CEO OnePlus Pete Lau Jadi Buronan Taiwan, Diduga Rekrut Insinyur Ilegal!

⁠Adimas Herviana . January 14, 2026

Foto: Forbes India

Teknologi.id - Kasus penangkapan CEO OnePlus, Pete Lau, menjadi sorotan internasional setelah pemerintah Taiwan mengeluarkan surat perintah resmi atas dugaan perekrutan ilegal lebih dari 70 insinyur lokal. Peristiwa ini tidak hanya menyangkut aspek hukum, tetapi juga menyingkap ketegangan geopolitik dan persaingan teknologi antara Taiwan dan China. 

Mengapa Pete Lau Jadi Buronan

Pemerintah Taiwan melalui Kantor Kejaksaan Distrik Shilin mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Pete Lau pada 13 Januari 2026. Ia diduga bekerja sama dengan dua warga Taiwan, Lin dan Cheng, untuk merekrut tenaga kerja terampil tanpa izin resmi. Praktik ini dianggap melanggar Undang-undang Lintas Selat, yang mengatur hubungan antara masyarakat Taiwan dan China Daratan demi menjaga keamanan nasional. 

Undang-undang tersebut mewajibkan perusahaan asal China untuk meminta izin sebelum mempekerjakan warga Taiwan. Dugaan pelanggaran ini memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi besar berusaha memanfaatkan keahlian tenaga kerja Taiwan yang dikenal unggul di bidang semikonduktor dan perangkat lunak.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di 5 Provinsi, Apa Ada di Lokasi Mu?

Jejak Perusahaan Bayangan

Investigasi menunjukkan bahwa OnePlus mendirikan perusahaan di Hong Kong pada 2014 dengan nama berbeda. Setahun kemudian, perusahaan tersebut didaftarkan di Taiwan dan berganti nama menjadi “Sonar”. Lin dan Cheng diduga menjadi pihak yang mengatur proses ini.

Antara 2015 hingga 2021, dana lebih dari NT$2,3 miliar (Rp 1,2 triliun) dialirkan melalui perusahaan perdagangan Hong Kong. Dana tersebut diklaim sebagai pendapatan dari penelitian dan pengembangan, namun faktanya digunakan untuk membayar gaji karyawan serta membeli peralatan. Pola ini memperlihatkan adanya strategi sistematis untuk menyamarkan tujuan sebenarnya, yakni perekrutan tenaga kerja lokal secara ilegal.

Peran Lin dan Cheng di Balik Operasi

Lin dipercaya sebagai direktur RnD yang bertugas mewawancarai dan memimpin tim, sementara Cheng berperan sebagai perwakilan hukum. Cheng mengaku hanya menangani perencanaan pajak dan tidak mengetahui operasional perusahaan. Ia menegaskan bahwa cabang Taiwan berfokus pada penelitian dan pengembangan smartphone OnePlus. 

Meski begitu, penyidik menilai keduanya tetap memiliki peran penting dalam mendukung perekrutan ilegal. Lin dianggap sebagai penghubung utama antara Pete Lau dan tenaga kerja lokal, sementara Cheng berperan dalam legalisasi dokumen perusahaan.

Langkah Taiwan Menghentikan Perekrutan Ilegal

Kasus Pete Lau hanyalah satu dari banyak praktik serupa. Taiwan telah lama berupaya menghentikan perekrutan ilegal oleh perusahaan asal China. Pada 2025, Biro Investigasi Taiwan melaporkan lebih dari 100 penyelidikan terhadap perusahaan China yang beroperasi secara ilegal sejak 2020.

Bahkan, 34 lokasi digerebek sebagai bagian dari penyelidikan terhadap 11 perusahaan teknologi, termasuk Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC), yang menyamar sebagai entitas Samoa untuk merekrut talenta lokal. Fakta ini menunjukkan bahwa Taiwan menghadapi tantangan serius dalam melindungi tenaga kerja berkeahlian tinggi dari praktik perekrutan yang tidak sah.

Mengapa Taiwan Menjadi Sasaran Utama?

Taiwan memiliki tenaga kerja dengan keahlian tinggi di bidang teknologi, terutama semikonduktor. Keunggulan ini membuat perusahaan China tertarik merekrut mereka. Selain faktor bahasa yang sama, pengalaman teknis pekerja Taiwan dianggap sebagai aset penting dalam persaingan global. 

Pemerintah Taiwan menilai praktik ini berpotensi membahayakan keamanan nasional karena menyangkut transfer pengetahuan strategis. Dengan kata lain, perekrutan ilegal bukan hanya soal tenaga kerja, tetapi juga soal bagaimana sebuah negara mempertahankan keunggulan kompetitifnya di tengah persaingan teknologi global.

Baca Juga: Hati-Hati Penipuan Pada Saat Melapor SPT Tahunan, Simak Ini!

Dampak bagi OnePlus dan Industri Teknologi

Kasus Pete Lau menimbulkan pertanyaan besar mengenai reputasi OnePlus. Hingga kini, perusahaan belum memberikan tanggapan resmi. Jika terbukti bersalah, kasus ini dapat memengaruhi hubungan bisnis OnePlus di pasar internasional. 

Lebih jauh, peristiwa ini memperlihatkan bagaimana perebutan talenta teknologi menjadi bagian dari persaingan geopolitik antara Taiwan dan China. Dunia teknologi kini menyaksikan bahwa inovasi tidak hanya ditentukan oleh produk, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan untuk mengakses sumber daya manusia yang unggul.

Potensi Awal dari Krisis yang Lebih Besar

Penangkapan Pete Lau bukan sekadar kasus hukum. Ia mencerminkan ketegangan yang semakin nyata dalam industri teknologi global. Taiwan berusaha melindungi aset strategisnya, sementara perusahaan China mencari cara untuk memperkuat posisi mereka. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kasus ini akan menjadi preseden bagi tindakan hukum lebih tegas terhadap perusahaan teknologi lain yang mencoba merekrut tenaga kerja Taiwan secara ilegal. 

Perebutan Talenta dan Masa Depan Industri

Kasus Pete Lau memperlihatkan bahwa perebutan talenta teknologi kini bukan lagi sekadar isu bisnis, melainkan telah menjadi bagian dari strategi geopolitik. Taiwan menegaskan komitmennya untuk melindungi tenaga kerja lokal dari praktik perekrutan ilegal, sementara perusahaan asal China terus mencari cara memperkuat posisi mereka di pasar global. 

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa regulasi lintas negara semakin berperan penting dalam menjaga keseimbangan industri. Jika kasus ini berlanjut hingga proses hukum yang tegas, bukan tidak mungkin akan muncul aturan baru yang lebih ketat untuk mengawasi perekrutan tenaga kerja di sektor teknologi. Hal ini bisa menjadi preseden bagi negara lain yang menghadapi tantangan serupa.


Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


(dim/sa)


author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar