
Foto: Freepik/ GarryKillian
Teknologi.id - Selama ribuan tahun, keberadaan surga menjadi perdebatan panjang yang memisahkan antara ilmuwan dan teolog. Namun, sebuah klaim mengejutkan datang dari Dr. Michael Guillen, seorang mantan pengajar Harvard University yang memegang gelar PhD di bidang fisika, matematika, dan astronomi. Dalam esai terbuka terbarunya, ia menyatakan telah berhasil mengidentifikasi "lokasi tepat" dari surga di alam semesta secara fisik.
Melalui pendekatan yang unik, Guillen menggabungkan konsep kosmologi modern bernama Cosmic Horizon dengan penafsiran ayat-ayat Alkitab. Berdasarkan perhitungan matematisnya, lokasi yang ia yakini sebagai surga tersebut berada pada jarak yang nyaris tak terbayangkan: 273 miliar triliun mil atau sekitar 439 sekstiliun kilometer dari Bumi. Meski klaim ini sangat spesifik, Guillen sendiri mengakui bahwa argumennya bersifat spekulatif dan bukan merupakan bagian dari sains arus utama.
Baca juga: China Buka Wisata Luar Angkasa, Harga Tiket Rp7,3 Miliar per Orang!
Mengacu pada Teori Edwin Hubble
Guillen mendasarkan teorinya pada fakta bahwa alam semesta terus mengembang, sebuah gagasan yang pertama kali dipopulerkan oleh astronom Edwin Hubble pada tahun 1929. Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi di luar sana bergerak menjauh satu sama lain, mirip dengan serpihan yang terlontar akibat ledakan bom.
Penelitian Hubble juga mengungkap pola yang pasti: semakin jauh jarak suatu galaksi dari Bumi, semakin cepat galaksi tersebut bergerak menjauh. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai Hukum Hubble. Berangkat dari pola tersebut, Guillen menarik sebuah kesimpulan matematis ekstrem. Ia berargumen bahwa pada jarak 439 sekstiliun kilometer, sebuah galaksi akan bergerak menjauh dengan kecepatan 186.000 mil per detik, yang merupakan kecepatan cahaya.
Titik "Cosmic Horizon" dan Keabadian
Jarak yang sangat jauh tersebut disebut Guillen sebagai Cosmic Horizon atau Cakrawala Kosmik. Menurutnya, titik ini merupakan batas absolut bagi umat manusia. Cahaya dari wilayah di luar cakrawala tersebut tidak akan pernah bisa mencapai kita karena ruang di antaranya mengembang jauh lebih cepat daripada kecepatan cahaya itu sendiri.
"Anda dan saya tidak akan pernah bisa mencapainya," tulis Guillen.
Ia bahkan menegaskan bahwa roket bertenaga nuklir paling canggih sekalipun tidak akan sanggup membawa manusia melintasi batas tersebut. Baginya, keterbatasan fisik ini selaras dengan deskripsi religius mengenai surga sebagai tempat yang dihuni oleh entitas non-material dan abadi, serta tidak dapat diakses oleh manusia yang masih hidup dan dalam bentuk fisik.
Menariknya, Guillen juga mengaitkan teorinya dengan relativitas Einstein. Ia menyebutkan bahwa di Cakrawala Kosmik, waktu secara efektif "berhenti". Berdasarkan hukum fisika, di titik tersebut tidak ada lagi konsep masa lalu, masa kini, maupun masa depan, yang ada hanya keabadian.
"Berbeda dengan waktu, ruang memang ada di dan melampaui Cakrawala Kosmik. Artinya, alam semesta yang tersembunyi di luar sana dapat dihuni, meskipun hanya oleh cahaya dan entitas yang menyerupai cahaya," ungkapnya.
Baca juga: Revolusi Energi! Matahari Buatan China Tembus Batas Mustahil di Awal Januari 2026
Bantahan Keras dari Komunitas Ilmiah
Meskipun Guillen memiliki latar belakang akademis yang kuat dari Harvard, komunitas kosmologi arus utama tidak sepakat dengan interpretasi tersebut. Para ilmuwan menekankan bahwa ada perbedaan mendasar antara "efek pengamatan" dan "realitas fisik".
Dalam model kosmologi modern, waktu tidak benar-benar berhenti di Cakrawala Kosmik. Fenomena yang digambarkan Guillen sebenarnya adalah efek redshift, di mana peristiwa yang sangat jauh tampak melambat karena cahaya yang menuju Bumi teregang akibat ekspansi ruang. Ini bukan berarti waktu di lokasi tersebut benar-benar berhenti bagi objek yang berada di sana.
Selain itu, para ahli menegaskan bahwa Cakrawala Kosmik bukanlah sebuah lokasi fisik tetap di alam semesta. Batas tersebut bersifat relatif terhadap posisi pengamat. Artinya, jika ada peradaban di galaksi lain yang sangat jauh, mereka akan memiliki cakrawala kosmiknya sendiri, dan dari sudut pandang mereka, posisi Bumi mungkin justru berada di cakrawala kosmik yang mereka anggap "abadi". Dengan demikian, klaim mengenai lokasi fisik surga ini dianggap lebih sebagai spekulasi filosofis daripada penemuan ilmiah murni.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar