
Foto: X/Kompas
Teknologi.id – Di balik layar ponsel yang menampilkan pesan-pesan romantis, sering kali tersembunyi niat jahat yang terorganisir rapi. Realitas kelam ini kembali terungkap setelah operasi pengawasan keimigrasian di Kabupaten Tangerang berhasil membongkar sebuah sindikat internasional yang menjalankan praktik penipuan berkedok cinta atau love scamming.
Operasi yang digelar secara intensif pada pertengahan Januari 2026 ini berujung pada penangkapan 27 Warga Negara Asing (WNA). Mereka diduga kuat menyalahgunakan izin tinggal untuk mengoperasikan jaringan penipuan siber yang menyasar korban lintas negara. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat digital untuk tidak mudah terbuai oleh afeksi maya yang ditawarkan oleh orang asing.
Operasi Senyap di Balik Tembok Apartemen
Para pelaku yang ditangkap diketahui tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan bagian dari sebuah organisasi kejahatan yang terstruktur layaknya sebuah perusahaan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, sindikat ini dikendalikan oleh seorang WNA berinisial ZK, yang berperan sebagai pemimpin utama.
Struktur organisasi mereka sangat rapi. Di bawah ZK, terdapat peran-peran spesifik seperti penyandang dana (investor) yang dipegang oleh ZH, serta pengendali operasional lapangan yang diawasi oleh ZJ, BZ, dan CZ. Mereka menyewa lokasi yang tertutup dan jauh dari keramaian di kawasan Tangerang dan Tangerang Selatan untuk menghindari kecurigaan warga sekitar.
Di dalam markas operasional tersebut, petugas menemukan puluhan perangkat komunikasi seperti ponsel pintar, laptop, dan komputer yang digunakan sebagai "senjata" untuk menjerat korban.
Target: Warga Asing dan Pemanfaatan Teknologi AI

Foto: Metro Tv
Salah satu fakta mengejutkan dari pengungkapan ini adalah target operasi mereka. Sindikat ini secara spesifik menyasar warga negara asing yang tinggal di luar Indonesia, dengan fokus utama pada warga negara Korea Selatan.
Modus operandi yang digunakan sangat canggih dan manipulatif. Para pelaku memanfaatkan aplikasi pesan instan populer seperti Telegram untuk mendekati korban. Namun, yang membuat modus ini semakin berbahaya adalah penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (AI).
Pelaku menggunakan aplikasi berbasis AI untuk membalas pesan secara otomatis dengan gaya bahasa yang natural dan menggoda. Hal ini memungkinkan satu pelaku untuk menangani banyak korban sekaligus tanpa kehilangan konsistensi dalam percakapan "romantis" mereka.
Jebakan 'Video Call' Berujung Pemerasan
Tahap paling krusial dan berbahaya dari modus ini adalah ketika pelaku berhasil meyakinkan korban untuk melakukan panggilan video (video call). Dengan bujuk rayu, pelaku akan memancing korban untuk melakukan aktivitas seksual atau telanjang di depan kamera (sex video call).
Tanpa disadari korban, pelaku merekam seluruh aktivitas tersebut. Rekaman inilah yang kemudian dijadikan senjata utama untuk melakukan pemerasan (sextortion). Korban yang panik dan malu akan diancam bahwa video tersebut akan disebarkan ke keluarga atau rekan kerja jika tidak mentransfer sejumlah uang.
Baca juga: Waspada! Penipuan Berbasis AI Meningkat: Deepfake & Nomor Palsu Jadi Ancaman Baru
Anatomi 'Pig Butchering Scam'
Kejahatan yang dilakukan sindikat ini memiliki pola yang dikenal secara global sebagai Pig Butchering Scam (penipuan potong babi). Istilah ini merujuk pada proses "menggemukkan" korban dengan janji manis dan hubungan emosional yang intens, sebelum akhirnya "disembelih" atau dikuras hartanya.
Ciri-ciri utama modus ini yang perlu diwaspadai masyarakat meliputi:
Profil Sempurna: Pelaku biasanya menggunakan foto profil yang sangat menarik (sering kali dicuri dari internet) dan memamerkan gaya hidup mewah.
Agresif dalam Romansa: Mereka sangat cepat menyatakan cinta atau ketertarikan mendalam meskipun belum pernah bertemu tatap muka.
Menolak Bertemu Langsung: Selalu ada alasan darurat atau kendala teknis setiap kali diajak bertemu secara fisik atau panggilan video normal.
Ujung-ujungnya Uang: Setelah kepercayaan terbangun, percakapan akan perlahan diarahkan ke topik finansial, investasi bodong, atau permintaan bantuan darurat.
Baca juga: WhatsApp Luncurkan Fitur Anti-Penipuan Canggih, Ini Cara Kerjanya!
Pentingnya Kewaspadaan Digital
Terbongkarnya sindikat di Tangerang ini menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya pasar korban, tetapi juga bisa menjadi basis operasional bagi kejahatan siber transnasional. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan digital.
Jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal di media sosial, apalagi jika mereka mulai meminta hal-hal yang bersifat pribadi atau finansial. Verifikasi identitas lawan bicara dengan ketat, dan jangan pernah mengirimkan konten foto atau video pribadi yang dapat disalahgunakan di kemudian hari. Cinta mungkin buta, namun di era digital, logika harus tetap terjaga.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News