.jpg)
Foto: Wikipedia
Teknologi.id – Dunia kesehatan global kembali dikejutkan oleh kemunculan "musuh lama" yang mematikan. India, negara yang dalam beberapa tahun terakhir berjuang melawan berbagai wabah zoonosis, kini melaporkan kembalinya serangan Virus Nipah (NiV).
Awal tahun 2026 ini menjadi momen kelabu bagi negara bagian Benggala Barat (West Bengal), India, di mana otoritas setempat mengonfirmasi adanya lima kasus infeksi baru. Situasi kian mengkhawatirkan karena di antara para korban terdapat tenaga medis—dokter dan perawat—yang tertular saat menjalankan tugas mulia mereka.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa sekitar 100 orang kini berada dalam karantina ketat. Mereka adalah individu yang diduga memiliki kontak erat dengan pasien positif. Di rumah sakit Kolkata, satu pasien dilaporkan dalam kondisi kritis, memicu kembali trauma akan ganasnya virus yang belum ada penawarnya ini.
Mengenal 'Sang Pembunuh Senyap'
Virus Nipah bukanlah nama baru, namun reputasinya selalu membuat gemetar para ahli epidemiologi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan Nipah sebagai patogen berisiko tinggi karena potensinya untuk memicu epidemi.
Virus ini bersifat zoonosis, artinya melompat dari hewan ke manusia. Inang alami utamanya adalah kelelawar buah (famili Pteropodidae), atau yang sering kita kenal sebagai kalong.
Meskipun infeksi pada manusia tergolong peristiwa yang jarang terjadi, dampaknya sangat fatal ketika virus ini berhasil menembus pertahanan tubuh manusia. Tingkat kematian (Case Fatality Rate/CFR) akibat virus Nipah sangatlah tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%, tergantung pada jenis strain virus dan kemampuan penanganan medis setempat. Angka ini jauh melampaui tingkat kematian COVID-19, menjadikan Nipah salah satu virus paling mematikan di muka bumi.
Baca juga: China Dilanda Wabah Virus Baru: HMPV, Menyebar Cepat
Gejala yang Menipu: Dari Flu Hingga Koma

Foto: CEPI
Salah satu tantangan terbesar dalam menangani Nipah adalah gejalanya yang "menipu" di tahap awal. Masa inkubasi virus ini bervariasi antara 4 hingga 21 hari, namun bisa lebih lama pada kasus tertentu.
Pada fase awal, pasien hanya akan merasakan gejala umum layaknya flu biasa:
Demam tinggi.
Sakit kepala.
Nyeri otot.
Kelelahan ekstrem.
Masalah pernapasan (batuk, sesak napas).
Namun, virus ini bekerja dengan cepat dan ganas. Komplikasi paling serius adalah serangan terhadap otak atau radang otak (ensefalitis). Dalam hitungan hari, gejala dapat memburuk secara drastis menjadi pusing hebat, kebingungan mental, penurunan kesadaran, kejang-kejang, hingga koma dalam waktu 24-48 jam.
Bagi mereka yang beruntung selamat dari maut, pertempuran belum tentu usai. Penyintas Nipah sering kali mengalami gangguan neurologis jangka panjang, seperti kejang berulang atau perubahan kepribadian. Bahkan, virus ini memiliki kemampuan "tidur" (dormant) dan dapat memicu ensefalitis kambuhan berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi pertama.
Baca juga: India Resmi Geser China Sebagai Eksportir Smartphone Terbesar ke AS, Ini Sebabnya!
Jalur Penularan yang Harus Diwaspadai
Bagaimana virus ini bisa sampai ke manusia? Ada tiga jalur utama penularan yang diidentifikasi para ahli:
Kontak Langsung dengan Hewan: Bersentuhan dengan kelelawar atau hewan perantara lain (seperti babi) yang sakit.
Makanan Terkontaminasi: Mengonsumsi buah-buahan atau nira (air sadapan pohon kurma/aren) mentah yang telah tercemar air liur atau urine kelelawar terinfeksi.
Penularan Antarmanusia: Ini yang paling dikhawatirkan. Virus dapat menular melalui kontak erat dengan cairan tubuh (darah, urine, air liur) dari orang yang terinfeksi, terutama di lingkungan keluarga atau rumah sakit. Kasus tertularnya tenaga medis di India menjadi bukti nyata risiko ini.
Belum Ada Obat, Pencegahan Adalah Kunci
Hingga detik ini, belum ada vaksin atau obat khusus yang disetujui untuk membunuh virus Nipah. Perawatan medis yang tersedia hanya bersifat suportif, yakni menjaga kondisi pasien agar tetap stabil dan membiarkan sistem imun tubuh melawan virus tersebut.
Oleh karena itu, pencegahan adalah satu-satunya senjata ampuh saat ini. Masyarakat dihimbau untuk:
Hindari Nira Mentah: Jangan mengonsumsi nira kurma/aren mentah langsung dari pohon, karena wadah penampungnya sering menjadi tempat minum kelelawar di malam hari. Rebuslah nira sebelum dikonsumsi.
Cuci Buah dengan Bersih: Kupas dan cuci buah-buahan secara menyeluruh. Buang buah yang memiliki bekas gigitan hewan.
Hindari Kontak Fisik: Gunakan pelindung diri saat merawat orang sakit atau hewan ternak.
Kebersihan Tangan: Cuci tangan secara rutin dengan sabun.
Kemunculan kembali wabah di India pada tahun 2026 ini menjadi "lampu kuning" bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, yang juga memiliki habitat kelelawar buah yang luas. Kewaspadaan tanpa kepanikan adalah sikap terbaik untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman zoonosis ini.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar