Deteksi Serangan dalam Milidetik, BSSN Perkuat Benteng Pertahanan Digital Nasional

⁠Adimas Herviana . January 21, 2026

Foto: RRI

Teknologi.Id - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menegaskan bahwa sistem pertahanan digital nasional kini mampu mendeteksi serangan siber dalam hitungan milidetik. Klaim ini bukan sekadar pernyataan, melainkan bagian dari strategi besar Indonesia dalam memperkuat ketahanan siber di tengah meningkatnya ancaman digital global.

BSSN melalui National Security Operations Command (NSOC) menyampaikan bahwa eskalasi anomali lalu lintas jaringan meningkat tajam sepanjang 2025. Sistem ini dirancang untuk mengenali kejanggalan traffic secara real time bahkan dalam skala milidetik, sehingga potensi ancaman dapat segera diidentifikasi sebelum berdampak luas pada sistem nasional.

Hal ini ditegaskan langsung oleh Kepala BSSN, Nugroho Sulistyo Budi, dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI. Ia menyampaikan, “Pada tahun 2025, anomali traffic yang dimonitor oleh National Security Operations Command (NSOC) BSSN itu meningkat eskalasinya cukup tajam. Dapat kami laporkan berkaitan dengan kemampuan National Security Operations Center Command kami dalam melaksanakan deteksi itu sangat cepat, hitungannya kalau secara real time bahkan milidetik,” ujar Nugroho dalam rapat yang disiarkan secara daring, pada Selasa, 20 Januari 2026 lalu.

Identifikasi Serangan yang Presisi

Kemampuan NSOC BSSN untuk mengenali jenis serangan secara spesifik menjadi fondasi penting dalam pertahanan digital. Ransomware biasanya menyandera data dan menuntut tebusan, malware menyusup untuk mencuri informasi, exploit memanfaatkan celah perangkat lunak, sedangkan DDoS melumpuhkan layanan dengan membanjiri sistem trafik berlebihan. 

Sensor NSOC mampu menampilkan perbedaan ini secara real time sehingga tim dapat segera menentukan langkah mitigasi yang tepat. Identifikasi presisi ini juga mengurangi risiko salah penanganan yang bisa memperburuk dampak serangan. Eskalasi anomali trafik yang meningkat tajam sepanjang 2025 menunjukkan betapa krusialnya kemampuan membedakan jenis serangan sejak awal.

Baca Juga: Waspada Model Penipuan Pada SItus Coretax, Cek Disini!

Proses Notifikasi dan Standar Operasi

Meski deteksi berlangsung dalam milidetik, proses peringatan kepada entitas yang diserang tetap membutuhkan tahapan verifikasi. Standar operasi BSSN menetapkan notifikasi paling lambat dalam 1x24 jam. Tahapan ini dilakukan agar informasi yang diteruskan benar-benar valid dan tidak menimbulkan kepanikan. Keterlambatan notifikasi menjadi tantangan karena serangan siber sering berlangsung cepat dan dapat menimbulkan kerugian besar dalam hitungan jam. 

Pertanyaan tentang Efektivitas 

Efektivitas sistem BSSN menjadi perhatian dalam rapat kerja bersama DPR. Anggota Komisi I menyoroti indikator Mean Time to Detect (MTTD) dan Mean Time to Respond (MTTR) sebagai tolok ukur utama.

  • MTTD menunjukkan seberapa cepat sistem menyadari adanya serangan.
  • MTTR mengukur rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk merespons dan menanggulangi serangan.

Kedua indeks ini digunakan secara internasional untuk menilai kesiapan suatu negara menghadapi ancaman digital. DPR menekankan bahwa anggaran besar yang dialokasikan untuk keamanan siber harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kedua indikator tersebut. Transparansi mengenai capaian MTTD dan MTTR menjadi kunci agar publik dapat menilai apakah investasi yang dilakukan benar-benar meningkatkan ketahanan siber nasional. 

Pentingnya Indeks Kinerja Siber

Indeks kinerja seperti Mean Time to Detect (MTTD) dan Mean Time to Respond (MTTR) menjadi tolok ukur utama dalam menilai kualitas pertahanan digital. MTTD menunjukkan seberapa cepat sistem menyadari adanya serangan, sedangkan MTTR menilai ketepatan dan kecepatan respons. Semakin rendah kedua nilai tersebut, semakin baik kualitas sistem keamanan siber. 

Negara-negara dengan sistem siber maju menjadikan kedua indeks ini sebagai standar internasional. Misalnya, laporan global dari International Telecommunication Union (ITU) menempatkan negara-negara dengan MTTD rendah dalam kategori kesiapan tinggi menghadapi ancaman digital. Indonesia dengan klaim deteksi milidetik berpotensi memperbaiki posisinya dalam indeks global keamanan siber, yang sebelumnya masih berada di level menengah.

Implikasi bagi Ketahanan Nasional

Kemampuan mendeteksi serangan dalam milidetik memberi keunggulan strategis bagi Indonesia. Ancaman siber tidak hanya menyasar individu atau perusahaan, tetapi juga infrastruktur vital seperti jaringan listrik, sistem perbankan, layanan publik, hingga sektor kesehatan. Serangan terhadap infrastruktur ini dapat menimbulkan kerugian besar dan mengganggu stabilitas nasional. 

Dengan sistem yang sigap, potensi kerugian dapat ditekan. Kepercayaan masyarakat terhadap keamanan digital juga meningkat, terutama di era transformasi digital yang semakin masif. Kecepatan deteksi yang dimiliki BSSN dapat menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi ancaman lintas negara yang semakin kompleks.

Baca Juga: Waspada AI Bisa Digunakan Untuk Alat Penipuan, Kamu Harus Tahu Ini!

Tantangan yang Masih Ada

Meski klaim BSSN menunjukkan kemajuan, tantangan tetap hadir. Proses notifikasi yang memakan waktu hingga 24 jam bisa menjadi celah jika serangan berlangsung cepat dan masif. Dalam kasus serangan DDoS, misalnya, dampak bisa langsung dirasakan dalam hitungan menit. Jika notifikasi tertunda, maka potensi kerugian akan semakin besar. 

Selain itu, koordinasi antar lembaga menjadi faktor penting. Serangan siber sering kali melibatkan berbagai sektor, sehingga diperlukan mekanisme komunikasi yang cepat dan terintegrasi. Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi tantangan.

Tanpa dukungan ekosistem yang kuat, kemampuan deteksi cepat tidak akan optimal dalam mencegah dampak luas. Oleh karena itu, selain teknologi, penguatan regulasi, peningkatan kapasitas SDM, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar sistem pertahanan siber Indonesia benar-benar efektif.

Langkah BSSN dalam meningkatkan kecepatan deteksi serangan siber patut diapresiasi. Dengan kemampuan mengenali ancaman dalam milidetik, Indonesia memiliki peluang besar memperkuat ketahanan digital. Agar sistem ini benar-benar optimal, kecepatan respons, koordinasi lintas lembaga, dan transparansi kinerja perlu terus ditingkatkan. Dengan penguatan di aspek tersebut, Indonesia dapat membangun pondasi keamanan siber yang lebih kokoh dan adaptif terhadap dinamika global.


Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


(dim/sa)



author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar