
Foto: Freepik
Teknologi.id - Kebijakan terbaru dari Uni Eropa diprediksi akan membawa perubahan besar pada desain smartphone di masa mendatang. Mulai tahun 2027, seluruh produsen elektronik termasuk vendor ponsel diwajibkan untuk menghadirkan perangkat dengan baterai yang dapat dilepas dan dipasang kembali secara mandiri oleh pengguna.
Aturan ini merupakan bagian dari inisiatif Right to Repair yang telah ditetapkan sejak 2023. Tujuan utamanya adalah menekan jumlah limbah elektronik sekaligus memberikan kebebasan lebih kepada konsumen dalam memperbaiki dan merawat perangkat mereka sendiri.
Kembali ke Era Baterai Lepas?
Jika mundur beberapa tahun ke belakang, baterai lepas pasang sebenarnya bukan hal baru. Banyak ponsel lawas mengusung desain ini sebelum era smartphone modern berkembang pesat. Namun sejak kemunculan iPhone dari Apple, tren desain berubah drastis.
Mayoritas produsen mulai mengadopsi baterai tanam demi menciptakan desain yang lebih tipis, premium, dan tahan air. Sayangnya, desain ini membuat pengguna kesulitan mengganti baterai sendiri ketika performanya mulai menurun.
Dengan aturan baru ini, industri tampaknya akan “dipaksa” untuk menemukan keseimbangan antara desain modern dan kemudahan perbaikan.
Baca juga: Cara Gila YouTuber Nyalakan PC Pakai 64 Baterai AA, Kuat Main Minecraft 33 Menit!
Tak Sekadar Bongkar Pasang Casing
Meski terdengar seperti kembali ke desain lama, aturan ini tidak berarti ponsel akan memiliki casing yang bisa dibuka dengan mudah seperti dulu. Regulasi menetapkan bahwa baterai harus bisa diganti tanpa alat khusus atau jika membutuhkan alat, produsen wajib menyediakannya secara gratis dalam paket penjualan.
Artinya, kemungkinan besar desain smartphone tetap menggunakan sekrup atau mekanisme pengunci tertentu. Namun pengguna tetap bisa mengganti baterai sendiri tanpa harus ke pusat servis resmi.
Aturan ini juga tidak hanya berlaku untuk ponsel dan tablet. Perangkat lain seperti kacamata pintar hingga konsol game juga akan terdampak. Bahkan, konsol seperti Nintendo Switch 2 dikabarkan sedang dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan penggantian baterai.
Dampak Global Tak Terhindarkan
Meski regulasi ini hanya berlaku di wilayah Uni Eropa, dampaknya diprediksi akan terasa secara global. Hal ini karena produsen biasanya menggunakan satu standar produksi untuk berbagai pasar demi efisiensi biaya.
Dengan kata lain, perubahan desain baterai ini kemungkinan besar juga akan hadir di perangkat yang dijual di luar Eropa, termasuk Asia dan Amerika. Ini bisa menjadi kabar baik bagi konsumen di seluruh dunia yang selama ini kesulitan mengganti baterai smartphone mereka.
Ada Pengecualian untuk Perangkat Tertentu
Menariknya, aturan ini tidak berlaku mutlak untuk semua perangkat. Ada pengecualian bagi produk yang memiliki daya tahan baterai tinggi. Jika sebuah perangkat mampu mempertahankan setidaknya 80 persen kapasitas setelah 1.000 siklus pengisian daya, maka produsen tidak wajib mengikuti aturan baterai lepas pasang.
Dalam hal ini, Apple disebut-sebut berpotensi masuk dalam kategori pengecualian. Berdasarkan dokumen resmi, seri iPhone 15 yang dirilis sejak 2023 sudah memenuhi standar ketahanan tersebut.
Namun demikian, arah kebijakan tetap menunjukkan bahwa kemudahan perbaikan akan menjadi faktor penting dalam desain perangkat di masa depan.
Respons Positif dari Konsumen
Kebijakan ini mendapat sambutan cukup hangat dari konsumen. Banyak pengguna menilai aturan ini sebagai langkah yang lebih ramah pengguna, terutama karena baterai merupakan salah satu komponen yang paling cepat mengalami penurunan performa.
Diskusi di berbagai forum online menunjukkan bahwa pengguna menyambut baik kebebasan untuk memperbaiki perangkat mereka sendiri tanpa harus bergantung pada layanan resmi yang sering kali mahal.
Baca juga: Terobosan China! Baterai Mobil Listrik Bisa Dicas 11 Menit
Menuju Standar Baru Industri
Aturan ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada Februari 2027. Artinya, perangkat generasi mendatang seperti Samsung Galaxy S27 kemungkinan akan menjadi salah satu yang pertama mengikuti standar baru tersebut, setidaknya untuk pasar Eropa.
Ke depan, kebijakan ini bisa menjadi titik balik dalam industri teknologi. Produsen tidak hanya dituntut menghadirkan inovasi dari sisi performa dan desain, tetapi juga dari aspek keberlanjutan dan kemudahan perbaikan.
Dengan semakin kuatnya dorongan terhadap right to repair, konsumen kini memiliki posisi yang lebih kuat dalam menentukan bagaimana perangkat mereka digunakan dan diperbaiki.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(ir/sa)

Tinggalkan Komentar