Awas Penipuan QRIS Berkedok Refund Paket, Uang Bukannya Kembali Malah Melayang

Irmanon Riandina . January 23, 2026


Foto : Freepik

Teknologi.id
- Aktivitas belanja online sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga barang kerja, hampir semuanya kini dikirim melalui jasa pengiriman. Seiring meningkatnya lalu lintas paket, berbagai informasi terkait pengiriman pun makin sering diterima pengguna, baik melalui aplikasi maupun pesan singkat. Di tengah kondisi ini, muncul modus penipuan baru yang memanfaatkan kebiasaan masyarakat bertransaksi secara digital. Data survei Diginex bersama Inventure dan ivosights pada 2025 mencatat, sebanyak 26,5% masyarakat Indonesia pernah menjadi korban penipuan online, salah satunya lewat QRIS.

Pesan-pesan tersebut umumnya terlihat wajar dan menggunakan bahasa yang sopan. Tidak jarang, pengirim mencantumkan nama perusahaan logistik, logo, hingga alasan teknis yang terdengar masuk akal, seperti kendala alamat atau kelebihan biaya kirim. Situasi inilah yang kerap membuat penerima pesan tidak langsung curiga dan mengikuti instruksi yang diberikan.

Namun, belakangan terungkap bahwa sebagian pesan tersebut merupakan bagian dari modus penipuan. Pelaku memanfaatkan kepercayaan pengguna layanan pengiriman dengan menyertakan kode QRIS yang diklaim sebagai sarana pengembalian dana. Alih-alih menerima refund, korban justru tanpa sadar mentransfer uang ke pihak yang tidak bertanggung jawab.

Maraknya kasus ini menunjukkan bahwa kejahatan digital terus beradaptasi mengikuti kebiasaan masyarakat. Ketika transaksi non-tunai semakin umum, celah penyalahgunaan teknologi pun ikut terbuka jika kewaspadaan pengguna menurun.

QRIS Jadi Senjata untuk Menipu

QRIS awalnya dirancang untuk memudahkan transaksi non-tunai lintas platform. Namun dalam praktiknya, teknologi ini juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital. Menurut laporan kasus dari Hotline Customer Service Center J&T Cargo, penipuan refund melalui QRIS menjadi salah satu modus yang paling sering dilaporkan oleh konsumen.

Polanya relatif seragam. Korban dihubungi oleh pihak yang mengaku sebagai perwakilan jasa pengiriman dan diberi tahu adanya kendala pengiriman, mulai dari alamat tidak lengkap hingga paket rusak. Sebagai solusi, korban ditawari pengembalian dana melalui QRIS yang dikirimkan lewat pesan instan. Saat kode tersebut dipindai, korban justru melakukan transfer dana ke rekening penipu.

Faktor yang disinyalir banyak orang mudah terpancing adalah pesan tersebut sering disertai unsur urgensi. Korban didorong untuk segera bertindak agar paket tidak dibatalkan atau dana tidak hangus.

Baca juga: QRIS Mendunia: Inovasi Pembayaran Indonesia Bikin Negara Maju Panas Dingin

Modus Terus Berganti, Tujuan Tetap Sama

QRIS palsu hanyalah satu dari sekian banyak trik yang digunakan penipu. Selain itu, mereka juga kerap menyertakan resi editan, surat berkop perusahaan palsu, hingga situs pelacakan ilegal yang tampilannya menyerupai laman resmi. Meski tampak profesional, tujuan akhirnya tetap sama: memancing korban agar mentransfer uang atau menyerahkan data sensitif di luar jalur resmi.

Apa yang Perlu Dilakukan Agar Tidak Jadi Korban?

  1. Pastikan hanya mengakses situs resmi di jtcargo.id dan hindari tautan dengan domain mencurigakan.
  2. Lakukan pengecekan nomor resi melalui sistem resmi karena resi palsu tidak akan terdaftar.
  3. Abaikan permintaan pembayaran atau refund melalui QRIS yang dikirim dari nomor pribadi.
  4. Terakhir, jika muncul keraguan, segera hubungi layanan pelanggan resmi sebelum mengambil tindakan.

Pada akhirnya, penipu mengandalkan kelengahan dan kepanikan korban. Dengan bersikap tenang dan meluangkan waktu untuk memverifikasi informasi, risiko kerugian dapat ditekan. Di era digital, kewaspadaan menjadi kunci utama. Sebelum klik atau memindai apa pun, pastikan untuk selalu cek terlebih dahulu.

Baca juga: Pengguna iPhone Belum Bisa Pakai QRIS Tap, Ini Penjelasan Bank Indonesia

Jangan Ketipu, Cek Dulu!


Foto : JnT Cargo

Di tengah situasi tersebut, pelaku industri logistik mulai mengambil langkah antisipatif. J&T Cargo, misalnya, meluncurkan kampanye edukasi bertajuk “Jangan Ketipu, Cek Dulu”. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil keputusan saat menerima pesan mencurigakan, terutama yang berkaitan dengan pembayaran atau pengembalian dana.

Maraknya penipuan dengan banyak modus seperti jasa pengiriman menjadi pengingat bahwa kemudahan teknologi selalu berjalan beriringan dengan risiko. QRIS dan layanan digital lainnya tetap aman digunakan, selama pengguna memahami batasan dan prosedur resminya.

Teknologi akan terus berkembang, begitu pula modus kejahatan. Namun dengan kewaspadaan dan kebiasaan verifikasi, risiko menjadi korban dapat ditekan. Ingat, sebelum klik atau scan apa pun cek dulu!

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(IR/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar