Bocah SD Boyolali Temukan Celah Keamanan NASA, Belajar dari YouTube dan AI

Teknologi.id . July 20, 2026
Foto: Kaltim Post

Teknologi.id – Prestasi membanggakan datang dari Indonesia. Seorang siswa kelas 6 SD asal Boyolali, Jawa Tengah, Ibrahim Al Abrar, berhasil menemukan celah keamanan pada salah satu domain publik milik NASA. Berkat temuannya tersebut, ia menerima surat apresiasi resmi dari badan antariksa Amerika Serikat itu pada 9 Juli 2026.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa siapa pun dapat mempelajari cybersecurity secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar digital, seperti YouTube dan kecerdasan buatan (AI).

Baca juga: Mahasiswa Bandung Temukan Celah Claude AI, Diganjar Rp66 Juta dari Anthropic

Berawal dari Hobi Bermain Gim

Ketertarikan Ibrahim terhadap dunia teknologi berawal dari hobinya bermain gim. Melihat minat tersebut, kedua orang tuanya mendorongnya untuk belajar membuat gim melalui pemrograman atau coding.

Seiring waktu, Ibrahim mulai mendalami berbagai bahasa pemrograman secara autodidak. Ketertarikannya kemudian berkembang ke bidang keamanan siber (cybersecurity).

Meski begitu, perjalanan belajarnya tidak selalu mudah. Banyak istilah teknis yang awalnya sulit dipahami. Untuk mengatasinya, Ibrahim rutin mencari penjelasan melalui video YouTube dan berdiskusi dengan AI hingga benar-benar memahami materi yang dipelajari.

Cara belajar tersebut membantunya memahami berbagai konsep teknologi informasi tanpa harus mengikuti kursus formal.

Berhasil Menemukan Celah Keamanan di Domain Publik NASA

Kemampuan yang terus diasah akhirnya membuahkan hasil. Ibrahim berhasil menemukan kerentanan berupa broken link hijacking pada salah satu domain publik NASA.

Broken link hijacking merupakan kerentanan yang muncul ketika sebuah tautan menuju layanan eksternal atau subdomain sudah tidak lagi aktif. Kondisi ini berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk mengambil alih tautan tersebut dan mengarahkannya ke konten yang tidak semestinya.

Setelah menemukan kerentanan tersebut, Ibrahim melaporkannya melalui Vulnerability Disclosure Policy (VDP), yaitu program resmi NASA yang memungkinkan peneliti keamanan dari berbagai negara melaporkan kerentanan secara bertanggung jawab agar dapat segera diperbaiki.

Laporan yang dikirim Ibrahim kemudian berhasil diverifikasi oleh tim NASA. Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam membantu meningkatkan keamanan aset digital yang berada dalam cakupan program VDP, NASA mengirimkan surat penghargaan resmi pada 9 Juli 2026.

Empat Kali Mengirim Laporan ke NASA

Ayah Ibrahim, Aminudin, mengungkapkan bahwa putranya tidak langsung berhasil pada percobaan pertama.

Selama proses tersebut, Ibrahim telah mengirimkan empat laporan kerentanan kepada NASA, dengan hasil sebagai berikut:

  • Satu laporan diterima dan memperoleh surat apresiasi resmi.
  • Satu laporan disetujui, namun masih menunggu proses tindak lanjut.
  • Satu laporan ditolak.
  • Satu laporan dinyatakan duplikat karena kerentanan tersebut telah lebih dahulu dilaporkan oleh peneliti lain.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Ibrahim bahwa dunia keamanan siber membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsistensi dalam melakukan riset.

Belajar Mandiri dengan Internet, YouTube, dan AI

Foto: Sorot Post

Menurut Aminudin, keberhasilan putranya tidak lepas dari kemudahan akses informasi di era digital.

Saat menemui materi yang sulit dipahami, Ibrahim memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Ia menonton video tutorial di YouTube, membaca berbagai referensi, hingga berdiskusi dengan AI untuk memahami konsep-konsep yang belum dikuasai.

Selain belajar cybersecurity, Ibrahim juga pernah membuat gim sederhana sebagai latihan untuk mengasah kemampuan coding sebelum akhirnya fokus mendalami keamanan siber.

Baca juga: Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia 2026, Dua Bos Data Center Tembus 10 Besar

Bercita-cita Menjadi Profesional Cybersecurity

Setelah menerima apresiasi dari NASA, Ibrahim semakin termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya di bidang keamanan siber.

Aminudin berharap pencapaian tersebut menjadi langkah awal bagi putranya untuk meniti karier sebagai profesional cybersecurity. Ia juga berharap suatu hari nanti Ibrahim dapat mengikuti program bug bounty, yaitu program pemberian penghargaan kepada peneliti keamanan yang berhasil menemukan dan melaporkan kerentanan pada sistem milik perusahaan atau organisasi.

Lebih dari itu, ia ingin kisah putranya menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan mengembangkan keterampilan digital.

Menurutnya, dengan adanya internet, YouTube, dan AI, kesempatan untuk mempelajari teknologi kini semakin terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan belajar.

Bukti Anak Indonesia Mampu Bersaing di Dunia Teknologi

Prestasi Ibrahim Al Abrar menunjukkan bahwa kemampuan di bidang teknologi tidak selalu ditentukan oleh usia maupun pendidikan formal. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, semangat belajar, serta memanfaatkan berbagai sumber belajar digital, seorang siswa sekolah dasar pun dapat memberikan kontribusi nyata dalam membantu meningkatkan keamanan aset digital milik lembaga kelas dunia seperti NASA.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa akses terhadap internet dan teknologi dapat membuka peluang besar bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan kemampuan di bidang digital dan bersaing di tingkat internasional.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(dwk)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar