Teknologi.id - Kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita, meningkatkan efisiensi dan memungkinkan kita untuk memproses volume data yang besar. Namun, seperti alat lainnya, AI dapat disalahgunakan, dan hacker telah mulai memanfaatkan kekuatannya untuk melancarkan kegiatan jahat. 

Teknologi meningkatkan efisiensi dari kegiatan kriminal. Hal ini memungkinkan para pelanggar hukum untuk menargetkan lebih banyak orang dan membuat mereka terlihat lebih masuk akal. Melihat bagaimana para penjahat telah beradaptasi dan mengadopsi kemajuan teknologi di masa lalu, dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana mereka mungkin menggunakan AI.

Menjelajahi Potensi Penyalahgunaan Kecerdasan Buatan dalam Aktivitas Peretasan

Daniel Prince, salah satu Profesor Kamanan Siber dari Lancaster University, mengungkap cara para kriminal memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan peretasan. Profesor Prince mengungkap topik tersebut dalam artikelnya di The Conversation berjudul, “Four Ways Criminals Could Use AI to Tagret more Victims.”

Berikut adalah empat cara di mana hacker menggunakan AI untuk meretas:

1. Kail Phishing yang Lebih Baik

Alat AI seperti ChatGPT dan Bard dari Google memiliki kemampuan untuk menghasilkan konten yang meyakinkan. Meskipun alat-alat ini ditujukan untuk membantu dalam menulis pesan pemasaran, hacker dapat memanfaatkannya untuk membuat email dan teks phishing yang meyakinkan. Dengan menggunakan AI untuk membuat pesan yang lebih meyakinkan, hacker meningkatkan peluang mereka untuk menipu korban agar mengungkapkan informasi sensitif. Bahkan peningkatan kecil dalam tingkat keberhasilan phishing dapat mengakibatkan jutaan korban tambahan jatuh ke dalam serangan semacam itu.

2. Interaksi Otomatis

Alat AI telah digunakan untuk mengotomatisasi interaksi layanan pelanggan, memungkinkan bisnis untuk merespons pertanyaan dengan cepat dan efisien. Namun, hacker juga dapat menggunakan alat-alat ini untuk menciptakan interaksi otomatis dengan calon korban dalam skala besar. Mereka dapat menyamar sebagai layanan sah seperti bank melalui telepon atau email untuk menipu orang agar memberikan informasi pribadi dan keuangan. Kemampuan untuk melakukan interaksi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya memberikan keuntungan bagi hacker dalam skema penipuan mereka.

3. Deepfake

AI sangat baik dalam menghasilkan model-model realistis dengan melatihnya menggunakan data dalam jumlah besar. Teknologi deepfake, yang melibatkan manipulasi audio dan video untuk membuat konten yang meyakinkan namun palsu, adalah contoh utama. Meskipun teknik deepfake paling canggih mungkin masih di luar jangkauan kebanyakan penjahat, AI dapat digunakan untuk meniru respons manusia dalam pesan teks, email, catatan suara, atau panggilan telepon. Dengan mengumpulkan data dari media sosial dan sumber lainnya, hacker dapat membuat versi deepfake dari individu dan menggunakannya untuk berinteraksi dengan teman dan keluarga, yang berpotensi mendapatkan informasi berharga atau mengakses akun pribadi.

4. Brute Forcing

"Brute forcing" adalah teknik di mana hacker secara sistematis mencoba berbagai kombinasi karakter dan simbol untuk membobol kata sandi. Dengan memanfaatkan algoritma AI yang dilatih menggunakan data individu, hacker dapat membangun daftar prioritas potensi kata sandi, sehingga proses brute forcing menjadi lebih efisien. Alat AI dapat menganalisis aktivitas online dan pos media sosial seseorang untuk mengumpulkan informasi yang membantu membangun profil, sehingga lebih mudah menebak kata sandi atau PIN yang terkait dengan individu tersebut. Pendekatan yang ditargetkan ini meminimalkan sumber daya yang diperlukan untuk serangan brute forcing.

Meskipun AI menawarkan banyak manfaat, penting untuk mengakui potensi penyalahgunaannya. Masyarakat perlu beradaptasi dan memahami implikasi AI agar dapat melindungi diri dari upaya peretasan. Mengembangkan sikap skeptis yang sehat dan memverifikasi keabsahan informasi yang kita temui online adalah langkah penting. Dengan aktif berinteraksi dengan AI dan menjaga sikap proaktif, kita dapat memanfaatkan keunggulan AI sambil melindungi diri dari potensi bahaya.

Baca juga:  10 Sertifikasi dan Kursus AI Terbaik 2023 yang Wajib Dicoba!

Sebagai kesimpulan, hacker semakin memanfaatkan AI untuk meningkatkan kegiatan jahat mereka. Mulai dari meningkatkan teknik phishing hingga interaksi otomatis, deepfake, dan serangan brute forcing, hacker memanfaatkan kemampuan AI. Seiring perkembangan AI, penting bagi individu dan masyarakat untuk tetap waspada dan mengambil langkah proaktif untuk memahami, beradaptasi, dan mengurangi risiko potensial yang terkait dengan teknologi ini.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(law)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar