Nono Juara Internasional yang Bercita-cita Mengembangkan Teknologi Seperti Elon Musk

Afiyah Khaulah . January 24, 2023
Nono, bocah jenius asal NTT (Tribun)


Teknologi.id - Seorang bocah SD asal NTT berhasil mengharumkan nama Indonesia atas prestasinya di kancah internasional. Namanya adalah Caesar Archangels HM Tnunay, saat ini dia duduk di bangku kelas satu SD Negeri Inpres Buraen 2 di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalhnya, Nono berhasil meraih juara 1 olimpiade matematika Abacus World International Competition 2022 setelah menyingkirkan 7.000 peserta lainnya.

Baca Juga : Viral Anak SD Jenius Asal NTT Juara 1 Lomba Matematika Dunia, Kalahkan 7 Ribu Peserta

Bercita Cita Menciptakan Teknologi Baru Seperti Elon Musk 

Nono bercita-cita untuk menjadi seperti Elon Musk, ia takjub akan teknologi yang dikembangkan oleh idolanya. 

"Saya bercita-cita ingin menjadi seperti Elon Musk, karena mampu menciptakan pesawat tercepat dan mobil listrik tercepat," kata Nono pada Jumat, 20 Januari 2023.

Terinspirasi dari idolanya, bocah berhati emas itu ingin sekali menciptakan teknologi baru yang dapat membantu masyarakat kecil di lingkungannya. 

"Dia sangat luar biasa bisa ciptakan alat transportasi tercepat. Kalau saya yang bisa seperti itu, masyarakat di sekitar sini saya bisa bantu, termasuk saya punya teman-teman sekolah," kata Nono disambut tepuk tangan dari teman sekelasnya.

Memang, seorang idola sangat mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak. Nono pun menyukai matematika karena telah mengidolakan fisikawan Yohanes Surya dari kecil. Sejak usia lima tahun, ia sudah gemar membaca buku buku karya Yohanes Surya.

Mengalahkan Peserta Asal Qatar dan AS

Abacus World Competition merupakan wadah perlombaan matematika untuk seluruh murid Abacus Brain Gym di seluruh dunia. Sistem perlombaan akan memenangkan siswa yang berhasil mengerjakan file soal terbanyak dalam waktu satu tahun. Tiap filenya terdiri dari 10 soal. Pada kompetisi ini, Nono berhasil menyelesaikan 15.201 file dalam setahun. Artinya Nono berhasil 152.010 soal yang diujikan dalam bentuk virtual dan lisan dalam bahasa Inggris.

Dengan ketekunannya, ia pun dapat mengalahkan peserta lainnya, bahkan peserta asal Qatar dan AS. Posisi kedua diduduki peserta dari Qatar yang mengerjakan 7.502 file atau 75.020 soal. Bahkan posisi juara 2 pun berbeda jauh dari usaha Nono, bahkan tidak ada setengah dari yang Nono kerjakan. Juara ketiga dimenangkan oleh peserta asal Amerika Serikat yang mengerjakan 6.138 file atau 61.380 soal.

Dukungan Penuh Dari Kedua Orangtuanya

Nono lahir di Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, NTT pada 2 April 2015. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara di keluarga yang sederhana. Ayahnya Rafli Meo Tunany adalah seorang petani dan pekerja bangunan. Sementara sang Ibu Nuryati Seran adalah seorang guru berstatus kontrak. Meskipun hidup dengan sederhana, hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar dan berprestasi.

Orang tua Nono sudah mengajarkan Nono untuk hidup dengan disiplin. Dia selalu memulai harinya dari jam 5 pagi untuk segera belajar dan sarapan. Ibu Nono pun mengatakan bahwa ia sudah melihat kegeniusan dan antusias Nono dalam menimba ilmu. "Dari kecil selalu bertanya ini dan itu. Dia akan selalu ingat," kata Nurhayati, Ibu Nono.

Ayahnya pun selalu mendukung kegiatan belajar Nono. Tiap harinya, Ayah Nono akan mengantarkan anaknya ke sekolah yang berjarak 4 km dari rumahnya. Terlepas dari apapun pekerjaannya, ia selalu menyisihkan uangnya untuk memfasilitasi kuota internet kepada Nono. "Kami selalu sisihkan uang untuk pulsa Nono selama mengikuti lomba itu, hingga akhirnya berhasil menjadi juara," tutur Rafli, Ayah Nono.

Baca Juga : Demi Ilmu Pengetahuan! Elon Musk Akui Tidak Segan-Segan Pasang Chip di Otak Anak

(ak)

Share :