
Foto: Nintendo
Teknologi.id - Raksasa hiburan asal Jepang, Nintendo, secara resmi mengumumkan kebijakan revisi harga untuk konsol terbaru mereka, Nintendo Switch 2, serta jajaran aksesori lainnya. Kenaikan harga ini akan mulai berlaku secara global pada September 2026 sebagai respons terhadap kondisi pasar yang dinamis dan tantangan rantai pasok global yang diperkirakan akan berlangsung dalam jangka panjang.
Dalam pernyataan resminya yang dirilis Jumat (8/5), manajemen Nintendo menjelaskan bahwa langkah ini merupakan keputusan strategis untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah prospek ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Perusahaan juga menyampaikan permohonan maaf kepada para pelanggan dan pemangku kepentingan atas penyesuaian harga yang harus diambil tersebut.
Lonjakan Harga di Pasar Domestik dan Internasional
Penyesuaian harga akan dilakukan secara bertahap dimulai dari pasar domestik Jepang. Di negara asalnya, harga eceran yang disarankan (MSRP) untuk sistem Nintendo Switch 2 akan naik dari 49.980 Yen menjadi 59.980 Yen, yang mulai efektif pada 25 Mei mendatang. Selain perangkat keras, Nintendo di Jepang juga berencana menaikkan tarif layanan berlangganan daring (online services) yang selama ini memiliki tarif lebih rendah dibanding pasar internasional.
Sementara itu, untuk pasar global seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa, kenaikan harga dijadwalkan efektif per 1 September 2026. Di Amerika Serikat, harga Switch 2 diperkirakan naik sebesar 50 dolar AS, dari harga awal 449,99 dolar AS menjadi 499,99 dolar AS. Untuk pasar Inggris, harga revisi dari banderol saat ini sebesar £395,99 masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari pihak perusahaan.
Baca juga: Panduan Pengaturan Terbaik League of Legends 2026
Fenomena "RAMageddon" dan Krisis Komponen
Penyebab utama di balik kenaikan biaya produksi ini adalah fenomena yang dikenal di industri teknologi sebagai "RAMageddon". Krisis ini bermula pada akhir tahun 2025 ketika permintaan global akan perangkat kecerdasan buatan (AI) generatif melonjak drastis. Pusat data AI membutuhkan memori dalam jumlah besar, yang kemudian memicu kelangkaan modul RAM DDR5 di seluruh dunia.
Akibatnya, biaya komponen esensial seperti RAM 16GB hingga 64GB dan penyimpanan Solid-State Drive (SSD) mengalami kenaikan harga hingga berlipat ganda dibanding tahun 2024. Nintendo tidak sendirian dalam menghadapi tekanan ini; pesaing utama seperti Sony telah menaikkan harga PS5 Pro dari 750 menjadi 900 dolar AS, sementara Valve terpaksa menunda perilisan konsol Steam Machine mereka karena kendala pasokan komponen yang sama.
Kebijakan Tarif dan Ketidakpastian Geopolitik
Selain masalah teknis komponen, Nintendo juga mengantisipasi dampak kebijakan fiskal internasional. Kekhawatiran muncul terkait pemberlakuan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang direncanakan mulai April 2025. Kebijakan ini secara langsung memberikan tekanan tambahan pada margin keuntungan produk elektronik yang diproduksi di luar wilayah Amerika Serikat.
Analis pasar juga menunjuk pada ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Iran, yang berpotensi mengganggu jalur logistik dan rantai pasok global dalam jangka menengah hingga panjang. Meski menghadapi tekanan biaya, Nintendo melaporkan kinerja finansial yang solid dengan penjualan hampir 20 juta unit Switch 2 sejak peluncurannya Juni tahun lalu, serta mencatatkan laba sebesar 424 miliar Yen, meningkat 52% dari tahun sebelumnya.
Baca juga: Daftar Monitor Gaming LG Terbaik 2026: Pilihan OLED, 4K, dan Nano IPS
Penyesuaian pada Generasi Lama dan Aksesori
Kebijakan revisi harga ini tidak hanya menyasar konsol terbaru. Konsol generasi sebelumnya seperti Nintendo Switch model reguler, Switch OLED, dan Switch Lite juga akan mengalami kenaikan harga di kisaran 8.000 hingga 10.000 Yen di pasar Jepang. Selain itu, berbagai aksesori pendukung akan mengalami penyesuaian harga antara 5 hingga 10 dolar AS mulai September mendatang.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar