
Teknologi.id – Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026) berdampak langsung terhadap aktivitas penerbangan di Indonesia. Sejumlah bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta hingga Bandara Radin Inten II Lampung, menghentikan sementara operasional penerbangan akibat sebaran abu vulkanik.
Lalu, kenapa pesawat tidak boleh terbang saat terjadi erupsi gunung api?
Jawabannya karena abu vulkanik bisa menjadi ancaman serius bagi mesin, sistem pesawat, hingga keselamatan penerbangan. Meski terlihat seperti debu biasa, material yang keluar dari gunung api memiliki karakteristik yang sangat berbahaya ketika berada di jalur penerbangan.
Baca juga: Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Pesawat, Penumpang Bisa Video Call di Udara!
Abu Vulkanik Bisa Membuat Mesin Pesawat Mati
Salah satu alasan utama penerbangan dihentikan saat terjadi erupsi adalah risiko abu vulkanik masuk ke mesin pesawat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung partikel berupa pecahan batuan, mineral, hingga kaca vulkanik berukuran sangat kecil.
Ketika partikel tersebut masuk ke mesin pesawat yang memiliki suhu sangat tinggi, abu dapat meleleh dan menempel pada komponen di dalam mesin.
Akibatnya, aliran udara di dalam mesin bisa terganggu dan dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan mesin kehilangan tenaga hingga mati.
Karena risiko tersebut, pesawat sebisa mungkin harus menghindari wilayah udara yang terpapar abu vulkanik.
Kaca Kokpit Bisa Rusak dan Pandangan Pilot Terganggu
Bahaya abu vulkanik tidak hanya mengancam mesin pesawat.
Partikel abu yang sangat halus dan tajam juga dapat mengenai bagian luar pesawat, termasuk kaca kokpit. Gesekan abu vulkanik dapat bekerja seperti amplas yang perlahan mengikis permukaan kaca.
Jika kaca kokpit menjadi buram atau rusak, jarak pandang pilot dapat terganggu.
Padahal, visibilitas menjadi salah satu faktor penting dalam keselamatan penerbangan, terutama saat pesawat melakukan proses lepas landas maupun pendaratan.
Abu Vulkanik Bisa Ganggu Sistem Navigasi Pesawat
Masalah lainnya adalah potensi gangguan terhadap berbagai sensor penting pada pesawat.
Abu vulkanik dapat masuk dan menyumbat bagian tertentu, termasuk sensor yang digunakan untuk membantu memberikan informasi mengenai kecepatan dan ketinggian pesawat.
Jika sensor mengalami gangguan, informasi yang diterima pilot dan sistem pesawat berpotensi menjadi tidak akurat.
Kondisi tersebut tentu dapat meningkatkan risiko selama penerbangan.
Abu Vulkanik Bisa Terbawa hingga Ratusan Kilometer
Abu vulkanik merupakan material halus yang terbentuk ketika gunung api mengalami erupsi eksplosif.
Material ini terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik dengan ukuran yang sangat kecil, umumnya kurang dari 2 milimeter.
Karena ukurannya sangat halus, abu vulkanik dapat terbawa angin hingga jauh dari lokasi gunung yang mengalami erupsi.
Itulah sebabnya dampak erupsi tidak selalu hanya dirasakan di sekitar gunung api.
Dalam kasus erupsi Gunung Anak Krakatau, sebaran abu vulkanik bahkan dapat memengaruhi sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda hingga wilayah yang cukup jauh dari lokasi gunung.
Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau
Berdasarkan informasi PVMBG, VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 pada Minggu (6/9/2026), sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau bergerak ke beberapa arah.
Sebaran pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, sebaran lainnya bergerak ke arah barat daya hingga barat laut yang mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Kondisi inilah yang membuat otoritas penerbangan perlu melakukan pemantauan secara ketat dan menyesuaikan operasional penerbangan berdasarkan pergerakan abu vulkanik.
Baca juga: Sisa Kuota Tak Boleh Hangus, Telkomsel Siapkan Penyesuaian Paket Internet
Mengapa Bandara Bisa Ditutup Saat Gunung Meletus?
Penutupan sementara bandara dilakukan sebagai langkah keselamatan.
Ketika abu vulkanik terdeteksi berada di jalur penerbangan atau berpotensi membahayakan proses lepas landas dan pendaratan, operasional pesawat dapat dihentikan sementara.
Keputusan tersebut bukan hanya karena kondisi di sekitar bandara, tetapi juga mempertimbangkan jalur penerbangan dan pergerakan abu vulkanik di atmosfer.
Setelah kondisi dinilai aman dan sebaran abu tidak lagi membahayakan penerbangan, operasional bandara dapat kembali dibuka secara bertahap.
Dengan kata lain, meski abu vulkanik terlihat seperti debu biasa dari kejauhan, material ini bisa menjadi ancaman serius bagi pesawat. Mulai dari merusak mesin, mengganggu pandangan pilot, hingga memengaruhi sistem penting pesawat.
Karena itu, penghentian sementara penerbangan saat terjadi erupsi merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(dwk)

Tinggalkan Komentar