
Foto: tangkapanlayar/tekno.kompas
Teknologi.id – Standar keamanan WhatsApp kini berada di bawah pengawasan ketat setelah dua tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi, Elon Musk dan Pavel Durov, secara terbuka menyatakan bahwa platform pesan instan milik Meta tersebut tidak lagi aman digunakan. Kritik tajam ini bukan sekadar perang urat saraf antar-kompetitor, melainkan respons terhadap gugatan hukum class action yang baru saja didaftarkan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat di San Francisco. Gugatan tersebut mengguncang kepercayaan publik karena menuding adanya celah privasi yang memungkinkan pihak internal Meta untuk mengintip komunikasi pribadi pengguna, meski perusahaan selalu mengunggulkan fitur enkripsi end-to-end.
Isu ini menjadi sangat krusial di awal tahun 2026 karena menyangkut data miliaran pengguna yang mengandalkan WhatsApp untuk komunikasi sensitif. Serangan verbal yang dilancarkan Musk dan Durov secara bersamaan mengisyaratkan adanya keraguan mendalam terhadap transparansi Meta dalam menjaga kerahasiaan data. Perdebatan ini tidak hanya mengancam reputasi WhatsApp sebagai pemimpin pasar, tetapi juga memicu gelombang kekhawatiran baru mengenai apakah privasi digital yang sesungguhnya benar-benar ada di bawah kendali perusahaan raksasa media sosial.
Gugatan Pelanggaran Privasi

Foto: tangkapanlayar/businesstoday.in
Gugatan hukum setebal 51 halaman yang diajukan oleh kelompok penggugat dari berbagai negara, seperti Australia, India, hingga Brasil, menyebut bahwa klaim privasi WhatsApp selama ini bersifat menyesatkan. Inti dari tuduhan tersebut adalah dugaan adanya celah yang memungkinkan tim internal Meta mengakses pesan pengguna melalui sistem khusus. Berdasarkan dokumen gugatan tersebut, seorang karyawan Meta diklaim hanya perlu mengajukan permintaan kepada tim engineer untuk mendapatkan akses ke pesan WhatsApp pengguna tertentu guna menjalankan tugasnya.
Respon Tajam Elon Musk dan Bos Telegram
Foto: Teknologi.id/Algisakbar
Pavel Durov, CEO Telegram, menjadi tokoh pertama yang merespons isu ini dengan nada skeptis. Melalui unggahannya, Durov menyatakan bahwa sangat tidak masuk akal bagi siapa pun untuk mempercayai bahwa WhatsApp benar-benar aman di tahun 2026.
Bos Telegram ini mengklaim bahwa setelah menganalisis cara WhatsApp mengimplementasikan enkripsinya, tim Telegram menemukan sejumlah celah serangan yang berbahaya. Durov secara konsisten menyuarakan bahwa platform kompetitornya tersebut memiliki sejarah panjang dalam masalah kerentanan keamanan data.
Langkah Durov tersebut langsung didukung oleh Elon Musk. Pemilik platform X ini mengonfirmasi pandangan Durov dan secara tegas menyatakan bahwa WhatsApp memang tidak aman. Musk bahkan melangkah lebih jauh dengan meragukan keamanan aplikasi Signal, yang selama ini dikenal sebagai standar emas aplikasi pesan privat.
Momentum ini pun dimanfaatkan Musk untuk mempromosikan layanan miliknya sendiri, X Chat, sebagai alternatif komunikasi yang lebih terlindungi bagi pengguna yang mulai meragukan integritas platform di bawah naungan Mark Zuckerberg.
Bantahan Tegas dari Pihak WhatsApp
Foto: tangkapanlayar/X_@wcathcart
Head of WhatsApp, Will Cathcart, segera mengeluarkan bantahan resmi dan menyebut tuduhan Musk serta gugatan tersebut sepenuhnya salah. Cathcart menegaskan bahwa kunci enkripsi hanya disimpan secara lokal di ponsel pengguna, sehingga Meta tidak memiliki akses teknis untuk membuka pesan tersebut. Ia juga menyerang balik dengan menyebut gugatan ini hanya mencari perhatian media dan diajukan oleh firma hukum yang pernah membela produsen spyware Pegasus.
Juru bicara WhatsApp, Andy Stone, menambahkan bahwa protokol enkripsi Signal yang mereka gunakan sudah teruji selama satu dekade. Pihak Meta menyatakan bahwa setiap klaim yang menyebut pesan WhatsApp tidak terenkripsi adalah fiksi yang tidak berdasar. Mereka bersiap menempuh jalur hukum untuk melawan tuduhan yang dianggap merusak reputasi perusahaan tersebut.
Persaingan Keamanan di Era Digital
Kekompakan Elon Musk dan Pavel Durov dalam menyerang WhatsApp menandai ketatnya persaingan antar platform dalam memperebutkan kepercayaan privasi pengguna. Meskipun tuduhan akses internal Meta belum disertai bukti teknis yang dipublikasikan secara luas, keraguan yang dilemparkan oleh tokoh-tokoh besar ini memberikan tekanan besar bagi Meta untuk membuktikan transparansi sistem mereka.
Bagi pengguna, situasi ini menjadi pengingat bahwa tidak ada platform yang sepenuhnya kebal dari ancaman, baik dari sisi celah sistem maupun serangan pihak ketiga. Selalu memperbarui aplikasi dan berhati-hati dengan kiriman file asing tetap menjadi pertahanan terbaik dalam menjaga keamanan data pribadi di ruang digital.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(AA/ZA)