube di Android TV Disusupi Malware! Google Langsung Tindak
Apa Langkah Terbaik untuk Konsumen?
Saat ini, hanya segelintir produsen seperti Samsung yang terlihat masih cukup konsisten mempertahankan sisa-sisa pasar 8K global, sementara vendor lain memilih mundur. Bagi konsumen di tahun 2026, nasihat dari para ahli teknologi sangat jelas: Jangan beli TV 8K.
Investasi terbaik untuk hiburan rumah saat ini adalah televisi 4K kelas atas (high-end). Teknologi seperti OLED, QD-OLED, atau Mini-LED pada resolusi 4K menawarkan kontras yang lebih baik, warna yang lebih hidup, dan HDR yang lebih memukau—faktor-faktor yang jauh lebih berdampak pada kualitas gambar dibandingkan sekadar jumlah piksel. Simpan uang Anda, karena masa depan 8K tampaknya masih sangat jauh, atau mungkin tidak akan pernah benar-benar tiba.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar