Singapura Tidak Akui Keberadaan Vaksin Sinovac

Muhammad Iqbal Mawardi . July 08, 2021

Foto: QZ

Teknologi.id – Dicky Budiman selaku Epidemiolog Universitas Griffith Australia, memberikan tanggapan terkait vaksin Covid-19 asal China, Sinovac yang tidak diakui negara Singapura.

Dicky mengatakan, dalam konteks kenegaraan setiap negara wajib memastikan orang yang masuk ke wilayahnya adalah orang yang sudah mendapatkan vaksin dengan proteksi yang maksimal.

"Kalau bicara negara lain, tentu setiap negara memastikan orang yang masuk ke wilayahnya adalah orang-orang yang sudah dapat vaksin dengan fungsi proteksi yang optimal," ujar Dicky.

Dicky menjelaskan hal tersebut bukan tidak mungkin terjadi pada vaksin Covid-19 lain bila ada temuan tidak ampuh melawan virus coroan varian baru.

"Ini adalah kondisi yang bukan hanya bisa terjadi pada Sinovac, tapi beberapa vaksin lain yang tidak menunjukkan efektivitas pada varian terbaru yang mengancam," ujar Dicky.   

Baca juga: Dari Sinovac Sampai AstraZeneca, Vaksin Mana yang Terbaik?

Meski begitu Dicky tidak menampik bahwa vaksin Sinovac efektif untuk meminimalisir kesakitan dan kematian pada pasien Covid-19, dengan varian tertentu. Namun, dijelaskan Dicky, harus tetap dicari tahu berapa efikasi vaksin itu pada varian terbaru.

Dicky menggambarkan, efikasi vaksin terhadap varian virus terbaru dengan virus orisinal tentunya berbeda. Ia menjelaskan efikasi cenderung lebih menurun saat ini, terlebih dengan banyaknya kasus kematian pada tenaga kesehatan yang sudah menerima Sinovac.

"Ini menjadi concern bahwa akan ada potensi pertama mungkin dia menurun potensi proteksinya setelah enam bulan, dia [vaksin Sinovac] tidak efektif terhadap varian baru," ucap Dicky.

Pemerintah Singapura sebelumnya dikabarkan tidak mengakui keberadaan vaksin Covid-19 jenis Sinovac, dalam program vaksinasi nasional. Singapura mengandalkan dua vaksin buatan Amerika Serikat, yakni Moderna dan Pfizer-BionTech.

Hal tersebut dikarenakan dua vaksin itu memiliki efikasi lebih dari 90 persen berdasarkan uji klinis. Sementara Sinovac disebut menunjukkan tingkat kemanjuran yang jauh lebih rendah, yakni 50,4 persen hingga 90 persen.

(MIM)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar