Contoh Inflasi dalam Barang yang Dikonsumsi Sehari-Hari!

Akseleran . March 30, 2021

Sumber: Akseleran Blog 

Contoh Inflasi – Mungkin kamu pernah merasa bahwa harga barang terus naik dan bingung mengapa bisa seperti itu. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya Inflasi.

Inflasi adalah suatu proses dimana meningkatnya harga-harga secara terus menerus yang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, adanya ketidaklancaran dalam distribusi barang dan berbagai faktor penyebab inflasi lainnya. Jika kamu sudah mengerti apa itu inflasi dengan baik, kamu bisa mempersiapkan diri supaya meminimalisir dampak inflasi.

Inflasi sendiri terdapat emang golongan, yaitu inflasi ringan, inflasi sedang, inflasi berat, dan hiperinflasi. Masing-masing dari inflasi ini memiliki kenaikan harga yang berbeda, seperti inflasi ringan kenaikan harganya berada di bawah 10% per tahun, inflasi sedang di angka 10%-30% per tahun, inflasi berat di angka 30%-100% per tahun, sedangkan hiperinflasi di angka 100% per tahun.

Pengaruh Inflasi dalam Barang Konsumsi Sehari-hari!

Salah satu contoh inflasi barang konsumsi yang paling menonjol belakangan ini dalam kehidupan sehari-hari adalah kopi. Peminat dari kopi sendiri sangat beragam mulai dari pegawai kantoran, mahasiswa, dan lainnya. Mungkin di 5 tahun kebelakang kopi masih hanya sebuah “teman” saat berbincang sekaligus berkumpul bersama teman. Tetapi sekarang kopi sudah menjadi hal wajib untuk kesehariannya, bahkan sebagian dari mereka sudah memiliki ketergantungan dengan kopi.

Di era sekarang rata-rata harga secangkir atau segelas kopi  ada di sekitar Rp 30.000,-. Nah harga tersebut berpotensi mengalami kenaikan setiap tahunnya dikarenakan adanya inflasi. Perlu diketahui bahwa harga secangkir atau segelas kopi di indonesia sendiri memiliki tingkat inflasi rata-rata 8%-10% per tahun. Kita bisa lihat tabel dibawah:

Inflasi 2019 2020 2025 2030
10% / Tahun Rp.30.000,- Rp. 33.000,- Rp. 54.000,- Rp. 86.000,-


Tabel diatas menampilkan harga rata-rata kopi di tahun ini senilai Rp. 30.000,- / kopi,. Dengan asumsi tingkat inflasi secangkir kopi konstan di angka 10% per tahun, maka di tahun 2030 harga kopi bisa mencapai Rp. 86.000,- / kopi. Mungkin di tahun 2019 sampai tahun depan harga kopi masih terjangkau untuk kamu, tapi di 2030 harga kopi tersebut sudah mencapai Rp 86.000,- untuk secangkir kopi. Lumayan tinggi bukan?

Dampak Inflasi Terhadap Properti!

Berbicara mengenai inflasi tentu tidak akan lepas dari harga-harga properti. Menurut beberapa survei, kaum milenial akan kesulitan memiliki rumah dikarenakan meningkatnya harga properti yang sangat cepat.

Sebagai contoh, di Jakarta sendiri harga rumahnya bermacam-macam. seperti di Jakarta Timur lebih tepatnya di Pulo Gebang menjadi area yang cukup terjangkau di kawasan Jakarta, karena rata-rata harga rumah di sekitar sini Rp. 300 juta hingga Rp. 500 juta untuk rumah ukuran 100 m2.

Di Jakarta Selatan, tepatnya di Ciganjur rata-rata rumah di sana mencapai Rp. 400 juta hingga Rp. 500 juta untuk rumah ukuran 100 m2. Berbanding terbalik dengan harga di Kelapa Gading yang rata-ratanya mencapai Rp. 50 juta per meter persegi artinya jika rumah seluas 100 m2, maka harganya mencapai Rp. 5 milyar.

Harga rumah terjangkau lainnya berada di Cibubur, Jakarta Timur dan Ciracas yang rata-rata mencapai Rp. 500 juta hingga Rp.800 juta untuk rumah ukuran 100 m2. Jika di rata-ratakan, harga rumah di Jakarta untuk rumah ukuran tersebut mulai dari Rp. 300 juta untuk yang termurah, hingga Rp. 5 milyar untuk yang termahal.

Dengan harga rumah yang sudah mencapai milyaran tersebut, sekarang sudah tahu kan kenapa milenial diprediksi sulit untuk memiliki rumah? Terlebih lagi dengan adanya inflasi yang mencapai 15% per tahun di sektor ini. Untuk lebih jelasnya bisa kita lihat contoh inflasi tabel dibawah ini:

Tahun 2019 2020 2025 2030
15% / Tahun Rp. 500 Juta Rp. 575 Juta Rp. 1,15 Milyar Rp. 2.32 Milyar


Dengan asumsi tingkat inflasi 15% per tahun, maka harga rumah yang tadinya hanya Rp 500 Juta bisa menjadi lebih dari Rp. 2 Milyar dalam 10 tahun. So, sekarang kamu sudah tahu kan dampak dari inflasi?

Sudah siapkah kamu menghadapi masa depan dengan adanya efek inflasi ini?

Lawan Inflasi Dengan P2P Lending Akseleran!

Jadikan contoh inflasi diatas sebagai pelajaran karena dengan peningkatan harga beserta inflasi terhadap berbagai macam kebutuhan hidup sebesar itu, tentu kamu sudah mulai sadar akan pentingnya mempersiapkan segalanya mulai dari sekarang.

Ada cara untuk melawan inflasi, yaitu dengan memberikan pinjaman. Lho? Kok memberikan pinjaman bisa mengatasi inflasi? Melalui platform Peer-to-peer (P2P) Lending, kamu bisa memberikan dana kepada UKM yang membutuhkan pinjaman, dan menikmati hasil dari bunga pinjaman tersebut. Sehingga, dana yang kamu berikan akan kamu terima kembali dengan bunganya. Bisa dibilang, P2P Lending ini merupakan salah satu cara untuk melawan inflasi.

Coba juga Pendanaan P2P Lending Akseleran, bunga s.d. 18% per tahun!

Di era digital ini, ada cara lain untuk mengembangkan dana, salah satunya dengan memberikan dana pinjaman. Lho? Memberikan pinjaman kok bisa mengembangkan dana? Melalui platform Peer to peer Lending (P2P Lending), kamu bisa memberikan dana kepada UKM yang membutuhkan pinjaman dan menikmati bunga pinjamannya tersebut. Sehingga dana yang kamu pinjamkan akan kamu terima kembali beserta bunganya.

Jika kamu tertarik untuk mencoba pendanaan P2P Lending, kamu bisa mencoba Akseleran. Di Akseleran, kamu bisa mendanai UKM di Indonesia yang membutuhkan modal pinjaman dan kamu bisa mendapatkan bunga hingga 18% per tahun. Melakukan pendanaan di Akseleran juga sangat aman kok, karena lebih dari 99% portofolio pinjamannya memiliki agunan dan berasuransi. Akseleran juga sudah berizin resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

 Akseleran memberikan dana promo senilai Rp 100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode Teknologi100. Download aplikasinya di Google Play atau App Store.

TEKNOLOGI100

author0
teknologi id bookmark icon
author

Akseleran

Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia

Tinggalkan Komentar

0 Komentar