
Foto: DateDrop
Teknologi.id – Tren pencarian pasangan di kalangan mahasiswa Amerika Serikat mulai mengalami pergeseran signifikan. Di Universitas Stanford, sebagian mahasiswa kini tidak lagi mengandalkan aplikasi kencan populer seperti Tinder atau Hinge untuk mencari pasangan. Mereka beralih ke sebuah layanan inovatif bernama Date Drop, sebuah platform yang dirancang khusus oleh Henry Weng, seorang mahasiswa pascasarjana di program Magister Ilmu Komputer Universitas Stanford.
Inovasi ini muncul sebagai jawaban atas fenomena kejenuhan terhadap sistem aplikasi kencan lama yang berbasis "geser layar" atau swipe. Date Drop hadir dengan pendekatan yang lebih terkurasi dan mendalam, yang bertujuan untuk membangun hubungan yang lebih bermakna di tengah komunitas akademik yang padat.
Sistem Pencocokan Mingguan yang Mendalam

Foto: DateDrop
Mekanisme kerja Date Drop sangat berbeda dari aplikasi kencan arus utama. Alih-alih memberikan tumpukan profil tanpa henti untuk digeser, layanan ini memasangkan mahasiswa dengan hanya satu calon pasangan setiap pekannya. Dasar dari pencocokan ini adalah jawaban yang diberikan pengguna melalui kuesioner mendalam yang telah disediakan.
Henry Weng menjelaskan bahwa terdapat dua elemen utama dalam sistemnya. Pertama, kuesioner yang mendalam yang mencakup jawaban terbuka hingga percakapan suara. Kedua, penggunaan model prediksi kecocokan yang dilatih secara khusus berdasarkan data hasil kencan nyata. Hal ini didukung oleh latar belakang pendidikan Weng yang memusatkan studinya pada konsep ekonomi dan matematika mengenai "matching" atau pencocokan. Dengan landasan ilmiah tersebut, Date Drop mampu menghadirkan kecocokan yang lebih akurat dibandingkan sistem acak.
Baca juga: Pantau Pasangan Real-Time! Aktifkan Fitur Google Maps Ini untuk Lacak Lokasi Pasangan
Tingkat Keberhasilan yang Melampaui Tinder
Keunggulan Date Drop tidak hanya terletak pada teknologinya, tetapi pada hasil nyatanya. Menurut data yang dipaparkan oleh Weng, tingkat kecocokan yang berujung pada kencan nyata melalui Date Drop mencapai sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Tinder. Pengguna Date Drop diajak untuk saling mengenal lebih dalam dan hanya menerima satu pasangan yang kompatibel per minggu, sehingga interaksi yang terjadi lebih fokus dan berkualitas.
Layanan ini pertama kali diluncurkan pada musim gugur, dan sejak saat itu, sambutan dari kalangan mahasiswa sangat masif. Tercatat lebih dari 5.000 mahasiswa Stanford telah mencoba Date Drop. Keberhasilan ini tidak berhenti di Stanford saja; Date Drop kini telah hadir di 10 kampus bergengsi lainnya, termasuk Massachusetts Institute of Technology (MIT), Princeton, dan University of Pennsylvania (UPenn).
Baca juga: 20 Prompt Gemini AI Foto Studio Bareng Pasangan, Tinggal “Copas”
Transformasi Menjadi Startup 'The Relationship Company'
Pada awalnya, Henry Weng tidak memiliki niat untuk menjadikan Date Drop sebagai dasar sebuah perusahaan rintisan (startup). Namun, sebuah momen personal mengubah pandangannya. Setelah seorang teman dekatnya berhasil menemukan pasangan hidup melalui Date Drop, Weng menyadari bahwa proyeknya memiliki dampak yang lebih besar daripada sekadar eksperimen akademik.
Kini, Date Drop resmi menjadi layanan pertama di bawah naungan startup miliknya yang bernama The Relationship Company. Perusahaan ini terdaftar sebagai public benefit corporation, yang secara hukum diwajibkan untuk mempertimbangkan dampak sosial bagi masyarakat selain mengejar keuntungan finansial. Visi jangka panjang perusahaan ini adalah memfasilitasi berbagai bentuk hubungan bermakna, mulai dari pertemanan, koneksi profesional, hingga pembentukan komunitas dan penyelenggaraan acara.
Dukungan Investor Global dan Filosofi Pengembangan
Potensi besar Date Drop menarik perhatian sejumlah investor kenamaan di Silicon Valley. Weng telah berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar "beberapa juta dolar". Nama-nama besar yang menyuntikkan modal antara lain Mark Pincus (pendiri Zynga dan investor awal Facebook), serta Andy Chen dan Elad Gil. Saat ini, perusahaan tersebut telah memiliki dua karyawan tetap dan didukung oleh 12 duta kampus yang tersebar di berbagai universitas.
Menariknya, pengembangan produk ini tidak hanya dipengaruhi oleh ilmu komputer. Weng mengakui bahwa kelas unik bernama "Intro to Clown" yang ia ambil di kampus membantunya memahami pentingnya menerima kegagalan dalam proses membangun produk. Bagi Weng, hubungan adalah faktor terpenting dalam hidup seseorang. Kehadiran Date Drop tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga membuat dirinya sendiri semakin terbuka pada orang-orang baru di luar rutinitas sehari-harinya. Dengan kesuksesan di lingkungan kampus, Weng berencana memperluas jangkauan Date Drop ke sejumlah kota besar pada musim panas mendatang.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar