Kementerian Keuangan AS Diretas oleh Hacker Asal Rusia

Super Intern . December 14, 2020

Foto: Unsplash

Teknologi.id - Baru-baru ini santer diberitakan hacker asal Rusia meretas email Kemenkeu dan NTIA (Administrasi Informasi dan Telekomunikasi Nasional) Amerika Serikat. Pemerintah Rusia diminta untuk bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Peretasan ini terjadi beberapa hari setelah para pemimpin AS memperingatkan terkait hacker dengan Pemerintah Rusia yang bisa menyerang data mereka yang sensitif dan rawan.

Dilansir The Washington Post dalam CNN Indonesia, ada tiga orang yang mengetahui kasus ini dan membeberkan semua target yang akan disusupi lewat sistem manajemen jaringan, yaitu SolarWinds.

Baca Juga: Hacker Jual Ratusan Akun Email Eksekutif Perusahaan

SolarWinds sendiri digunakan lebih dari 300 ribu organisasi di seluruh dunia, seperti militer, Kementerian Luar Negeri, Badan Keamanan Nasional, Kantor Eksekutif Presiden, dan lain-lain.

Dikutip dari News18, kasus peretasan ini sudah tercium sejak beberapa bulan lalu namun baru dipastikan sekarang. Peretasan dimulai oleh hacker dengan cara membobol dan mengakali otentikasi platform Microsoft Office 365 kantor NTIA.

Para hacker ini juga sudah mengawasi email staf di lembaga tersebut selama berbulan-bulan. Pemerintah AS menduga peretasan ini dilakukan oleh APT29 atau Cozy Bear yang merupakan bagian dari intelijen Rusia.

Memperkenalkan kelas premium teknologi.id untuk kalian yang ingin belajar Full Stack Developer, Front End React, Flutter Mobile Development, Back End Python, dan Data Science bersama tech expert dengan materi yang berkualitas serta up to date sesuai yang kalian butuhkan. Segera daftarkan dirimu untuk mendapatkan harga terbaik, jangan sampai ketinggalan!

teknologiid events

Aksi peretasan ini dilanjutkan dengan meretas email Kemenkeu dan NTIA. Kasus peretasan ini sekarang berada dalam penyelidikan FBI dan badan keamanan siber Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS.

Baca Juga: Google Temukan Celah Keamanan di iOS

Badan Keamanan Infrastruktur dan Siber (CISA) juga ikut bekerja dan memberi bantuan teknis untuk mengidentifikasi serta menekan potensi kebobolan.

"Ini bisa menjadi salah satu spionase paling berdampak dalam sejarah," ungkap pakar keamanan siber Dmitri Alperovitch, dikutip dari Associated Press.

Ini bukanlah hal yang pertama kali dilakukan oleh APT29. Sebelumnya, APT29 pernah menjebol server email Kementerian Luar Negeri AS dan Gedung Putih saat masa pemerintahan Barak Obama di tahun 2014.

(rh)

teknologi id bookmark icon
Berita Terpopuler