Riset Harvard Ungkap Sisi Gelap AI: Bikin Karyawan Makin Sibuk dan Stres

Algis Akbar . February 13, 2026


Foto: hbr.org

Teknologi.id - Janji bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menjadi "penyelamat" yang memangkas jam kerja tampaknya mulai retak. Alih-alih membuat karyawan bisa pulang lebih cepat atau bekerja lebih santai, laporan terbaru dari Harvard Business Review (HBR) justru mengungkap realita yang pahit: AI di kantor justru membuat kita makin sibuk, stres, dan terjebak dalam pusaran kerja tanpa henti.

Penelitian yang dilakukan oleh Berkeley Haas School of Business selama delapan bulan terhadap 200 karyawan perusahaan teknologi di AS ini membongkar fenomena yang disebut sebagai "Paradoks Produktivitas".

Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana investasi besar-besaran pada teknologi canggih ternyata tidak menghasilkan pertumbuhan output yang sebanding dengan tingkat kelelahan manusia yang mengoperasikannya. Para peneliti menemukan bahwa alih-alih memberikan ruang bernapas, teknologi justru menciptakan ekspektasi baru yang jauh lebih tinggi dan sering kali tidak realistis bagi kapasitas otak manusia.

Tiga "Jebakan" AI yang Menguras Energi


Foto: myedisi.com

Mengapa teknologi yang seharusnya mempermudah hidup kita malah menjadi beban? Studi tersebut merangkum tiga alasan utamanya:

Baca juga: Mengenal Istilah Penting dalam Artificial Intelligence yang Wajib Diketahui

  • Menjadi "Serakah" Pekerjaan Baru

Karena merasa "sakti" dibantu AI, banyak karyawan mulai mengambil tugas di luar keahlian utama mereka. Manajer produk mencoba coding; desainer mencoba analisis data.

Akibatnya, beban kerja individu membengkak karena mengerjakan hal-hal yang seharusnya didelegasikan ke ahli lain. Parahnya, hasil kerja "amatir" ini sering kali harus diperbaiki ulang oleh tim ahli, yang justru menambah beban kerja kolektif.

Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana spesialisasi menjadi kabur. Ketika semua orang merasa bisa melakukan segalanya dengan bantuan prompt, standar kualitas justru bisa menurun.

Tekanan untuk menjadi "manusia serba bisa" ini secara perlahan mengikis fokus utama karyawan pada peran inti mereka, yang pada akhirnya memicu kecemasan akan performa kerja yang tidak stabil.

  • Multitasking Ekstrem yang Melelahkan

Karyawan kini terbiasa melakukan juggling atau menangani banyak tugas sekaligus. Sambil menunggu AI menyelesaikan satu laporan, mereka mengerjakan tugas manual lainnya.

Secara visual, ini terlihat sangat produktif, namun secara mental, perpindahan konteks (context switching) yang terus-menerus ini sangat menguras energi kognitif.

Otak manusia tidak dirancang untuk berpindah dari satu tugas kompleks ke tugas lainnya dalam hitungan detik secara terus-menerus. Setiap kali kita berpindah fokus, ada "biaya peralihan" mental yang harus dibayar.

Beban yang menumpuk ini, jika dibiarkan dalam jangka panjang, akan menyebabkan penurunan daya ingat dan ketajaman analisis, membuat karyawan merasa "kosong" di akhir hari kerja.

  • Hilangnya Batas Waktu Istirahat

Sifat AI yang berbasis percakapan (chat) membuat interaksi terasa kasual. Dampaknya, batas antara waktu kerja dan pribadi menjadi kabur. Karyawan sering kali tanpa sadar terus "mengobrol" dengan AI untuk urusan kantor hingga larut malam atau dini hari, menghilangkan waktu yang seharusnya digunakan untuk memulihkan energi.

Beban Baru: Menjadi "Pengawas" Mesin

Foto: jagatreview.com

Selain tiga jebakan di atas, muncul jenis pekerjaan baru yang tak kalah melelahkan: validasi dan pengawasan.

Meskipun AI bisa menghasilkan draf dokumen atau ribuan baris kode dalam hitungan detik, manusia tetap harus melakukan pengecekan fakta dan perbaikan manual.

Proses mencari kesalahan kecil di tengah tumpukan data yang dihasilkan mesin sering kali membutuhkan ketelitian dan energi mental yang lebih besar daripada mengerjakan tugas dari nol.

Karyawan kini memikul peran baru sebagai "penjaga gerbang" kualitas. Mereka harus memastikan tidak ada halusinasi AI atau bias data yang lolos ke tangan klien.

Tanggung jawab hukum dan moral atas hasil kerja AI tetap berada di pundak manusia, sehingga tingkat kewaspadaan yang harus dijaga selama berjam-jam menjadi sumber stres baru yang sebelumnya tidak pernah ada dalam deskripsi pekerjaan tradisional.

Baca juga: Teknologi Artificial Intelligence Pertanda Kiamat Baru? Begini Kata Peneliti

Menuju Budaya Kerja yang Sehat dengan AI

Riset Harvard ini memberikan peringatan keras: jika pola kerja ini terus berlanjut tanpa regulasi atau perubahan budaya, AI justru akan mempercepat tingkat burnout di kalangan profesional.

Karyawan tidak seharusnya dipaksa bersaing dengan kecepatan pemrosesan data mesin. Pakar manajemen menyarankan agar perusahaan mulai mengalihkan fokus dari sekadar kecepatan menuju kualitas hasil akhir. Efisiensi AI hanya akan benar-benar terasa jika waktu yang dihemat digunakan untuk beristirahat atau berpikir secara strategis, bukan justru diisi dengan tumpukan tugas baru yang tidak ada habisnya.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(AA/ZA)

Share :